Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Sedekah Luar Biasa Ibnul Mubarak



Ibnul Mubarak memiliki modal sebesar 400.000 dinar untuk usaha dagangnya. Ketika berkumpul dengan seorang alim, beliau akan berbuat baik kepadanya. Keuntungannya dalam setahun bisa mencapai 100.000 dinar. Namun, semua keuntungannya tersebut beliau infakkan kepada para ahli ibadah, orang-orang zuhud, dan orang-orang alim.

"Aku pernah melihat amalan Ibnul Mubarak dan amalan para sahabat. Tidak ada yang mengungguli beliau selain karena mereka adalah sahabat Rasulullah." ujar Sufyan bin 'Uyainah.

Berbeda lagi pendapat Ismail bin Iyasy, "Di muka bumi ini, tidak ada orang yang semisal dengan Ibnul Mubarak. Setiap jenis kebaikan, pasti ada pada diri Ibnul Mubarak. Kata teman-temanku, saat mereka menemani Ibnul Mubarak dari Mesir ke Makkah, beliau memberi mereka makan berupa manisan, sedangkan beliau sendiri selalu berpuasa"

Suatu ketika beliau pernah mengadakan ibadah haji bersama rombongan. Sesampainya di satu daerah, seekor burung yang mereka bawa mati. Abdullah bin Mubarak pun menyuruh untuk membuangnya di tempat sampah yang ada di situ. Ketika para sahabatnya telah berjalan di depan, beliau melihat seorang anak yang mengambil bangkai itu kemudian lari masuk rumah. Ibnul Mubarak mendatanginya dan menanyakan keadaannya. Ia tanyakan juga untuk apa ia mengambil bangkai burung itu. Anak perempuan itu menjawab, "Saya dan saudara saya di rumah ini tidak memiliki sesuatu pun selain sarung ini. Kami makan apa yang dilemparkan orang ke tempat sampah itu. Sejak beberapa hari yang lalu, bangkai telah menjadi halal bagi kami. Bapak kami sebenarnya berhata, namun ia dizalimi. Hartanya diambil dan ia dibunuh."

Saat itu Ibnul Mubarak langsung memberikan barang-barang yang dibawanya. Lantas ia berkata kepada wakilnya, "Berapa uang yang ada pada Anda?" wakilnya menjawab, "1000 dinar". Lalu beliau berkata, "Ambillah 20 dinar untuk mencukupi kita sampai di Marwa dan berikan sisanya kepada anak perempuan itu. Perbuatan ini lebih utama dari haji kita pada tahun ini". Setelah itu beliau pulang ke daerahnya.

Ketika hendak menunaikan ibadah haji, Ibnul Mubarak berkata kepada para sahabatnya, "Siapa saja yang hendak berhaji pada tahun ini, silakan datang dengan membawa biayanya agar saya yang mengaturnya untuknya nanti. Beliau akan mengambil biaya-biaya yang mereka bawa, menuliskan nama pemiliknya pada setiap kantong, kemudian mengumpulkannya di sebuah kotak.

Setelah itu beliau berangkat bersama dengan menggunakan kendaraan yang paling bagus. Beliau berlaku baik dan mempermudah urusan mereka. Bila telah selesai berhaji, beliau berkata kepada mereka, "Apakah keluarga kalian memesan hadiah untuk kalian belikan disini?". Mereka pun membeli hadiah yang dipesan oleh keluarga mereka masing-masing, baik yang dibuat di Makkah, Yaman, atau selainnya. Jika mereka sampai di kota Madinah, beliau juga membelikan hadiah untuk mereka di kota tersebut.

Sekembalinya dari sana, ditengah perjalanan beliau mengutus orang untuk memperbaiki rumah mereka, mengecat dan membersihkannya. Jika telah sampai di kampung, beliau membuat suatu pesta. Seluruh anggota rombongan akan dijamu dan diberi pakaian bagus. Setelah itu, beliau menyuruh seseorang untuk mengambil kotak dan masing-masing orang diperintahkan untuk mengambil kantong biaya naik hajinya.

Bekal makanannya pernah dibawa di atas punggung seekor unta sendirian, sedangkan di dalamnya terdapat berbagai jenis makanan. Beliau memberikan itu semua kepada orang-orang untuk dimakan, sedangkan beliau sendiri berpuasa di bawah sengatan panas.

Suatu ketika seorang pengemis yang meminta-minta kepadanya. Beliau memberinya satu dirham. Salah seorang sahabatnya berkata, "Sesungguhnya mereka hanya makan daging bakar dan falludzaj. Setengah dirham saja cukup bagi mereka". Lalu Ibnul Mubarak berkata, "Demi Allah, aku mengira ia hanya makan sayuran dan roti saja. Bila mereka makan Falludzaj dan daging panggang, tentu uang satu dirham saja tidak cukup". Beliau pun memerintahkan salah seorang pembantunya untuk memberi uang 10 dirham.

Lihatlah, apakah Ibnul Mubarak termasuk orang yang berlebih-lebihan? Sebagian orang --khususnya orang-orang kaya-- terkadang menganggap hal itu sebagai suatu pemborosan. Hal itu karena kita sekarang ini tidak berada di tengah masyarakat yang mencela kebakhilan. Kita terkadang mendidik diri kita untuk bakhil dan menyuruh orang untuk bakhil juga. Terkadang kita merasa sangat berat memberikan sesuatu kepada seseorang, meskipun yang akan kita berikan itu uang dari orang lain.

Dulu, mereka dicela karena banyaknya berinfak. Tapi, celaan itu telah dibantah dalam Tafsir Qurthubi :

"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian" (al-Furqan : 67).

Ibnu Abbas ra. berkata, "Siapa yang membelanjakan hartanya seratus ribu dinar dalam kebenaran, hal itu bukan suatu pemborosan. Sedangkan siapa yang membelanjakan satu dirham hartanya bukan pada haknya, hal itu adalah pemborosan. Siapa yang menghalangi hak yang harus ia penuhi, berarti ia telah kikir"

Umar bin al-Khattab ra. berkata tentang pemborosan, "Cukuplah seseorang dikatakan boros ketika ia menginginkan sesuatu ia langsung memebelinya, lalu memakannya"

Begitulah, sudah jelas bagi kita kehidupan dan ucapan-ucapan orang-orang mulia itu tentang makna pemborosan.

tag : kisah sedekah luar biasa abdullah bin mubarak, kisah abdullah bin mubarak pergi haji dan bersedekah, kisah kedermawanan Abdullah bin Mubarak, kisah ulama yang kaya dan banyak bersedekah, kisah kekayaan ibnul mubarak dan sedekahnya

--------------------------
sumber : Kisah-kisah Unik Islami. Hasan Ramadhan, hal. 104

Post a comment for "Kisah Sedekah Luar Biasa Ibnul Mubarak"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa