Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Pahala Memberi Nafkah Kepada Istri dan Anak

Belanja yang diberikan oleh seorang suami itu punya pengaruh besar terhadap proses pendidikan keluarga. Apalagi jika mengikuti petunjuk syarita ; tidak boros, tidak boleh berlebih-lebihan, atau sebaliknya, tidak kikir. Sejak dini, anak-anak pun sudah harus dididik bagaimana mempergunakan uang dengan baik.

Banyak hadits yang memberikan motivasi agar suami memberi nafkah kepada keluarganya. Diantaranya adalah :

Pertama : Sabda Rasulullah saw. 

"Dinar yang diberikan di jalan Allah, atau untuk membebaskan budak, atau untuk dishadaqahkan kepada orang miskin atau untuk nafkah keluarga, pahalanya lebih besar yang diberikan sebagai nafkah keluarga" (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Kedua : Sabda Rasulullah saw.

"Sesungguhnya apapun yang engkau berikan sebagai nafkah kepada keluargamu maka kamu akan diberi pahala, hingga sesuap makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu" (HR. Ahmad)

Ketiga : Abu Hurairah bertanya,

"Ya Rasulallah, shadaqah apakah yang paling utama?" Rasulullah menjawab,
"Jeripayahnya orang miskin dan mendahulukan (pemberian nafkah) kepada orang yang menjadi tanggungannya" (HR. Ahmad)

Keempat : Sabda Rasulullah saw.

"Makanan yang kamu berikan untuk dirimu sendiri itu adalah shadaqah bagimu, makanan yang kamu berikan kepada anak, istri dan pemabantu juga shadaqah bagimu" (HR. Ahmad)

Kelima : Sabda Rasulullah saw.

"Jika salah seorang diantara kalian mati lantaran susah dan sedih, di sisi Allah lebih baik dari seribu sabetan pedang di jalan Allah" (HR. Abu Hanifah dari Ibnu Abbas)

Keenam : Sabda Rasulullah saw.

"Barangsiapa mati lantaran bekerja untuk mencari harta halal maka mati dalam keadaan diampuni dosanya" (HR Ibnu Asakir dari Anas)

Ketujuh : Bahkan khalifah Umar tidak ingin anak-anaknya memanfaatkan jabatannya sebagai kepala negara. Mereka harus bekerja sendiri untuk mencukupi kebutuhan keluarga, bukan mengharapkan jatah dari pemerintah, mentang-mentang ayahnya seorang khalifah.

HIngga pada suatu hari, di sebuah gang kota Madinah, beliau melihat anak perempuan kecil dalam keadaan memelas, berdiri dan duduk di depan beliau.

"Kasihan sekali. Anak siapa ini?" Tanya beliau. 
"Ini anak saya, cucu anda sendiri" kata Ibnu Umar. 
"Kenapa?" tanya Umar. 
"Habis, bapak tidak mau memberi apa yang Bapa miliki", jawab Ibnu Umar
"Kalau saya tidak mau memberi, apakah kamu tidak bisa bekerja seperti orang lain bekerja untuk anak-anaknya? Demi Allah apa yang menjadi milikmu di sisiku tidak beda dengan apa yang menjadi milik orang muslim lainnya. Toh di antara kita ada Kitabullah". 

Namun, tidak salah jika ada seorang istri kaya dan berharta bersedia memberikan nafkah kepada suami dan anak-anaknya. Hal itu sah dan mendapatkan pahala.

Seusai shalat subuh, Rasulullah saw. berbicara kepada para wanita yang datang di masjid. Beliau menyatakan bahwa kebanyakan ahli neraka adalah kaum wanita. lalu beliau memberi jalan keluarnya, yaitu wanita harus banyak ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah semampunya.

Kebetulan salah seorang yang hadir adalah Zaenab, istri Ibnu Mas'ud. Usai mendengarkan nasihat Rasulullah, Zaenab langsung pulang mau mengambill perhiasannya untuk dishadaqahkan.

"Mau kemana kamu membawa perhiasan itu?" tanya Ibnu Mas'ud
Lalu diceritakannya apa yang barusaja didengar dari Rasulullah saw.
"Sudah, sini saja shadaqahkan untuk saya dan anak-anak" Lanjut Ibnu Mas'ud
"Tidak, saya harus menghadap Rasulullah dulu" jawab istrinya.

Ia pun menghadap Rasulullah saw. dan  berkata, "Ya Rasulallah, tadi saya mendengar nasihat engkau. Saya langsung pulang dan mengambil perhiasan ini. Saya katakan kepada Ibnu Mas'ud (suaminya) bahwa perhiasan ini saya ambil untuk saya gunakan mendekatkan diri kepada Allah dan kepada engkau. Mudah-mudahan Allah tidak menjadikan saya sebagai penghuni neraka. Namun suami saya meminta agar ini saya shadaqahkan saja untuknya dan untuk anak-anak. Kata suami saya, mereka pun tempat untuk bershadaqah"

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Shadaqahkan saja untuknya dan untuk anak-anak kalian karena (benar) mereka pun tempat untuk bershadaqah". Dalam riwayat lain beliau menambahkan, "Keduanya (bahkan) memperoleh dua pahala, pahala keluarga dan pahala bersedekah".

------------------------
sumber : Cara Nabi Mendidik Anak. Ir. Muhammad Ibn Abdul Hafidz Suwaid, hal. 13

Post a Comment for "Pahala Memberi Nafkah Kepada Istri dan Anak"