Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Kisah Seseorang Yang Mencela Sahabat Nabi

Abu Muhammad al-Khurasani mengabarkan kepada kami; Di Khurasan, ada seorang penguasa. Dia memiliki seorang pelayan yang rajin beribadah. Pada saat musim haji tiba, si pelayan meminta izin kepada majikannya untuk berangkat haji, tapi si majikan tidak memberinya izin.

"Kenapa engkau tidak memberi saya izin, padahal saya meminta izin untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya?" kata si pelayan.

"Saya punya satu permintaan, jika engkau berjanji mau melaksanakan permintaanku itu, maka saya akan mengizinkan engkau pergi haji. Akan tetapi, jika engkau tidak sanggup melaksanakannya, maka saya tidak akan mengijinkan engkau pergi haji" kata si majikan.

"Apa permintaan engkau itu?" tanya si pelayan.

Si majikan berkata, "Saya akan memberangkatkan engkau bersama dengan beberapa orang, sejumlah pelayan dan beberapa ekor unta. Setelah tiba di Madinah, pergilah engkau berziarah ke makam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu sampaikan kepada beliau; wahai Rasulullah, majikan saya menitip pesan untuk engkau, dia berkata; Saya berlepas diri dari dua orang yang dimakamkan di samping engkau itu".

"Baiklah, permintaanmu itu akan saya laksanakan," jawab si pelayan.

Dalam hati, saya (si pelayan) berkata, "Sebenarnya saya tidak mau memenuhi permintaanya, tapi tidak mengapa lah, Allah mengetahui isi hatiku yang sebenarnya".

Si pelayan melajutkan kisahnya; Ketika sampai di Madinah, saya segera pergi berziarah ke makam Rasulullah. Di sana, saya mengucapkan salam kepada beliau, kepada Abu Bakar ash-Shiddiq dan kepada Umar bin Khattab. Waktu itu, saya merasa malu untuk menyampaikan pesan majikanku yang mungkar tersebut kepada Rasulullah.

Kemudian, saya tidur di sebuah tempat di depan makam Rasulullah. Dalam tidur itu, saya bermimpi seakan-akan tembok makam Rasulullah merekah dan terbuka, lalu tiba-tiba Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dengan mengenakan pakaian hijau. Waktu itu, saya mencium aroma wangi minyak misik (kesturi) yang begitu harus semerbak. Di samping kanan beliau ada Abu Bakar dan di samping kiri beliau ada Umar. Mereka berdua juga mengenakan pakaian hijau. Lalu, Rasulullah berkata kepadaku; Wahai si elok dan cerdas, kenapa engkau tidak menyampaikan pesan itu?"

Lalu, dengan berdiri penuh khidmat, saya berkata, "Wahai Rasulullah, saya merasa malu memperdengarkan kepada engkau pesan dari majikan saya menyangkut kedua sahabatmu itu".

Rasulullah berkata, "Ketahuilah, bahwa engkau pergi menunaikan haji dan akan kembali pulang ke Khurasan dengan selamat InsyaAllah. Nanti, jika sudah sampai di Khurasan, tolong sampaikan kepada majikanmu itu; Sesungguhnya Allah dan saya berlepas diri dari orang yang berlepas diri dari kedua sahabatku ini. Engkau paham?"

"Paham, ya Rasulallah", jawabku.

Kemudian, Rasulullah berkata kepadaku, "Ketahuilah, bahwa majikanmu itu akan mati 4 hari setelah kepulanganmu ke Khurasan. Engkau paham?"

"Saya paham, ya Rasulallah" jawabku.

Kemudian, saya terbangun. Lalu, saya membaca hamdalah dan bersyukur karena saya bisa bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan kedua sahabat beliau yang mulia itu. Saya juga bersyukur kepada Allah, karena Dia telah membuat saya tidak perlu lagi menyampaikan pesan majikanku itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Kemudian, saya pun menunaikan ibadah haji dan pulang kembali ke Khurasan dengan selamat dan lancar. Tidak lupa juga saya membawa oleh-oleh yang cukup mewah buat majikanku itu.

Selama dua hari pertama, majikanku masih diam dan belum berbicara denganku. Baru pada hari ketiga, majikanku itu berkata kepadaku, "Apakah engkau telah melaksanakan pesan dan permintaanku?"

"Ya, saya telah menunaikannya," jawabku.

"Jika begitu, cepat sampaikan kepadaku apa jawabannya." kata si majikan.

"Tuan pasti tidak ingin mendengarkan jawabannya" kataku kepadanya.

"Saya ingin mengetahui dan mendengarnya, cepat sampaikan sekarang", kata si majikan.

Lalu, saya pun menceritakan kejadiannya. Ketika sampai pada perkataan Rasulullah, "Katakan kepada majikanmu itu bahwa Allah dan saya berlepas diri dari orang yang berlepas diri dari kedua sahabatku ini", majikanku itu berusaha pura-pura tertawa. Kemudian dia berkata kepadaku, "Kami berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dari kami, maka sekarang kami merasa lega dan nyaman".

Dalam hati, saya berkata "Kamu akan tau akibatnya, hai musuh Allah!"

Pada hari keempat dari kepulanganku, tiba-tiba wajah majikanku itu ditumbuhi (penuh) dengan bisul. Belum sampai memasuki waktu shalat dzuhur, kami sudah memakamkannya!

 

-----------

Sumber : 500 Kisah Orang Shalih. Karya Imam Ibnul Jauzi, hal. 625-627

Post a Comment for "Kisah Seseorang Yang Mencela Sahabat Nabi"