Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Kisah Pertaubatan Hasan al-Bashri

al-Hasan ibn Abi al-Hasan al-Basri lahir di Madinah pada 21 H (621 M), putra seorang budak yang ditawan di Maisan yang setelahnya berada di bawah perlindungan juru tulis Nabi Muhammad saw, Zaid bin Tsabit. Dibesarkan di Basrah, ia pernah bertemu sahabat-sahabat Nabi yang konon termasuk tujuh puluh orang yang bertempur di Perang Badar. Ia tumbuh menjadi salah satu tokoh paling menonjol dari generasinya. Ia dikenal karena keshalehannya yang tanpa kompromi dan kecamannya yang lantang terhadap hal-hal duniawi di hadapan para pembesar. Sementara teolog Mu'tazilah mengklaim al-Hasan sebagai pendiri gerakan mereka (dengan Amr bin Ubaid serta Washil bin Atha sebagai salah satu muridnya), hagiografi sufi menyebut-nyebut dirinya sebagai salah satu orang suci paling terkemuka dalam peradaban Islam awal. Ia meninggal dunia di Bashrah pada tahun 110 H (728 M). Hasan seorang orator brilian. Sejumlah pidato dan ucapannya sering diutip oleh penulis Arab dan sebagian besar surat-suratnya dilestarikan.

KISAH PERTAUBATAN HASAN AL BASHRI

Berikut ini kisah pertaubatan Hasan al-Bahshri. Dulunya ia bekerja sebagai pedagang permata dan dijuluki 'Hasan si penjual Mutiara'. Ia berdagang dengan Bizantium, dan harus berhubungan dengan para jenderal serta menteri menteri kaisar. Pada satu kesempatan ketika pergi ke Bizantium, ia mengunjungi perdana menteri dan berbincang dengannya sejenak. 

"Kita akan pergi ke suatu tempat," kata sang menteri, "Kalau engkau setuju".

"Kalau engkau bilang begitu" jawab Hasan, "Aku ikut saja". 

Maka, menteri memerintahkan agar seekor kuda dibawakan untuk Hasan. Ia menungganginya bersama sang menteri, dan mereka pun berangkat. Begitu mereka tiba di gurun, Hasan melihat tenda yang terbuat dari Brokat Bizantium, diikat dengan tali sutera serta pasak emas, dipancangkan dengan kokoh di tanah. Ia berdiri di kejauhan. Kemudian, sepasukan tentara perkasa semuanya membawa persenjataan perang lengkap datang ; mereka mengitari tenda dan mengucapkan beberapa patah kata, kemudian pergi. Rombongan filsuf dan cendekiawan yang jumlahnya mencapai 400 orang pun tiba ; mereka mengitari tenda, mengucapkan beberapa patah kata, dan pergi. Setelah itu, 300 orang tua bijaksana dengan jenggot putih mendekati tenda, mengitarinya, mengucapkan beberapa patah kata, dan pergi. Lalu lebih dari 200 gadis secantik bulan, masing-masing membawa nampan berisi emas dan perak serta batu mutiara, mengitari tenda, mengatakan beberapa patah kata, dan pergi. 

Hasan mengisahkan bahwa, dalam keadaan terpana dan terheran-heran, ia menanyakan apa arti ini semua.

"Begitu kami turun dari kuda" lanjutnya, "Aku menanyai sang Menteri. Dia berkata bahwa kaisar memiliki seorang putera yang kerupawanannya tak terkalahkan, sempurna dalam segala cabang pembelajaran, dan tak tertandingi dalam arena keperkasaan. Ayahnya mencintainya dengan sepenuh hati"

Sekonyong-konyong sang pangeran jatuh sakit -- demikian penuturan sang menteri kepada hasan. Semua dokter terlatih terbukti tak berdaya menyembuhkannya. Akhirnya pangeran meninggal, dan dikuburkan di dalam tenda itu. Setiap setahun sekali, orang-orang datang untuk menziarahinya. Pertama-tama, sepasukan tentara mengelilingi tenda, dan mereka berkata, "Wahai pangeran, jika malapetaka yang menimpamu ini terjadi dalam perang, kami bersedia mengorbankan hidup kami demi dirimu, untuk menebusmu kembali. Tetapi keadaan ini terjadi karena satu Zat yang tidak bisa kami lawan, yang tidak dapat kami tentang."

Setelah mengatakan ini, mereka pun pergi. 

Para filsuf dan cendekiawan maju dan berkata, "Keadaan ini ditimpakan atasmu oleh Dzat yang tidak bisa kami lawan dengan pembelajaran dan filsafat, ilmu pengetahuan muslihat. Karena semua filsuf di Dunia ini tidak berdaya di depan-Nya, dan semua kaum cerdik pandai hanya orang bodoh dihadapan pegetahuan-Nya. Kalau tidak, tentu kami sudah akan menciptakan perangkap dan dalil yang tidak mungkin dilawan semua ciptaan."

Setelah mengatakannya, mereka pun pergi. Berikutnya para petua yang mulia pun maju, dan berkata, "Wahai pangeran, jika keadaan yang menimpamu ini bisa dicegah dengan campur tangan para tetua, kami semua akan mencegahnya dengan do'a-do'a kami yang sederhana ini, dan tidak akan meninggalkanmu di sana. Tetapi keadaan ini telah diberlakukan atasmu oleh Dzat yang tak bisa dicegah oleh manusia fana."

Setelah mengataknnya mereka pun pergi. Sekarang giliran para gadis cantik dengan nampan berisi emas dan batu mulia melangkah kedepan, mengitari tenda dan berkata, "Putra kaisar, jika keadaan yang menimpamu ini bisa ditebus oleh kekayaan dan kecantikan, kami akan mengorbankan diri kami sendiri dan memberikan sejumlah besar harta ini untuk menebus mu dan tidak akan meninggalkanmu. Tetapi keadaan ini telah diberlakukan atasmu oleh Dzat yang tidak bisa dipengaruhi oleh kekayaan dan kecantikan". Setelah mengatakannya mereka pun pergi.

Kemudian kaisar sendiri, didampingi perdana menteri memasuki tenda dan berkata, "Wahai mata dan cahaya ayahanda, wahai buah hati ayah, wahai kesayangan ayahanda, apa yang dapat ayahanda perbuat? Ayahanda datang membawa sepasukan tentara perkasa, filsuf dan cendekiawan, pemberi syafaat dan penasihat, gadis-gadis cantik, kekayaan dan segala macam kemewahan. Ayahanda sendiri pun datang. Andai kata semua ini ada gunanya, Ayahanda akan melakukan segala hal yang dapat ayahanda lakukan. Tetapi keadaan ini diberlakukan atasmu oleh satu  Dzat yang dihadapan-Nya ayahmu bersama semua aparat ini, pasukan dan pengiring ini, kemewahan dan kekayaan dan harta ini, sama sekali tidak berdaya. Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu, sampai jumpa tahun depan!"
Setelah mengataknnya kaisar pun pergi.

Kata-kata menteri begitu mempengaruhi hasan sampai-sampai ia tidak dapat menguasai emosi. Seketika itu pula ia membuat pengaturan untuk pulang. Begitu tiba di Basrah, ia mengambil sumpah untuk tidak pernah lagi tertawa di Dunia ini, sampai tujuan akhirnya menjadi jelas. Ia menenggelamkan diri dalam segala macam ibadah, dan menjalani hidup prihatin, sehingga tidak ada orang pada masanya yang bisa melebihi kedisiplinannya. 


tag : kisah pertaubatan Hasan al-Bashri, kisah biografi hasan al bashri.


----------------------------------
sumber : Tadkiratul Auliya. Fariduddin Attar, hal. 2

Post a Comment for "Kisah Pertaubatan Hasan al-Bashri"