Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Kisah Anak-anak Dimakan

Pada tahun 597 H, melambungnya harga makanan pokok di Mesir berakibat pada kematian masal. Kematian hadir tak pandang bulu, baik kepada kaum fakir maupun orang kaya. "Selama satu bulan dalam setahun itu al-Adil mengafani 220.000 mayat dengan biaya darinya," tulis Syaikh Abu Syahmah dalam kitab adz-Dzail.

Orang-orang memakan anjing, mayat, dan anak-anak kecil. Kedua orang tua memanggang anak-anaknya lalu memakannya. Fenomena ini jamak terjadi di kalangan masyarakat ketika itu. Ketika anak-anak kecil dan mayat-mayat telah habis, orang yang kuat pun menyerang orang yang lemah, lalu menyembelih dan memaknnya. Hingga ada suami yang menyembelih istrinya dan memakannya. Hal ini juga menyebar di kalangan masyarakat tanpa ada pengingkaran pengaduan, bahkan satu sama lain saling memaklumi.

Pernah seorang dokter dipanggil untuk mengobati pasien, tapi begitu sampai, ia disembelih dan dimakan.

Seorang laki-laki kaya suatu saat memanggil dokter yang pandai. Ia begitu takut berjalan bersama dokter itu. Melihat si doketer, laki-laki itu pun bersedekah kepada setiap yang ia jumpai di jalan. Ia banyak berdzikir dan bertasbih kepada Allah. Dokter itu pun menjadi ragu dan mengkhayalkan hal yang tidak-tidak dari lelaki tersebut.

Meski demikian ketamakan telah menyeretnya untuk terus berjalan bersama laki-laki itu. Sampailah ia di rumah si laki-laki lalu keduanya masuk ke dalam rumah. Ternyata rumah tersebut telah hancur, dokter itu pun kembali menjadi ragu. Pemilik rumah keluar dan berkata kepada laki-laki yang bersama si dokter, "Meski dengan terlambat, anda telah datang kepada kami dengan satu buruan". Mendengarnya, si dokter segera melarikan diri, dan laki-laki itu terus mengejarnya dengan cepat, dan akhirnya setelah susah payah si dokter bisa selamat dari kejaran laki-laki itu". (al-Bidayah wa Nihayah, Ibnu Katsir)

Sungguh ini sebuah kejadian yang sangat langka, orang tua memakan anak-anak mereka. Sampai batasan ini kita belum pernah mendengar sebelumnya. Saya khawatir jikaa kisah ini hanya dilebih-lebihkan, tetapi Ibnu Katsir adalah seorang sejarawan yang jujur dan terpercaya, sehingga hanya Allah sajalah yang tahu kebenarannya.

Kepentingan kita adalah melihat realitas yang ada dan memuji kepada Allah dengan pujian yang banyak. Seorang peminta minta pada masa kita sekarang ini tidak ada yang tidur tanpa makan malam. Meskipun ada di antara mereka yang mengeluh karena kelaparan, keadaanya tidak sampai seperti yang kita baca dalam kisah di atas. Oleh karena itu, marilah kita menerima keadaan kita dan memahami perbedaan antara dua kondisi di atas. Saya berdo'a kepada Allah semoga Dia tidak membebani kita melebihi kemampuan.

---------------------
sumber : Kisah-kisah Unik Islami. Hasan Ramadhan, hal. 40

Post a Comment for "Kisah Anak-anak Dimakan"