Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Kisah Penyembah Api Selama 70 Tahun Tapi Masuk Syurga

Hasan memiliki tetangga bernama Simeon yang menyembah api. Suatu hari Simeon jatuh sakit dan menjelang ajal. Teman-temannya memohon agar Hasan mengunjunginya ; ia pun datang, mendapati Simeon  berbaring di tempat tidur, tubuhnya menghitam oleh api dan asap.

"Takutlah engkau kepada Allah!" Hasan menasihatinya. "Kau telah menghabiskan sepanjang hidupmu di tengah api dan asap. Terimalah Islam supaya Allah mengampunimu"

"Ada tiga perkara yang menghalangi ku menjadi muslim" jawab si penyembah api. "Yang pertama adalah bahwa kalian membenci dunia, namun siang malam kalian hanya mengejar hal-hal duniawi. Kedua, kalian berkata bahwa kematian adalah kenyataan yang harus dihadapi, tetapi kalian tidak membuat persiapan menghadapi kematian. Ketiga, kalian berkata bahwa wajah Allah akan terlihat, namun sampai saat ini kalian melakukan segala sesuatu yang bertentangan dengan keridhaan-Nya"

"Inilah ucapan dari manusia yang sungguh-sungguh mengetahui. Jika setiap muslim berbuat begitu, apakah yang akan kau katakan? Mereka mengakui keesaan Allah sedangkan kau menyembah api seumur hidupmu. Kau menyembah api selama tujuh puluh tahun, sementara aku tidak akan pernah berbuat seperti itu -- kita sama-sama terseret ke neraka. Api neraka akan membakar dirimu dan diriku. Allah tidak akan memperdulikanmu ; tetapi jika Dia berkehendak, api tidak akan berani menghanguskan sehelai rambut pun pada tubuhku. Karena api adalah ciptaan Allah ; dan segala ciptaan-Nya tunduk kepada segala perintah-Nya. Kau sudah menyembah api selam tujuh puluh tahun ; marilah kita bersama-sama menaruh tangan kita ke dalam api agar kau dapat menyaksikan sendiri betapa api itu sesungguhnya tak berdaya dan betapa Allah itu Maha Kuasa"

Setelah mengatakannya, Hasan memasukkan tangan ke api. Tak sejengkal bagian tubuhnya pun terluka atau terbakar. Simeon menyaksikannya dengan takjub. Fajar pengetahuan mulai tersingkap di hadapannya.

"Selama tujuh puluh tahun aku telah menyembah api" erang Simeon, "kini tinggal satu-dua helaan nafas saja yang tersisa, apa yang harus ku lakukan?"
"Jadilah seorang muslim," jawab Hasan.
"Jika engkau memberiku sebuah jaminan tertulis bahwa Allah tidak akan menghukumku" kata Simeon, "barulah aku akan menjadi muslim. Tanpa jaminan tertulis itu, aku tidak akan memeluk agama Islam"

Hasan segera menuliskannya. "Sekarang perintahkanlah pengikutmu di Basrah untuk memberikan kesaksian mereka di atas jaminan tersebut"
Para saksi pun membubuhkan tanda tangan mereka. Simeon berurai air mata dan menyatakan dirinya masuk Islam. Ia menyampaikan wasiat terakhirnya kepada Hasan, "Setelah aku mati, mandikanlah aku dengan tangan mu sendiri, kuburkanlah aku dan selipkan surat jaminan ini di tanganku. Surat ini akan menjadi buktiku".

Setelah berkata demikian Hasan, ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan menghembuskan nafas terakhir. Mereka pun memandikan mayat Simeon, menshalatkannya dan menguburkannya dengan selembar jaminan di tangannya. Pada malam harinya, Hasan pergi tidur sambil merenungi apa yang telah diperbuatnya.

"Bagaimana aku dapat menolong seseorang yang sedang tenggelam, sementara aku sendiri sedang tenggelam? Aku sendiri tidak dapat menentukan nasibku, tetapi mengapa aku berani memastikan apa yang akan dilakukan oleh Allah ?"

Dengan pemikiran-pemikiran itu, Hasan pun tertidur. Ia bermimpi bertemu dengan Simeon, wajahnya bersinar seperti pelita ; di kepalanya terdapat sebuah mahkota. Simeon mengenakan jubah yang indah dan berjalan-jalan sambil tersenyum di taman syurga.

"Bagaimana keadaanmu, Simeon?"
"Mengapa kau bertanya padahal engkau melihatnya sendiri?" jawab Simeon. "Allah Yang Mahabesar dengan segala kemurahan-Nya telah membawa ku ke hadirat-Nya dan memperlihatkan wajah-Nya kepadaku. Karunia yang dilimpahkan-Nya kepadaku tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kau telah memberiku sebuah surat jaminan, terimalah kembali surat jaminan ini karena aku tidak lagi membutuhkannya"

Ketika terbangun, Hasan dikagetkan ternyata surat jaminannya itu ada ditangannya. "Ya Allah!" seru Hasan. "Aku menyadari bahwa segala sesuatu yang Engkau lakukan adalah tanpa sebab kecuali karena kemurahan-Mu semata. Siapakah yang akan tersesat di pintu-Mu? Engkau telah mengizinkan seseorang yang menyembah api selama tujuh puluh tahun untuk menghampiri-Mu, semata-mata karena sebaris ucapan. Bagaimana mungkin Engkau akan menolak seseorang yang telah beriman selama tujuh puluh tahun?"

--------------------------
sumber : Tadzkiratul Auliya. Fariduddin Attar, hal. 6

Post a Comment for "Kisah Penyembah Api Selama 70 Tahun Tapi Masuk Syurga"