Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Dorongan Rasul Terhadap Penghapusan Kebodohan

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendidik dan mengajar umat manusia dalam waktu yang relatif singkat. Meski begitu, dari tangannya muncul banyak sekali kaum terpelajar. Kunci kesuksesan itu terletak pada kepiawaiannya menciptakan metode pengajaran yang menyenangkan, motivasi dan tekadnya untuk memerangi kebodohan, serta kecaman kerasnya terhadap kemalas-malasan dalam porses belajar-mengajar.

Karena alasan itu, banyak orang yang kemudian tertarik mempelajari ilmu dan mendalami agama dari beliau. Mereka saling mengajari satu sama lain, sehingga dalam waktu yang relatif singkat, kebodohan pun lenyap. Mengenai hal ini, al-Hafiz al-Mundziri dalam kitabnya at-Targhib wa at-Tarhib dan al-Hafiz al-Haitsami dalam kitab Majma' al-Zawaid meriwayatkan hadits berikut :

Dikisahkan dari al-Qamah bin Sa'ad bin Abdurrahman bin Abza, dia menerima hadits dari ayahnya, bersumber dari kakeknya Abdurrahman bin Abza radhiyallahu 'anhu sebagai berikut : suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah. Setelah memanjatkan pujian kepada Allah, Rasulullah menyinggung perihal sebagian kelompok umat Islam dan memuji mereka. Lalu Nabi bersabda, "sungguh mengherankan, suatu kaum enggan memberi pemahaman agama kepada orang lain, tidak mengajari mereka, tidak berusaha mencerdaskan mereka, tidak menganjurkan berbuat baik dan tidak mencegah mereka berbuat mungkar. Mereka juga enggan belajar dari orang lain, enggan mendalami ilmu, dan enggan meminta nasihat. Demi Allah, suatu kaum hendaknya mengajari kaum yang lain, memberi mereka pemahaman, mencerdaskan mereka, menganjurkan mereka berbuat baik dan mencegah berbuat munkar. Begitu pula, suatu kaum hendaknya belajar dari kaum lainnya, berusaha mencari pemahaman  dan meminta nasihat kepada mereka. Sebab, jika suatu kaum enggan melaksanakan anjuran-anjuran itu, sama halnya mereka mengharapkan aku menyegerakan hukuman bagi mereka di dunia"

Kemudian Rasulullah turun dari mimbar dan masuk ke dalam rumah. Para hadirin kemudian saling bertanya, "Menurut kalian, siapakah golongan yang disinggung Rasulullah dalam khutbahnya tadi?".

"Menurut kami yang dimaksud Rasulullah tadi adalah kelompok Asy'ariyyin. Mereka adalah kaum cendekia, sedangkan tetangga mereka adalah penduduk perairan dan lembah yang berperangai kasar" jawab yang lain.

Obrolan itu akhirnya sampai juga ke telinga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka bertanya, "Ya Rasulallah, mengapa Tuan memuji suatu kaum, sementara kami Tuan sebut sebagai kaum yang tidak baik? apa salah kami?"

Rasulullah menjawab, "Sungguh, hendaknya suatu kaum (yang memiliki pengetahuan) bersedia memberikan pemahaman kepada tetangganya, mencerdaskan mereka, menganjurkan berbuat baik dan mencegah mereka berbuat kemungkaran. Dan hendaknya suatu kaum (yang tak memiliki pengetahuan) bersedia belajar kepada tetangganya, mendengarkan nasihat, dan mencari pemahaman dari mereka. Jika itu tidak dilakukan, maka sama halnya mereka mengharapkanku menyegerakan hukuman bagi mereka di dunia."

Mereka bertanya, "Wahai Rasulallah, apakah kami harus berusaha mencerdaskan orang lain?"
Rasulullah mengulangi ucapan tadi, mereka pun mengulangi pertanyaan yang sama, dan Rasulullah tetap pada jawabannya.

Merek lalu mengatakan, "Berilah kami waktu setahun (untuk melaksanakannya)". Rasulullah pun memberi waktu setahun agar mereka memberikan pemahaman kepada tetangganya, mengajari dan mencerdaskan mereka. Rasulullah lalu membaca ayat ini :

"Orang-orang kafir dari Bani Israel telah mendapat laknat (dari Allah) melalui lisan Daud dan Isya putra Maryam.Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka tidak saling melarang tindakan mungkar yang bisa mereka perbuat. Sungguh amat buruk apa yang selalu mereka perbuat itu." (QS. al-Maidah : 78-79)

Melalui hadits di atas, Rasulullah ingin menekankan besarnya hak tetangga atas tetangga lain yang pandai dan berilmu karena adanya ukhuwah islamiyah. Dan hak bertetangga ini dalam Islam kedudukannya hampir sama dengan hak keluarga yang mewajibkan adanya warisan. "Jibril selalu mewasiatkanku tentang tetangga, sampai-sampai aku mengira dia akan menjadikan tetangga sebagai ahli waris."

Bertetangga itu sendiri ada beberapa tingkatan, di antarnya, tetangga yang rumahnya berdampingan dan tetangga yang bercampur, yaitu yang berkelompok berdasarkan letak masjid, sekolah, pasar dan lain sebaginya. Sementara warisan itu ada dua, yaitu materil dan non materil. Warisan materil adalah harta, sementara warisan non materil adalah ilmu. Hak tetangga atas tetangga lainnya adalah mengajari apa yang wajib dan berguna baginya. Dan sesuatu yang paling berguna adalah ilmu, dan ini merupakan salah satu hak tetangga yang paling ditekankan.

Syekh Musthafa az-Zarqa rahimahullah dalam kitabnya al-Madkhal al-Fiqhi al-'amm memberikan catatan terhadap hadits di atas sebagi berikut : "Islam menempatkan kemalasan dan kelesuan sebagai kejahatan sosial dalam proses belajar-mengajar, dan memberikan pelakunya hukuman di dunia, tindakan ini belum pernah ada tandingannya sepanjang sejarah dalam hal pengagungan terhadap ilmu pengetahuan, baik sebelum kedatangan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam maupun sesudahnya."

Meniadakan proses belajar-mengajar termasuk perbuatan mungkar karena sama artinya dengan mengabaikan perintah agama. Jika orang yang memiliki ilmu pengetahuan enggan melaksanakan kewajibannya untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain, atau orang bodoh enggan mempelajari ilmu yang wajib secara syar'i, keduanya berhak mendapat hukuman atas hal ini. Sebab, Nabi bersabda :

"Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim".

Kata "muslim" di sini mencakup kaum laki-laki dan kaum perempuan, karena sebuah hukuman itu berlaku sebab adanya kesamaan sifat. Dalam hukum kewajiban menuntut ilmu di atas, kesamaan sifat yang dimaksud adalah Islam. Demikianlah penjelasan Syekh Musthafa az-Zarqa.

Terkait hadits di atas, bisa ditambahkan penjelasan bahwa ketika Nabi mengaitkan hukum kewajiban menuntut ilmu dengan keislaman seseorang baik laki-laki maupun perempuan, sesungguhnya terdapat peringatan bahwa siapa saja yang mengaku muslim maka wajib baginya menuntut ilmu. Sebab, Islam tidak mengenal kebodohan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam ayat al-Qur'an yang pertama kali diturunkan kepada Nabi :

"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Mahamulia. (Tuhan) Yang mengajarkan dengan pena. Dia mengajari manusia apa yang tidak mereka ketahui." (QS. al-'Alaq : 1-5)

---------------------
sumber : ar-Rasul al-Mu'allim, Abdul Fattah Abu Ghuddah, hal. 13



Post a Comment for "Dorongan Rasul Terhadap Penghapusan Kebodohan"