Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Kisah Kecerdikan Iyas al-Qadhi

Iyas al-Qadhi adalah seorang Tabi'in yang terkenal dengna kecerdasannya. Ia seolah menjadi ikon kecerdasan. Pria yang memiliki nama asli Iyas bin Muawiyah ini adalah hakim di daerah Bashrah. 

Iyas bersama bapak ibunya

Suatu hari Iyas bin Mu'awiyah bertanya kepada ibunya, "Ibu, benda apakah yang ibu dengar ketika sedang mengandungku yang memiliki suara yang keras?" Ibunya menjawab, "Itu adalah baskom dari logam yang jatuh dari atas rumah. Suara itu mengagetkanku sehingga kamu langsung lahir seketika itu juga"

Ketika ibunya meninggal, beliau menangis. Ia pun berkata, "Aku memiliki dua pintu untuk masuk Syurga, namun salah satunya telah ditutup."

"Semua manusia melahirkan anak-anak, sedangkan aku melahirkan seorang bapak" ujar bapaknya.

Iyas bersama dengan teman-temannya

Ketika Iyas sedang duduk bersama rekan-rekannya, tiba-tiba Iyas melihat seorang laki-laki datang. Lelaki itu lalu duduk di atas reruntuhan bangunan toko. Setiap kali ada orang lewat, pria itu selalu melihatnya.

Iyas pun mendatangi pria tadi dan melihat wajahnya. Ia kembali dan berkata kepada teman-temannya, "Ia adalah seorang ahli fiqih di maktab. Ia sedang mencari anak laki-lakinya yang buta sebelah, yang hilang beberapa waktu lalu". Kemudian teman-temannya mendatangi laki-laki itu dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata jawabannya sama persis dengan apa yang dikatakan oleh Iyas. Lalu mereka berkata kepada Iyas, "Dari mana engkau tahu hal itu?"

"Ketika ia duduk di atas reruntuhan toko, aku mengetahui bahwa ia adalah seorang yang memiliki kekuasaan. Aku melihatnya, ternyata perbuatannya itu hanya pantas dilakukan oleh para ahli fikih maktab. Kemudian ia mulai melihat kepada setiap orang yang melewatinya, jadi aku tahu kalau ia kehilangan anak laki-lakinya. Ketika aku berdiri dan melihat wajahnya dari arah yang lain, aku tahu kalau anaknya buta sebelah" jawab Iyas panjang lebar.

Suatu hari Iyas pernah mendengar suara seorang perempuan dari dalam rumah. Beliau berkata, "Perempuan ini sedang mengandung bayi laki-laki". Ketika melahirkan ternyata wanita itu benar-benar melahirkan bayi laki-laki.

Ketika ditanya dari mana ia mengetahui hal itu, ia menjawab, "Dari suara desah nafasnya aku mengetahui kalau ia sedang hamil. Sedang dari suaranya yang dangkal, aku mengetahui kalau bayinya laki-laki"

Tiga orang wanita pernah menemui Iyas. Ketika melihat ketiganya, ia berkata, "Salah satu dari mereka sedang menyusui bayi, yang satunya masih perawan, dan yang satunya lagi seorang janda". "Dari mana engkau tahu?" tanya rekannya. 

Ia menjawab, "Wanita yang menyusui, ketika duduk ia memegang payudaranya, sedangkan wanita yang masih perawan, ketika masuk ia tidak menoleh kepada seorang pun, sedangkan wanita yang sudah janda, ia melihat dan melemparkan pandangannya".

Percakapan Iyas

Ketika masih kanak-kanak, Iyas belajar di maktab. Pada waktu itu anak-anak Nashrani menertawakan kaum muslimin. Mereka berkata, "Mereka mengira bahwa tidak ada sisa dari makanan bagi penduduk surga?". Kemudian Iyas berkata kepada gurunya. Gurunya adalah seorang Nasrani atau Yahudi (lihat wafayatul a'yan : I/248)

"Bukankah Anda juga tahu bahwa ada bagian makanan yang diserap menjadi gizi untuk badan?" tanya Iyas.

"Ya benar," jawab gurunya.

"Lalu kenapa diingkari jika Allah menjadikan makanan penghuni surga semuanya menjadi gizi untuk badan-badan mereka?" tanya Iyas.

"Sialan kamu!" gerutu gurunya.

"Apa yang beliau ucapkan dengan akalnya pada masa keci juga telah dimuat dalam sebuah hadits shahih yang akan kita sebutkan. Insya Allah pada pembahasan tentang penghuni surga bahwa makanan mereka berubah menjadi sendawa dan keringat seperti kesturi" kata Ibnu Katsir mengomentari perkataan Iyas tersebut.

al-Asma'i pernah melihat Iyas bin Mu'awiyah di rumah Tsabit al-Bannani. Kulitnya merah, tangannya panjang, bajunya tebal, dan penutup kepalanya berwarna. Ia pandai bicara, sehingga tidak ada yang dapat mengalahkannya. Sahabatnya pernah mengatakan, "Tidak ada cela pada diri Anda selain banyak bicara". Maka ia balik bertanya kepada orang itu, "Apakah kebenaran yang aku katakan atau kebatilan?" Ada yang menjawab, "bahkan kebenaran sekalipun". Iyas berkata, "Tatkala kebenaran semakin banyak maka hal itu baik". Ketika dicela tentang pakaiannya yang tebal, ia berkata, "Saya mengenakan pakaian agar ia melayaniku dan aku tidak memakai pakaian untuk melayaninya"

Suatu ketika seorang laki-laki menanyakan tentang hukum khamer yang terbuat dari anggur. Iyas menjawab, "Minuman itu haram hukumnya".

Laki-laki itu bertanya lagi, "Bagaimana hukum air?".
Beliau menjawab, "Halal".
"Kalau kurma kering?" tanya laki-laki itu lagi.
"Halal" jawab Iyas.
Laki-laki itu bertanya lagi, "Kenapa jika semua itu dicampur menjadi haram?"

Iyas balik bertanya, "Menurutmu, jika aku melemparmu dengan segenggam tanah, apakah menyakitimu?"
Laki-laki itu menjawab, "Tidak"
Iyas bertanya lagi, "Jika aku mengguyurmu dengan segayung air, apakah menyakitimu?"
Laki-laki itu menjawab, "Itu tidak menyakitiku sama sekali"
Iyas berkata, "Lalu menurutmu, jika tanah ini aku campur dengan air lalu aku biarkan hingga mengeras, kemudian aku lemparkan kepadamu, apakah menyakitimu?"
Laki-laki itu menjawab, "ya tentu, bahkan ia bisa membunuhku"

Iyas berkata, "Begitu juga dengan benda-benda yang kamu tanyakan tadi jika bercampur."

-------------------------
sumber : Kisah-kisah Unik Islami. Hasan Ramadhan, hal. 75

Post a Comment for "Kisah Kecerdikan Iyas al-Qadhi"