Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Kisah Zuhudnya Malik bin Dinar

Malik bertahun-tahun berpantang mencicipi apapun yang asam atau manis. Setiap malam ia akan pergi ke tukang roti dan membeli dua bungkal roti untuk berbuka puasa. Kadang-kadang ia mendapatkan roti hangat, hatinya akan merasa terhibur, dan menganggapnya sebagai pembangkit selera.

Suatu waktu, ia jatuh sakit dan keinginan menyantap daging merasuki hatinya. Selama sepuluh hari ia mengendalikan diri. kemudian, ketika tak sanggup menahan keinginannya lagi, ia pun pergi ke toko bahan pangan dan membeli dua-tiga potong kaki domba lalu menyelipkannya di bawah lengan pakaian.

Si pemilik toko menyuruh asisten muda membuntuti Malik dan melihat apa yang akan dilakukannya. Tak berapa lama kemudian, anak itu kembali dalam keadaan berurai air mata.

"Dari sini,dia pergi ke tempat yang sepi," lapor si anak.
"Di sana dia mengeluarkan kaki domba dari bawah lengan baju menciumnya dua-tiga kali, kemudian berkata, "Jiwaku, lebih dari ini bukan hakmu". Kemudian ia menyerahkan sebungkal roti dan kaki-kaki domba itu kepada pengemis, seraya berkata, "Wahai tubuh yang lemah, jangan berpikir bahwa semua penderitaan yang kutimpakan atasmu ini karena kebencian. Aku melakukannya supaya pada saat kebangkitan nanti, engkau tidak terbakar di Neraka. Bersabarlah selama beberap hari, karena mungkin coban ini akan berhenti, dan kau akan mendapat kebahagiaan yang tak pernah berakhir."

Malik pernah berkata, "Aku tidak memahami pernyataan bahwa jika seseorang manusia tidak menyantap daging selama empat puluh hari, kecerdasannya akan berkurang. Aku tidak pernah makan daging selama dua puluh tahun, justru kecerdasanku bertambah setiap harinya"

Selama empat puluh tahun tinggal di Basrah, tak pernah satu kali pun Malik menyantap buah kurma segar. Setiap kali musim buah kurma segar tiba, ia akan berkata, "Wahai penduduk Basrah, lihatlah perutku tidak akan menciut karena tidak menyantapnya, sementara kalian memakannya setiap hari -- perut kalian juga tidak menjadi semakin besar".

Setelah empat puluh tahun, suasana hati yang gelisah menderanya. Betapapun keras ia berusaha, ia tidak dapat menahan keinginan untuk memakan buah kurma segar. Akhirnya setelah beberapa hari, saat keinginannya kian hari kian meningkat sementara ia terus-menerus menyangkal nafsu makannya, Malik tak bisa menolak permintaan jasmaninya.

"Aku tidak akan menyantap buah kurma segar", protesnya. 
"Bunuh saja aku, atau mati!"
Pada malam harinya, terdengar suara dari surga.
"Kau harus makan beberapa buah kurma. Bebaskan jasmanimu dari belenggu."

Setelah mendengarkan respons ini, jasmaninya mulai berteriak-teriak karena memperoleh kesempatan.

"Kalau kau menginginkan kurma, berpuasalah seminggu penuh tanpa terlewat satu hari pun, dan kerjakanlah shalat sepanjang malam. Setelah itu aku akan memberimu beberapa buah kurma".

Ucapan ini membuat jasmaninya senang. Selama seminggu berturut-turut ia shalat sepanjang malam dan berpuasa sepanjang siang. Kemudian ia pergi ke pasar dan membeli beberapa buah kurma, lalu pergi ke masjid untuk menyantapnya. Seseorang bocah berteriak dari atas atap.

"Ayah! Ada Yahudi yang membeli kurma dan akan pergi ke masjid untuk menyantapnya."
"Ada urusan apa seorang Yahudi di masjid" seru Ayahnya.

Kemudian ia berlari untuk melihat siapa orang Yahudi yang dimaksud. Ketika melihat Malik, ia jatuh berlutut.

"Apa yang dikatakan anakmu?" tanya Malik.
"Maafkan dia, tuan. Dia anak tunggal dan tidak mengerti. Di lingkungan tempat tinggal kami, banyak orang Yahudi. Kami terus-menerus berpuasa, dan anak-anak kami melihat orang Yahudi menyantap pada siang hari. Jadi mereka mengira siapapun yang menyantap kurma pada siang hari adalah Yahudi. Dia mengucapkannya karena ketidak tahuan. Maafkanlah dia!" kata sang ayah.

Begitu Malik mendengarnya, api melalap jiwanya. Ia menyadari anak itu terdorong untuk berbicara seperti dirinya.

"Ya Allah," tangis Malik, "Aku tidak memakan kurma sebutir pun, tetapi Engkau menyebutku Yahudi melalui perantaraan lidah seorang anak yang tak berdosa. Jika aku memakan kurma itu, Engkau akan menyatakan diri ku sebagai kafir. Demi keagungan-Mu, aku tidak akan makan kurma lagi!"

-------------------------------
sumber : Tadzkiratul Auliya. Fariduddin Attar, hal. 13

Post a Comment for "Kisah Zuhudnya Malik bin Dinar"