Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Kisah Umar bin Abdul Aziz Menangis Ketika Mendapat Amanah Menjadi Khalifah

Pada suatu hari, istrinya pernah menemuinya. Ketika itu sang suami sedang duduk di dalam tempat shalatnya. Ia meletakkan pipinya di atas tangannya. Air matanya mengalir di wajahnya. "Ada apa dengan Anda?" tanya istrinya. Ia menjawab, "Aku ditunjuk untuk mengurusi umat ini. Aku selalu berfikir tentang orang fakir yang lapar, orang sakit yang tidak diperhatikan, orang telanjang yang kesulitan, anak yatim yang terpisah, janda yang sendirian, dan orang terdzalimi yang dipaksa.

aku juga memikirkan orang asing dan tawanan, orang tua, orang yang memiliki banyak keluarga sedangkan hartanya sedikit. Juga orang-orang semisal mereka di belahan-belahan bumi dan ujung-ujung negeri. Kemudian aku juga mengetahui bahwa Allah akan menanyaiku tentang mereka semua pada hari kiamat. Sedangkan lawan bicaraku yang akan membela mereka adalah Muhammad saw. Hal itu membuatku takut. Aku khawatir alasanku tidak diterima ketika berbicara dengannya. Aku menangis karena aku kasihan terhadap diriku sendiri"

Beliau pernah mengutus seorang pembantunya untuk memanggangkan sepotong daging. Tak berselang lama pembantu itu datang sambil membawa daging panggang. "Dimana kamu memanggangnya?" tanyanya. Pembantu itu menjawab, "Di dapur".

Beliau bertanya lagi, "Di dapur milik kaum muslimin?"
Pembantu menjawab, "Ya".
"Makanlah daging panggang itu karena aku tidak diberi rezeki dengannya. Ia menjadi rezekimu" tuturnya.

Mereka juga pernah menghangatkan air untuk beliau di dapur umum, lalu beliau membayar harga kayunya dengan uang satu dirham.

Beliau mempunyai sebuah lampu penerang yang dinyalakan ketika menuliskan kebutuhan-kebutuhan pribadinya dan lampu milik baitul mal yang dinyalakan ketika sedang menuliskan kemaslahatan-kemaslahatan kaum muslimin. Beliau tidak pernah menuliskan satu huruf pun untuk kepentingan pribadinya dengan memanfaatkan lampu tersebut.

Seorang kerabatnya pernah memberi hadiah sebiji apel. Pada saat itu beliau hanya mencium baunya kemudian mengembalikannya kepada utusan yang menyampaikan hadiah tersebut. "Katakan kepada tuanmu bahwa kamu telah menyampaikan tempatnya"

Utusan itu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Rasulullah juga menerima hadiah. Bukankah orang yang memberi hadiah ini adalah seorang kerabat Anda?". Beliau menjawab, "Sesungguhnya hadiah yang diberikan kepada Rasulullah menjadi hadiah bagi beliau, Adapun bagi kita, itu termasuk suap"

Beliau meluaskan gaji para pegawainya. Gaji pegawainya berkisar antara seratus sampai dua ratus dinar sebulan. Beliau berpikir jika mereka dalam kecukupan, mereka akan fokus hanya mengurusi urusan-urusan kaum muslimin.

Masyarakat pada saat itu banyak yang bertanya, "Mengapa Anda tidak memberi nafkah kepada keluarga Anda sebagaimana Anda memberi gaji kepada para pegawai Anda?". Beliau menjawab, "Aku tidak pernah menghalangi yang menjadi hak mereka, namun aku juga tidak memberi mereka dengan sesuatu yang bukan hak mereka"

Pendapatannya sebelum menjabat sebagai khalifah adalah 40.000 dinar per tahun. Setelah menjabat sebagai khalifah, pendapatannya tinggal 400 dinar per tahun. Setelah menjadi khalifah beliau juga mengembalikan barang-barang perlengkapan milik Fathimah ke baitul mal.

Sebelum menjadi khalifah, ketika diberi baju yang halus, beliau mengatakan "Alangkah bagusnya baju ini seandainya kainnya tidak kasar". Namun, setelah menjabat sebagai khalifah, beliau hanya mengenakan jubah tebal dan kasar yang dicuci setelah kotor sekali. Beliau berkata, "Alangkah bagusnya jubah ini jika saja tidak halus"

Di mana sikap ini sekarang? Di mana Umar bin Abdul Aziz abad ini?

------------------------
sumber : Kisah-kisah Unik Islami. Hasan Ramadhan, hal. 101


Post a Comment for "Kisah Umar bin Abdul Aziz Menangis Ketika Mendapat Amanah Menjadi Khalifah"