Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Balasan Bagi Orang Yang Tidak Meminta-minta

kisah orang yang tidak meminta-minta

Pada masa tabi'iin, ada seorang kepala keluarga yang bernama Ismail al-Adawiyah. Dia tinggal di Kota Bashrah bersama anak, istri dan keluarganya. Keluarganya ini adalah keluarga yang sangat sederhana. Bahkan tidak jarang sering kekurangan karena ia sangat miskin. Dia mempunyai 3 orang anak perempuan yang harus dia urusi. Disisi lain, Istrinya kini pun sedang mengandung anaknya yang ke-4 yang sebentar lagi akan lahir. Sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab ia pun memikirkan kebutuhan sandang dan pangan untuk keluarganya. Terlebih lagi istrinya kini sebentar lagi akan melahirkan. 

Beberapa lama kemudian, tibalah waktunya istrinya melahirkan namun belum juga Ismail mendapatkan uang yang cukup untuk biaya persalinan. Apalah daya, semua sudah kuasa Allah subhanahu wata'ala yang pasti ada hikmah dibalik itu semuanya.

Ismail belum mempunyai bekal yang cukup untuk prosesi kelahiran anaknya yang ke-4, bahkan pada malam dilahirkan anaknya yang ke-4 tidak ada sesuatu apapun yang ditemukan di dalam rumahnya. Bahkan tidak ada satu tetespun minyak untuk mengurapi pusar anaknya yang baru saja lahir. Tidak ada lampu dan tidak ada kain untuk membedungnya.

Dalam keadaan demikian, lalu istrinya berkata "Pergilah ke tetangga kita si fulan dan mintalah setetes minyak, supaya minimal aku bisa menyalakan lampu"

Akan tetapi, Ismail al-Adawiyah sejatinya mempunyai pendirian yang teguh untuk tidak meminta-minta. Ia sudah bersumpah untuk tidak meminta sesuatu apapun kepada orang lain. Akan tetapi ia tetap pergi menuruti perintah istrinya, untuk menenangkan istrinya yang sudah cemas. Ia berpura-pura mengetuk pintu rumah tetangganya lalu kembali pulang.

"Mereka tidak mau membuka pintunya," kata Ismail.

Mendengar kabar itu, istrinya pun sedih dan menangis dengan susah hati. Dalam keadaan sedih dan bingung, ia membutuhkan bantuan namun disisi lain ia tidak mau jika harus meminta-minta. Ismail pun duduk dan menyelipkan kepalanya diantara dua lututnya dan tertidur karena kelelahan setelah mondar-mandir (berpura-pura) mencari bantuan.

Di dalam tidurnya itu dia bermimpi bertemu dengan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

"Jangan bersedih" kata Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. "Bayi perempuan yang baru saja lahir itu adalah ratu diantara kaum perempuan, yang akan menjadi perantara bagi tujuh puluh ribu kaumku. Besok, datangilah Isa as-Zadan, gubernur Bashar. Pada selembar kertas, tulislah kata-kata berikut ini, 'Setiap malam engkau mengirim seratus shalawat kepadaku, dan setiap malam Jum'at sebanyak empat ratus. Kemarin adalah malam Jumat tetapi engkau lupa melakukannya. Sebagai penebus kelalaiannmu berikanlah empat ratus dinar yang telah engkau peroleh secara halal kepada orang ini'.".

Ismail al-Adawiyah pun terbangun dalam keadaan bersimbah air mata. Ia pun bergegas menuliskan surat yang diperintahkan Nabi, dan menyerahkan surat itu kepada gubernur Bashrah lewat perantara pengurus rumah tangga istana.

Sesampainya surat tersebut di tangan Isa as-Zadan dan ia membuka surat itu. Betapa kagetnya dirinya dengan isi tulisan tersebut karena memang sesuai dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. 

Lalu sang gubernur Isa as-Zadan pun memerintahkan "Sedekahkan dua ribu dinar kepada fakir miskin. Sebagai bentuk syukur karena junjungan kita (Nabi Muhammad) telah mengingatku dan menasihatiku. Berikan juga kepada tuan tadi empat ratus dinar, dan katakan kepadanya, 'Aku harap engkau datang kepadaku sehingga aku dapat melihatmu. Tetapi aku merasa tidak pantas jika seseorang sepertimu datang menemuiku. Aku leih suka jika akulah yang datang dan menyeka pintu rumahmu dengan janggutku. Namun, demi Allah, aku memohon kepadamu, apapun yang engkau butuhkan, katakanlah kepadaku".

Ismail pun menerima uang itu dan ia gunakan untuk membelanjakan keperluan dia dan keluarganya.

***

Pelajaran Kisah :

Demikianlah balasan bagi orang yang menahan diri dari meminta-minta, Allah akan memberikan kecukupan baginya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَا يَكُوْنُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ لاَ أَدَّخِرُهُ عَنْكُمْ، وَإِنَّهُ مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبّرِْهُ اللهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

Kebaikan (harta) yang ada padaku tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta, Allah subhanahu wa ta’ala akan memelihara dan menjaganya. Siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta, Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikannya sabar. Siapa yang merasa cukup dengan Allah subhanahu wa ta’ala dari meminta kepada selain-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan kecukupan kepadanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. al-Bukhari no. 6470 & Muslim no. 1053)

***

Sumber : Tadzkiratul Auliya, karya Fariduddin Attar. Halaman 26-27.

Post a Comment for "Balasan Bagi Orang Yang Tidak Meminta-minta"