Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Petunjuk Hadits Bahwa Rasulullah Adalah Seorang Guru Yang Bijak Nan Pandai


Beberapa hadits juga menetapkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah seorang guru yang bijak, dan merupakan figur manusia yang pandai. Diantaranya adalah hadits-hadits berikut ini :


  • Ibnu Majah dalam sunannya dan Darimi juga dalam suannya, meriwayatkan - dengan redaksi Ibnu Majah - kisah dari Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu 'anhu sebagai berikut, "Suatu hari Rasulullah keluar dari salah satu biliknya menuju masjid. Di dalam masjid itu dia mendapati dua kelompok orang. kelompok pertama adalah golongan orang yang sedang membaca al-Qur'an dan bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta'ala, sedangkan kelompok kedua adalah sekumpulan orang yang sedang sibuk mempelajari ilmu pengetahuan. Nabi lalu berujar, 'keduanya berada dalam kebaikan. kelompok yang sedang membaca al-Qur'an dan berdo'a kepada Allah, jika Allah berkehendak Dia akan mengabulkan. Begitu pun sebaliknya, Dia tidak akan mengabulkan doa mereka jika Dia tidak berkenan menerimanya. Adapun kelompok yang sedang sibuk belajar-mengajar itu, ketahuilah, sesungguhnya aku diutus sebagai seorang guru'. Kemudian Rasulullah ikut bergabung bersama mereka."

Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai seorang guru dan pendidik. Ia membimbing bangsa Arab yang memiliki sifat dan karakter yang kasar, dan berinteraksi dengan baik, hingga akhirnya mereka tunduk pada Rasulullah dan selalu mengikuti perintahnya. Mereka mau mengikuti peperangan baik dengan kehadiran Rasulullah maupun tidak. Beliaulah orang paling mulia, melebihi orang tua dan kerabat mereka. Mereka mengutamakannya di atas diri mereka sendiri, rela berhijrah meninggalkan orang-orang tercinta, kampung halaman, sanak keluarga dan sahabat karena taat dan mengharap keridhaan beliau.


Semua itu rela mereka lakukan demi beliau, meski Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mengajari mereka satu tulisan atau bacaan pun. Apa lagi mengkaji buku-buku dan ilmu pengetahuan dari para pendidik terdahulu. Hal itu sangat lumrah, karena siapa pun yang mengenal Rasulullah akalnya akan dengan sendirinya menerima bahwa beliau adalah seorang guru utama dan Nabi utusan Allah.

Mengenai kondisi bangsa Arab pada waktu itu, Carlyle mengungkapkan, "Mereka adalah bangsa yang melakukan perjalanan di padang pasir, bangsa yang luput dari perhatian selama berabad-abad. Ketika datang kepada mereka seorang nabi dari bangsa Arab, mereka menjadi pusat perhatian dalam berbagai ilmu dan pengetahuan, jumlah mereka bertambah banyak, dan menjadi bangsa mulia. Tidak sampai satu abad, seluruh penjuru dunia tercerahkan oleh kepandaian dan ilmu mereka.".


  • Muslim dalam kitab shahih-nya (bab perceraian), meriwayatkan proses yang dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam memilih istri-istrinya. Perempuan pertama yang dia pilih adalah Aisyah, dan Aisyah pun menginginkannya. Mengetahui hal itu, dia meminta agar Rasulullah tidak memberi tahu perempuan lain. Rasul pun menjawab, "Sesungguhnya Allah tidak mengutusku untuk menjadi orang yang menyusahkan dan merendahkan orang lain. Tetapi Dia mengutusku sebagai seorang guru dan pemberi kemudahan."

Imam Ghazali menjelaskan bahwa di balik jawaban samar Rasulullah di atas, yaitu tidak menjawab pertanyaan Aisyah dengan tegas dan tidak membentaknya, terdapat pelajaran bahwa salah satu seni mengajar adalah seorang guru boleh menegur muridnya ketika melakukan akhlak tercela dengan lemah lembut, sindiran halus, tidak menggunakan cara frontal, serta dilakukan dengan penuh kasih sayang tanpa celaan. Sebab, mencela secara terang-terangan akan merusak wibawa, memunculkan keberanian murid untuk memberontak, dan membuat mereka enggan belajar. Demikian dikatakan al-Manaawi dalam kitab Fi Faidh al-Qadhir, 2:573

  • Muslim juga meriwayatkan kisah dari Mu'awiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiyallahu 'anhu sebagai berikut : ketika aku sedang shalat bersama Rasulullah, seseorang di antara kami bersin. Aku menjawab, "Yarhamukallah (semoga Allah mengasihimu)". Mendengar itu, orang-orang melemparkan pandangan ke arahku. Aku pun berucap, "Alangkah celakanya aku! Mengapa saudara-saudaraku memandangku seperti itu?" Lalu (salah seorang di antara) mereka menepukkan tangannya ke atas paha sebagai isyarat agar aku diam. Maka aku pun diam. Ketika Rasulullah selesai menunaikan shalat, beliau memanggilku (untuk menasihiati). Demi ayah ibuku sebagai tebusan, aku tidak pernah melihat seorang guru, baik sebelum maupun sesudah beliau, yang lebih baik dari pada beliau. Demi Allah, dia tidak membentakku, tidak memukulku, tidak pula mencelaku. Tetapi beliau menasihatiku (dengan santun), "Sesungguhnya di dalam shalat tidak dibenarkan mengucapkan suatu perkataan, kecuali tasbih, takbir dan bacaan al-Qur'an"
Artinya, yang boleh dibaca ketika shalat hanyalah takbir, alhamdulillah (pujian bagi Allah), bacaan al-Qur'an, tasbih, tasyahud, dan do'a, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain. Adapun ucapan selain itu tidaklah dibolehkan. Oleh karena itu, tidaklah diperbolehkan menyuruh diam orang yang bersin, menjawab salam, atau menjawab pertanyaan, karena semua itu merupakan perkataan yang membatalkan shalat.

Hadits ini menjelaskan betapa agungnya budi pekerti Rasulullah, sifatnya yang lemah lembut kepada orang yang tidak tahu, serta kasih sayang dan sikap welas asihnya terhadap umat. Di dalamnya terdapat teladan budi pekerti Rasulullah dalam bersikap, yaitu berlemah lembut terhadap orang yang bodoh, mengerti cara mengajar terbaik untuk mereka, lalu menyampaikan kebenaran kepadanya. Demikian penjelasan Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Syarh Shahih Muslim 5:20

------------------------
sumber : Muhammad Sang Guru. Abdul Fattah Abu Ghuddah, hal. 5





Post a Comment for "Petunjuk Hadits Bahwa Rasulullah Adalah Seorang Guru Yang Bijak Nan Pandai"