Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Kisah Ruh Orang Yang Beriman Saling Mengenal


Kisah tentang Uwais Al-Qarani (15 Banyak orang yang membaca "Al-Qarni." Ini salah. Yang benar adalah "Al-Qarani" dengan memfat-hahkan huruf qaf dan ra'. Demikian sebagaimana dikatakan Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, dan Ibnul Atsir dalam Al-Lubab fi Tahdzib Al-Ansab.).  Keluarganya menyangka dia orang gila. Sehingga mereka membangun rumah untuknya di bagian depan rumah mereka. Dan selama bertahun-tahun tidak ada orang yang melihat wajahnya.

Makanannya adalah biji-biji kurma yang dibuang orang. Jika sore hari, dia jual untuk keperluan sarapannya. Dan jika dia merasakan biji yang dia kumpulkan buruk, maka dia simpan untuk sarapannya. Saat Umar bin Al-Khathab menjadi Amirul Mukminin, dia berkata pada saat musim Haji, "Hai sekalian manusia, berdirilah!" Mereka pun berdiri. 

Kemudian dia berkata lagi, "Hendaknya kalian semua duduk kecuali mereka yang berasal dari penduduk Murad” Maka mereka pun duduk. Kemudian Umar berkata lagi, "Sekarang duduklah kalian, kecuali orang yang datang dari suku Qaran." Mereka pun semua duduk, kecuali satu orang. Dia adalah paman Uwais Al-Qarani.

Dan Umar pun bertanya kepadanya, "Apakah engkau dari suku Al-Qarani?" Ia menjawab, "Benar". Umar bertanya, Apakah engkau kenal dengan Uwais?" Ia menjawab, “Mengapa engkau bertanya tentang anak itu, wahai Amirul Mukminin? Demi Allah, tidak ada dari kami orang yang lebih bodoh, lebih gila, dan lebih miskin dari dirinya."

Umar pun menangis. Kemudian dia berkata, "Perkataan itu sepantasnya diucapkan untukmu bukan untuknya, karena saya mendengar Rasulullah bersabda,

يدخل الجنة بشفاعته مثل ربيعة ومضر

“Dengan Syafaatnya (Uwais Al-Qarani), masuk surga orang-orang yang banyaknya seperti suku Rabiah dan Mudhar!" (Hadits dha'if, diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah (7/539), Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al Kabir (7/269), Kanz Al-'Ummal (12/74, 76) dan (14/14), Takhrij Ahadits Al-Ihya AI-Hafizh Al-Iraqi/nomor 3220, Dha'if Al-Jami' nomor 3312, dan Faidh Al-Qadhir (4/170).

Haram bin Hayyan berkata; Ketika saya mendengar hal itu, maka saya datang ke Kufah. Tidak ada tujuanku kecuali ingin mencarinya. Hingga akhirnya secara tidak sengaja saya bertemu dengannya sedang duduk di pinggir sungai Eufrat, di tengah siang, mengambil wudhu. Melihatnya, saya segera mengenalinya, sesuai sifat-sifatnya yang diceritakan kepadaku. Dia adalah orang yang gelap kulitnya, kurus, penampilannya tidak rapi, rambutnya dicukur, dan tampak berwibawa. 

Kemudian saya mengucapkan salam kepadanya, dan dia pun membalasnya dan memandang diriku. Selanjutnya saya mengulurkan tangan untuk menyalaminya. Namun dia menolak untuk menyalamiku.

Maka saya berkata kepadanya, "Semoga Allah merahmatimu dan meng ampunimu, hai Uwais. Bagaimana keadaanmu? Semoga Allah merahmatimu." Kemudian saya tidak dapat berkata lebih banyak lagi, karena saya tercekat rasa cintaku padanya dan rasa kasihan melihat kondisinya, sehigga saya pun menangis, dan dia pun menangis.

Dia berkata, "Semoga Allah merahmatimu, hai Haram bin Hayyan. Bagai mana keadaanmu, saudaraku? Siapa yang menunjukkanmu hingga sampai kepadaku?"

Saya menjawab, "Allah-lah yang menunjukkanku." Ia berkata, "Tidak ada Tuhan selain Allah, Mahasuci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi" (A- Israa : 108). Saya berkata, "Dari mana engkau tahu namaku dan nama orangtuaku? Padahal engkau belum pernah bertemu denganku sebelum hari ini, demikian juga engkau belum pernah melihatku?”

Ia menjawab, “Allah yang Maha Mengetahui yang memberitahukanku tentang dirimu. Ruh ku mengenal ruhmu saat jiwaku bersatu dengan jiwamu. Dan orang-orang beriman mengenal satu sama lain. Mereka saling mencintai dengan ruh Allah , meskipun mereka tidak pernah bertemu, dan jika kita membawa mereka ke satu tempat, maka rumah-rumah pun menjadi bersinar terang."

Saya berkata, "Ceritakanlah kepadaku tentang Rasulullah Ia menjawab, "Saya tidak pernah bertemu Rasulullah Dan saya pun tidak menjadi sahabat beliau. Namun saya telah bertemu orang-orang yang yang pernah bertemu beliau. Dan saya tidak senang menceritakan hal ini tentang diriku, dan saya tidak senang menjadi seorang yang menyampaikan pembicaraan, atau tukang kisah, atau mufti, karena saya sibuk dengan diri sendiri dibandingkan mengurusi orang lain."

Saya berkata kepadanya, "Hai saudaraku, bacakanlah kepadaku beberapa ayat dari Kitab Allah sehingga saya mendengarnya darimu, dan berikanlah wasiat kepadaku sehingga bisa menjadi simpanan nasihat bagiku. Saya mencintaimu karena Allah." Kemudian dia memegang tanganku dan berkata, "Saya berlindung kepada Allah yang Maha mendengar dan Maha Mengetahui dari Seitan yang terkutuk, Tuhanku berfirman -dan perkataan yang paling benar adalah perkataan Tuhanku dan pembicaraan yang paling benar adalah pembicaraan Rabbku -kemudian Uwais membaca,

وما خلقنا السموات والأرض وما بينهما لاعبين (38) ما خلقناهما إلا بالحق ولكن أكثرهم لا يعلمون (39) إن يوم الفصل ميقاتهم أجمعين (40) يوم لا يغني مولى عن مولی شيئا ولا هم ينصرون (41) إلا من رحم الله إنه هو العزيز الرحيم (42)

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Sesungguhnya hari keputusan (hari kiamat) itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya, yaitu hari yang seorang karib tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya sedikit pun, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan. Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang" (Ad- Dukhan: 38-42)

Kemudian dia sesenggukan, dan saya pun melihatnya, dan saya menduga dirinya telah pingsan. Lalu dia berkata, "Hai Ibnu Hayyan, Hayyan bapakmu sudah mati, dan engkau pun pasti akan mati juga. Kemungkinan engkau akan masuk surga, dan bisa pula masuk neraka. Nenek moyangmu, Adam, juga telah mati. Juga ibumu, Hawa, telah mati. Hai Ibnu Hayyan, Nabiyullah Nuh telah mati. Juga Ibrahim khalilullah telah mati. Musa yang bergelar najiyullah juga telah mati. Dawud yang khalifah Allah juga telah mati. Serta Nabi Muhammad telah wafat. Juga Abu Bakar khalifah Rasulillah telah mati. Dan telah mati pula saudaraku Umar bin Al-Khathab."

Saya pun berkata kepadanya, "Semoga Allah merahmatimu. Tapi Umar belum mati?"

Dia berkata, "Benar, namun Allah telah menyampaikan belasungkawanya kepadaku, demikian juga diriku telah menyampaikan belasungkawanya kepadaku, dan saya juga engkau adalah orang-orang mati." Kemudian dia membaca shalawat kepada Nabi , dan berdoa dengan doa yang tidak terdengar, kemudian dia berkata, "Ini adalah wasiatku, hendaknya engkau berpegang pada Kitab Allah, dan berbelasungkawa terhadap para Rasul dan orang-orang beriman yang saleh. Hendaknya engkau mengingat kematian.

Dan hendaknya hatimu tidak pernah sedikit pun melupakan kematian, selama engkau masih hidup. Berilah peringatan kepada kaummu jika engkau kembali kepada mereka, dan berilah nasihat kepada umat seluruhnya. Hendaknya engkau tidak meninggalkan jamaah sehingga engkau tidak meninggalkan agamamu tanpa engkau sadari, sehingga akhirnya engkau masuk neraka. Berdoalah bagiku dan bagi dirimu. Kemudian bacalah doa; Ya Allah, orang ini mengatakan dia mencintaiku karenaMu, dia menziarahiku karenaMu, maka kenalkanlah wajahnya kepadaku di surga, dan masukkan dia bersamaku ke surga, jagalah dia selama hidup di dunia, buatlah dia ridha dengan dunia yang sedikit, jadikanlah dia termasuk orang-orang yang bersyukur atas nikmat-nikmat yang Engkau berikan kepada mereka, dan berikanlah balasan yang baik dari kami"

Kemudian dia berkata, "Assalamu'alaika warahmatullahi wabarakatuh, saya tidak akan melihatmu setelah hari ini, semoga Allah merahmatimu. Karena saya tidak senang kemasyhuran. Bersendiri lebih saya senangi. Karena saya banyak mengalami kesedihan jika saya bersama orang-orang dalam keadaan hidup. Maka jangan tanyakan tentang diriku, dan jangan cari saya. Ketahuilah, engkau selalu dalam hatiku meskipun saya tidak melihatmu dan engkau tidak melihatku. Ingatlah saya dan berdoalah bagiku. Saya selalu mendoakanmu dan mengingatmu, insyaAllah . Berjalanlah engkau dari sini, sehingga saya bisa berjalan dari sini."

Kemudian saya berusaha berjalan bersamanya beberapa waktu. Namun dia tidak mau. Maka saya berpisah dengannya dalam keadaan menangis. Dia pun menangis. Saya terus melihat punggungnya sambil dia berjalan dan masuk ke jalan kecil. Kemudian saya bertanya tentang dirinya kepada orang-orang setelah itu. Juga saya mencarinya kemana-mana, namun saya tidak temukan seseorang yang memberitahukan saya sedikit pun tentang dirinya. Semoga Allah merahmatinya dan mengampuninya. Kemudian tidak lagi lewat satu Jum'at hingga saya melihatnya dalam mimpiku sekali atau dua kali." (Lihat; Al-Mustadrak Ala Ash-Shahihain/Al-Hakim (5749), Shifatu Ash-Shafwah (1/311), dan Tarikh Dimasyq (2/136).

----------------------------------------------------

sumber : 500 Kisah Orang Sholeh. Karya Ibnul Jauzi, hal. 37-41


Post a Comment for "Kisah Ruh Orang Yang Beriman Saling Mengenal"