Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah al-Hallaj Mati Dibunuh Lantaran Berpaham Sesat

Namanya al-Husain bin Manshur bin Mahma al-Hallaj Abu Mughits tetapi lebih dikenal dengan sebutan al-Hallaj. Ia meninggal pada tahun 309 H. Sampai ketika kematiannya, orang-orang masih terus berselisih mengenai pembunuhan pria ini. Para ahli fikih bersepakat untuk membunuh al-Hallaj dan ia dibunuh sebagai orang kafir yang melampaui batas. Hal ini juga menjadi pendapat sebagian besar orang-orang sufi.

Ada pula sekelompok orang yang memujinya. Mereka berkata, "Mereka telah ditipu dengan penampilan lahirnya tanpa melihat batinnya serta batin dari ucapannya. Sebab, awal mula yang dilakukannya adalah sebentuk peribadatan, penyembahan, dan budi pekerti. Namun, karena tidak memiliki ilmu serta tidak mendasarkan urusan dan keadaannya pada ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, kerusakan yang ditimbulkannya lebih banyak dari pada kebaikannya. Di antara sikap buruknya adalah pemahamannya yang menjurus pada wihdatul wujud (hululiyah). Hal ini salah satunya tercermin dalam syairnya yang berbunyi :

Ruh-Mu bersatu dengan ruhku
Sebagaimana bersatunya arak dengan air tawar
Jika sesuatu menimpaku
Ternyata Engkau adalah aku dalam setiap keadaan

Amru bin Utsman al-Makki pernah berjalan bersama al-Hallaj di salah satu lorong kota Makkah. Ketika itu Amru bin Utsman al-Makki membaca al-Qur'an dan al-Hallaj mendengar bacaannya. Setelah itu, ia berkata, "Aku juga bisa berkata seperti bacaan itu". Amru bin Utsman al-Makki pun segera meninggalkannya.

Abul Qasim al-Qusyairi menyebutkan bahwa ketika Amru bin Utsman berada di Makkah,ia pernah menemui al-Hallaj yang sedang menulis sesuatu di atas kertas. Ketika Amru bin Utsman menanyakan perihal kerta-kertas itu, al-Hallaj menjawab, "Ini adalah tulisan tandingan al-Quran". Setelah itu Amru mendo'akan keburukan untuk al-Hallaj.

Hakim Abu Umar bin Yusuf memanggil al-Hallaj setelah mendapat kitab kumpulan pernyataan al-Hallaj yang dikarang oleh para sahabatnya. Kitab itu berisi antara lain :

"Siapa saja yang kesulitan berhaji, hendaklah ia membangun sebuah rumah kecil di dalam rumahnya yang harus dijaganya dari najis dan tidak boleh dimasuki oleh seorangpun. Ketika musim haji tiba, hendaklah ia berpuasa tiga hari, lalu berthawaf di sekeliling rumah kecil tersebut sebagaimana mengitari Ka'bah.

Kemudian mengerjakan manasik haji di dalam rumahnya sebagaimana yang dikerjakan orang yang sedang melaksanakan haji di Makkah. Setelah itu hendaklah ia memanggil 30 anak yatim lalu memberi mereka makanan dari makanannya sendiri dan mengurusi hal itu sendiri. Kemudian memberi mereka pakaian berupa gamis serta memberi uang tujuh dirham -- atau berkata tiga dirham -- kepada mereka. Jika ia melakukannya, ia sama saja telah berhaji ke Makkah.

Dan sesungguhnya siapa saja yang berpuasa selama tiga hari dan tidak berbuka kecuali pada hari ke empat, itu pun dengan daun-daun andewi (sejenis tanaman selada), nilainya sama dengan puasa Ramadhan. Siapa yang shalat malam dua rakaat dari awal malam hingga akhirnya, hal itu mencukupkannya dari shalat wajib setelahnya.

Sedangkan siapa yang mengunjungi kuburan para syuhada dan kuburan orang-orang Quraisy selama sepuluh hari, di situ ia bershalawat dan berdo'a serta berpuasa, kemudian tidak berbuka kecuali hanya dengan sedikit roti yang terbuat dari gandum dan garam kasar, itu semua telah mencukupkannya dari ibadah setelah itu sepanjang umurnya"

Ketika menghadap, Hakim Abu Umar bertanya kepada al-Hallaj,"Dari mana ini semua kamu dapatkan?"

"Dari kitab al-Ikhlas, tulisan Hasan al-Bashri," jawab al-Hallaj. Hakim Abu Umar berkata lagi, "Kamu telah berdusta wahai orang yang telah halal darahnya. Kami pernah mendengar isi kitab al-Ikhlas tulisan Hasan al-Bashri ketika di Makkah, di dalamnya tidak ada sedikitpun dari itu semua"

Menantu perempuan al-Hallaj juga dihadirkan dan wanita itu menyebutkan banyak kebejatan al-Hallaj. Di antara kebejatannya adalah ia ingin memeluk menantunya ketika menantunya tertidur. Untunglah saat itu ia segera terjaga. al-Hallaj juga pernah menyuruh putrinya untuk bersujud kepadanya. Malah, putrinya itu berkata, "Apakah seorang manusia boleh bersujud kepada manusia lainnya?". Al-Hallaj berkata, "Ya, ada ilah di langit dan ada ilah di bumi"

tag : Kisah al-Hallaj Mati Dibunuh Lantaran Berpaham Sesat Wihdatul Wujud

-------------------------
sumber : Kisah-kisah Unik Islami. Hasan Ramadhan, hal. 92

Post a comment for "Kisah al-Hallaj Mati Dibunuh Lantaran Berpaham Sesat"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa