Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Dibalik Mata Buta Terdapat Hikmah Luar Biasa

Dia adalah seorang ulama yang qaddarullah juga, wafat dikarenakan wabah (tha’un), dan beliau wafat di daerah wasith pada tahun 117 hijriyah. Dia adalah seorang tabi’iin, murid dari sahabat mulia Anas bin Malik radhiyallahu ‘Anhu dan juga murid dari penghulunya ulama tabi’iin Sa’id Ibn Musayyib rahimahullahu ta’ala.

Dia adalah seorang murid yang rajin dan sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Rajin membaca dan menghafalkan al-Qur’an. Selain itu Ia juga seseorang yang dikenal sangat wara’ (menjaga diri dari maksiat). Yang akhirnya dengan kesungguhan dan kewaraannya tersebut, Allah mememberikan ia karunia yang besar berupa ilmu. Ia memiliki wawasan ilmu yang luas dan mendalam. Terlebih lagi dalam ilmu al-Qur’an. Bukan cuma hafal al-Qur’an. Akan tetapi dia juga memahami makna yang dikandungnya. Bahkan ia memiliki julukan mufassir (ahli tafsir). Nggak cuma mendapatkan julukan mufassir, bahkan Imam adz-Dzahabi mengatakan Qudwatul Mufassirin wal muhadditsin (suri teladannya para ahli tafsir dan ahli hadis).

Disamping itu, ia juga dianugerahi kekuatan hafalan yang luar biasa ajaib. Suatu hari ia datang menemui gurunya Sa’id Ibnul Musayyib dan tinggal bersama gurunya selama 8 hari untuk menuntut ilmu. Lalu ia berkata, seraya memohon kepada gurunya, “Wahai guru tolong ambillah mushaf dan simakkin hafalan saya”, Lalu ia pun mulai melantunkan surat al-Baqarah hingga selesai, tanpa kesalahan sedikitpun. Lalu ia berkata kepada gurunya “Wahai Abu an-Nadhr, apakah bacaanku sudah benar?”

Sa’id menjawab, “Iya, sudah benar, tidak ada kesalahan sedikitpun”. Lalu ia berkata “ketahuilah wahai guru, hadits Jabir lebih aku hafal daripada surah al-Baqarah tadi, padahal aku hanya mendengarnya satu kali”. Mendengar jawaban tersebut Sa’id heran dan bertanya, “jadi selama ini engkau belajar periwayatan kepadaku, semua yang engkau tanyakan kepadaku, dan semua jawaban yang aku berikan engkau bisa menghafalnya?”. Ia menjawab, “ya”.

Luar biasa teman-teman, ia mampu menghafal semua pertanyaan dan jawaban yang disampaikan Said dengan baik tanpa celah hingga Sa’id merasa kagum seraya berkata, “Aku tidak menyangka Allah telah menciptakan manusia seperti dirimu, pergilah kamu karena engkau telah mengambil semua ilmu yang ada padaku.”

MasyaAllah, luar biasa teman-teman, ia adalah simbol kekuatan hafalan di masanya karena memang memorinya sangat kokoh dan menakjubkan hafalannya. Tidak mengherankan jika apa saja yang didengar pasti direkam dan terpatri dalam hatinya.

Ia sendiri pernah menyatakan “Aku tidak pernah sama sekali mengatakan kepada orang yang berbicara kepadaku, 'Tolong ulangi lagi ucapanmu'. Dan apa saja yang didengar oleh telingaku pasti tersimpan di dalam hatiku”

Imam Ahmad rahimahullah juga pernah membicarakan tentangnya secara panjang lebar dan memaparkan tentang keilmuan, kefakihan dan pengetahuannya tentang khilaf ulama dan ilmu tafsir. Imam Ahmad juga mengatakan bahwa “ia adalah orang yang kuat hafalannya dan orang ahli fikih. Tidaklah ia mendengar sesuatu melainkan langsung bisa menghafalnya”

MasyaAllah dengan segala kelebihan yang ia miliki, keilmuan dan kekuatan hafalan, ia menjadi ulama yang besar, dikenal dengan kefaqihannya dibidang quran dan hadits, kewaraan, keadilan dan kejujurannya, sehingga ia menjadi rujukan para ulama lainnya untuk menuntut ilmu.

Nah, sobat ibrah kisah, kita berbicara panjang lebar tentang sosok ulama yang luar biasa ini, tapi kira-kira siapa ya sobat? dan seperti apa sosok ulama yang luar biasa ini dengan keilmuan dan hafalannya?

Sebagian kita mungkin sudah tidak asing dengan namanya. Karena nama beliau sering disebutkan didalam kitab-kitab tafsir.

Dia adalah Qatadah. Ya, sosok ulama yang luar biasa dengan kekuatan hafalannya ini adalah Qatadah bin Di’amah As-Sadusi. Beliau dilahirkan pada tahun 60 Hijriyah. Dan tahukah Anda? Beliau dilahirkan dalam keadaan buta!

MasyaAllah, ternyata beliau adalah seorang yang tunanetra. Walaupun dengan kekurangan fisik seperti itu beliau tetap menghafalkan al-Qur’an dan mempelajarinya bahkan ia menjadi ahli tafsir. Pemimpin para ahli tafsir.

Bisakah kita seperti beliau? Bisa. Beliau saja yang dengan dengan kekurangannya bisa menghafalkan al-Qur’an. Apalagi kalian? Semuanya masih lengkap kan? Mata kita masih ada? Alhamdulillah, mestinya kita bisa lebih dari itu.

Apa yang menyebabkan beliau menjadi luar biasa dengan kekuatan ilmu dan hafalannya?

1.     Di antaranya yang pertama adalah karena beliau senantiasa menjaga diri dari maksiat. Dan memang beliau terkenal dengan kewaraanya (penjagaan dirinya dari maksiat). Sebagaimana yang beliau nasihatkan : “Jauhilah maksiat dan permusuhan, kerana dengan dua sebab tersebutlah Allah membinasakan orang-orang sebelum kamu”.

Para penghafal al-Qur’an memang harus demikian. Jaga diri dari maksiat. Karena itu menjadi salah satu penyebab hilangnya hafalan kita.

Malik bin dinar adalah salah seorang yang paling hafal al-Qur’an. Ia biasa membacakan satu juz kepada murid-muridnya. Apabila ada satu huruf saja yang salah, maka ia akan berkata, “ini dikarenakan dosa yang aku perbuat, karena Allah tidak mungkin berbuat dzalim kepada hambanya”.

Adh-Dhahak bin Muzahim berkata, “Tidak seorangpun yang pernah belajar al-Qur’an (menghafalnya), lalu ia terlupa, kecuali dikarenakan dosa yang ia perbuat. Sebab Allah telah berfirman “Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri” (QS. Asy-Syura : 30) dan lupa akan hafalan al-Qur’an merupakan salah satu musibah yang paling besar”.

2.       Kemudian yang kedua adalah menjaga adab. Karena Qatadah tidak menyukai hadits Nabi dibaca kecuali dalam keadaan berwudhu. Itu hadits Nabi ketika dibacakan apalagi al-Qur’an? Jadi beliau senantiasa berwudhu dan menjaga adab-adab ketika membaca dan menghafalkan al-Qur’an.

3.       Sungguh-sungguh. Jangankan ketika menghafalkan al-Qur’an. Ketika sudah hafal saja beliau tetap membacanya dengan rutin. Abu Awanah menceritakan bahwa “Qatadah biasa mengkhatamkan al-Qur’an selama tujuh hari dan jika datang bulan Ramadhan beliau mengkhatamkannya selama tiga hari sekali. Adapun jika telah tiba sepuluh hari terakhir, beliau mengkhatamkan al-Qur’an setiap malam”

4.       Jangan lupa muroja’ah. Sebagaimana tadi. Qatadah saja sudah hafal, dan kekuatan hafalan memang luar biasa sekali dengar langsung hafal. Ia masih tetap muroja’ah sepekan sekali khatam. Bahkan bulan Ramadhan 3 kali khatam. Jika 10 hari terakhir setiap hari khatam.

Dan ingat kata Rasulullah. Hafalan itu lebih mudah lepas dari pada unta yang ditambatkan dengan tali.

Post a Comment for "Dibalik Mata Buta Terdapat Hikmah Luar Biasa"