Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sifat-Sifat Pendidik Seperti Rasulullah

Menjadi Pendidik Seperti Rasulullah

Memang tidak ada manusia sempurna selain Rasulullah saw. Namun orang tua harus berusaha memiliki sifat-sifat terpuji agar bisa dijadikan teladan bagi anak-anaknya. semakin baik sifat orang tua sebagai pendidik, semakin dekat tingkat keberhasilannya dalam mendidik anak. Berikut ini adalah sifat-sifat yang harus disanding oleh pendidik sukses :

a.) Penyabar dan Tidak Pemarah

Dua sifat ini, yakni penyabar dan tidak pemarah, menurut Rasulullah saw. adalah yang dicintai oleh Allah swt. (HR. Muslim dari Ibnu Abbas). Berkenaan dengan sifat ini ada sebuah kejadian menarik yang diceritakan oleh Abdullah Ibnu Thahir. "Pada suatu hari," kata Abdullah bercerita, "Saya bersama al-Makmun (seorang khalifah Bani Abbasyiah), lalu beliau memanggil pelayannya, "Ghulam!" tidak dijawab, "Ghulam!" kedua kalinya pun tidak dijawab, lalu dipanggil yang ketika kalinya barulah seorang pelayan laki-laki muda keluar sambil berkata, "Apakah seorang pelayan tidak berhak makan dan minum? bukankah saya baru saja melayani anda, kenapa dipanggil-panggil lagi?". Mendengar bicara pelayannya itu al-Makmun lama tertunduk. Saya curiga jangan-jangan al-Makmun akan memerintahkan saya untuk memenggal leher pelayannya itu. kemudian dia mengangkat kepalanya dan memandang saya, "wahai Abdullah," ujarnya, "Jika ada majikan yang baik, justru pelayannya buruk. Tapi saya tidak mau berperilaku buruk untuk memperbaiki perilaku pembantu saya"

b.) Lemah-lembut dan Menghindari Kekerasan

Rasulullah saw. bersabda, "Allah itu Maha Lemah Lembut, cinta kelemah-lembutan. Diberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan kepada kekerasan dan kepada selainnya. (HR. Muslim dari Aisyah)

Sabda yang lain, "Tidaklah kelemah-lembutan itu terdapat pada sesuatu melainkan akan membuat indah, dan ketiadaannya dari sesuatu akan menyebabkannya menjadi buruk"

Sifat demikian juga telah ditunjukkan oleh para salafus shalih dalam bermuamalah. Di antaranya adalah kejadian yang pernah dialami oleh budak lelaki Imam Zainal Abidin (cicit sayyidina Ali)

Pada suatu hari budak itu menuangkan air minum ke gelas minumnya Imam Ali Zainal Abidin dari poci yang terbuat dari porselin. Tiba-tiba poci itu jatuh dan mengenai kaki sang Imam hingga berdarah. Buru-buru pelayan itu berkata, "wahai Tuan, Allah telah berfiman, 'Dan mereka itu adalah orang-orang yang bisa menahan kemarahan'." Mendengar itu beliau berkata, "Ya, saya tahan kemarahan saya".

"Dan (juga) pemaaf kepada manusia" kata budak itu membaca lanjutan firman Allah tadi, "Ya, saya pun telah memaafkanmu" kata Imam Zainal Abidin.

"Dan Allah mencitai orang-oranga yang berbuat kebajikan" lanjut budak itu menyempurnakan bunyi firman-Nya. "Sudah kamu saya merdekakan karena Allah" kata Imam Zainal Abidin.

c.) Hatinya Penuh Rasa Kasih Sayang

Sulaiman Malik Ibnu al-Huwairits pernah tinggal (untuk nyantri) bersama Rasulullah saw. dengan teman-teman sebayanya selama dua puluh malam. "kami dapati beliau sebagai seorang yang sangat penyayang dan pengasih" cerita al-Huwairits."Setelah beliau melihat bahwa kami sudah rindu kepada keluarga, beliau bertanya tentang siapa saja orang-orang yang kami tinggalkan di rumah. Kami pun memberitahukannya. Lalu, kami diperintahkan agar pulang."

Beliau menasihati, "Pulanglah kepada keluarga kalian, tinggallah bersama mereka, ajari mereka, berbuat baiklah kepada mereka, dan shalatlah kamu seperti ini di waktu demikian, shalatlah begini di saat demikian! Jika tiba waktu shalat, salah seorang harus adzan dan yang paling tua menjadi imam"

Rasulullah saw. bersabda, 

"Sesungguhnya setiap pohon itu berbuah. Buah hati adalah anak. Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak sayang kepada anaknya. Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, tidak akan masuk syurga kecuali orang yang bersifat penyayang."

Seorang sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, setiap kita bisa menyayangi" Rasulullah menjawab, 

"Kasih sayang itu bukan (terbatas) seorang menyayangi kawannya, namun kasih sayang untuk semua manusia" (HR. Ibnu Bazzar dari Ibnu Umar)

d.) Memilih Yang Termudah di Antara Dua Perkara Selagi Tidak Berdosa

Asiyah berkata, "Tidaklah dihadapkan kepada Rasulullah antara dua perkara melainkan akan dipiihnya perkara yang paling mudah selama hal itu tidak berdosa. Jika itu berdosa beliaulah orang yang paling jauh meninggalkannya. Dan, beliau tidak mendendam sama sekali terhadap dirinya kecuali jika dirinya melanggar larangan Allah, maka beliau akan menghukum dirinya sendiri karena Allah" (Muttafaq 'alaih)

e.) Fleksibel

Bukan fleksibilitas yang berarti lemah dan kendor sama sekali, melainkan sikap fleksibel dan mudah yang tetap berada di dalam koridor syariah. Rasulullah saw. bersabda, "Maukah kuberitahukan terhadap siapakah api neraka itu diharamkan atau siapakah yang diharamkan dari neraka?" beliau menerangkan, 

"Neraka itu diharamkan terhadap orang yang dekat, sedang, fleksibel dan mudah" (Diriwayatkan oleh al-Kharaithi, Ahmad dan Thabrani no. 938)

f.) Tidak Emosional (Suka Marah)

Dalam pendidikan, sifat pemarah dan emosional harus dijauhi. Sifat demikian bahkan menjadi faktor kegagalan dalam pendidikan anak. Maka ketika ada orang yang meminta kepada Nabi agar diberi pesan secara khusus, tiga kali beliau memintanya agar tidak suka marah.

Rasulullah saw. juga bersabda, "Orang kuat itu bukan karena kekuatannya dalam berkelahi, tetapi karena kemampuannya mengendalikan diri ketika sedang marah". (Muttafaq 'alaih)

g.) Bersikap Moderat dan Seimbang

Ekstrim dan berlebih-lebihan adalah sikap tercela. Jika harus marah pun ada tempatnya dan tidak sampai menyebabkan tindakan keluar dari kebenaran. Rasulullah saw. sebagaimana layaknya manusia lain, juga bisa marah. Namun, jika marahpun karena kebenaran. kalimat yang terucap pun tetap tidak pernah keluar dari kebenaran.

Ada seorang laki-laki mengadu kepada Nabi bahwa dirinya akan datang terlambat ketika shalat shubuh lantaran si fulan yang jadi imam itu suka memanjangkan shalatnya. Ketika berpidato, menyinggung masalah itu, beliau marah sekali hingga tidak seperti biasanya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, 

"Wahai sekalian manusia! Ada di antara kalian yang menyebabkan orang lari (dari Islam), maka siapa saja yang menjadi imam, hendaklah mempersingkat shalatnya. Karena di belakang kalian ada orang tua, anak kecil dan orang yang punya keperluan!" (Muttafaq 'Alaih)

h.) Ada Senjang Waktu dalam Memberi Nasihat

Seringkali banyak bicara itu tidak mendatangkan hasil. Sebab itulah Imam Ibnu Hanifah berpesan kepada para muridnya, "Janganlah kalian mengajarkan fiqih kalian kepada orang yang sudah tidak berminat!".

Ibnu Mas'ud ra. hanya memberi nasihat kepada para sahabat setiap hari kamis. Maka ada seseorang yang berkata kepada beliau, "Wahai Abu Abdurrahman, alangkah baiknya jika Anda memberi nasihat kepada kami setiap hari". Beliau menjawab, "Saya enggan begitu karena saya tidak ingin membuat kalian merasa bosan dan saya memberi senjang waktu dalam memberi nasihat sebagaimana Rasulullah lakukan terhadap kami dulu karena khawatir kami bosan" (Muttafaq 'alaih)

--------------------------
sumber : Cara Nabi Mendidik Anak. Ir. Muhammad Ibnu Abdul Hafidz Suwaid, hal. 18


Post a Comment for "Sifat-Sifat Pendidik Seperti Rasulullah"