Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Uwais al-Qarani Bertemu Umar Bin Khattab


Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda, "Allah mencintai hamba-Nya yang suci hatinya, tersembunyi jati dirinya dari makhluk lain, tidak berbuat dosa, penampilannya terlihat kusut, wajahnya terlihat dipenuhi debu jalanan, perutnya kempis, di mana jika mereka meminta izin bertemu para pejabat tinggi mereka tidak diberikan izin. Jika mereka ingin menikahi perempuan cantik, tidak diterima. Jika mereka ingin hadir, mereka tidak diundang. Jika mereka hadir ke suatu tempat kedatangan mereka tidak membuat orang gembira. Jika mereka sakit tidak ada yang menjenguk, dan jika mereka mati mereka tidak ada yang melayat."

Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berperilaku seperti itu?" Beliau bersabda, "Dia adalah Uwais Al-Qarani." Mereka bertanya, "Siapakah Uwais Al-Qarani?" Beliau menjelaskan, "Dia adalah orang yang matanya memerah, dua pundaknya lebar, tingginya sedang, kulitnya sangat gelap, janggutnya dekat dadanya, matanya selalu melihat ke tempat sujudnya, tangan kanannya di letakkan di atas tangan kirinya, dia membaca Al-Qur'an, menangisi dirinya, mengenakan dua pakaian lusuh yang tidak menarik perhatian, berkain dengan kain dari wol dan selendang dari wol. Dia tidak dikenal di bumi, namun di kenal di langit. 

Jika dia bersumpah, niscaya Allah akan kabulkan sumpahnya. Ketahuilah, di bawah ketiak kirinya ada bidang yang putih, dan saat datang hari kiamat akan dikatakan kepada orang-orang ahli ibadah; 'Masuklah kalian ke dalam surga'. Sementara kepada Uwais dikatakan; 'Berdirilah, dan berilah syafaat. Maka Allah memberikan syafaat bagi kepada orang-orang sejumlah bilangan penduduk suku Rabi'ah dan Mudhar. Hai Umar, hai Ali, jika kalian berdua berjumpa dengannya, mintalah kepadanya agar dia memintakan ampunan kepada Allah bagi kalian berdua."

Dia mengatakan, bahwa Umar bin Al-Khathab dan Ali bin Abi Thalib mencarinya selama sepuluh tahun, namun tidak dapat menemukannya. Dan pada akhir tahun menjelang kematian Umar, dia berdiri di gunung Abu Qubais, dan memanggil dengan suara sangat keras, "Hai para jamaah haji dari Yaman, apakah di antara kalian ada Uwais?" Maka seorang lelaki tua dengan jenggot panjang berdiri, dan berkata, "Kami tidak tahu siapa itu Uwais? Namun saya punya saudara yang bernama Uwais, dia orang yang paling tidak dikenal, paling miskin, paling tidak pantas untuk diantarkan ke hadapanmu, dia memelihara unta kami, dia sosok yang hina di antara kami".

Mendengar itu, Umar terlihat sedih, dan seakan dia tidak menerima pernyataan tadi. Kemudian dia berkata, "Di mana saudaramu itu? Apakah dia berada di tanah suci ini?". Dia menjawab, "Iya". "Di mana dia bisa ditemui?" "Di Arafah."

Maka Umar bin Al-Khathab dan Ali bin Abi Thalib segera berangkat ke Arafah. Di sana, keduanya mendapati Uwais sedang shalat di dekat pohon. Sementara unta-unta di sekelilingnya menjaga. Lalu, keduanya mengikat keledainya, kemudian menjumpainya. Keduanya berkata, “Assalamu'alaika wa rahmatullah."

Mendengar salam keduanya, Uwais meringankan shalatnya. Kemudian dia berkata, "Assalamu 'alaikuma warahmatullahi wabarakatuh." Kemudian keduanya bertanya, "Siapakah engkau?" Dia menjwab, “Penggembala unta dan pekerja yang dibayar."

Keduanya berkata, “Kami tidak bertanya tentang gembalaan, juga tentang pekerja bayaran, yang kami tanya siapa namamu?". Dia menjawab, "Hamba Allah".

"Kami tahu penduduk langit dan bumi seluruhnya adalah hamba-hamba Allah, siapakah namamu yang diberikan oleh ibumu?" la menjawab, "Siapakah kalian berdua? Apa yang kalian berdua inginkan dariku?" Keduanya menjawab, "Nabi kami Muhammad menceritakan kepada kami tentang Uwais Al-Qarani. Beliau juga menceritakan kepada kami tentang mata yang kemerahan bercampur biru. Juga mengabarkan bahwa di bawah ketiak kirimu ada warna putih, maka tunjukkanlah itu kepada kami. Jika memang begitu, berarti engkaulah orangnya."

Dan Uwais pun menunjukkan warna putih di bawah ketiak kirinya. Dan ternyata memang terdapat warna adalah Uwais Al-Qarani. Maka mintalah ampunan kepada Allah bagi kami, semoga Allah juga mengampunimu!!"

Dia menjawab, "Saya tidak mengkhususkan istighfarku untuk diriku juga tidak bagi seorang pun dari keturunan Nabi Adam. Namun saya mintakan kepada seluruh orang yang beriman di daratan, lautan, yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, juga bagi yang memeluk Islam, baik lelaki maupun perempuan. Hai dua orang tamuku, engkau telah dijadikan Allah untuk membuat diriku jadi dikenal orang, dan membuat keadaanku diketahui orang banyak. Siapakah kalian berdua?"

Ali bin Abi Thalib menjawab, "Yang ini adalah Umar, Amirul Mukminin. Sedangkan saya adalah Ali bin Abi Thalib." Mendengar itu Uwais segera berdiri, dan mengucapkan, "Assalamu alaika, wahai Amirul Mukminin, warahmatullahi wa barakatuh. Juga untukmu, hai Ali bin Abi Thalib. Semoga Allah membalas kalian berdua atas jasa kalian kepada umat ini, dengan balasan yang sebaik-baiknya”

Keduanya berkata, "Demikian juga engkau, semoga Allah memberikan balasan yang sebaik-baiknya."

Umar berkata, "Tetaplah di sini, semoga Allah merahmatimu, sampai saya masuk Makkah. Kemudian saya datang lagi kemari dengan membawa nafkah dari sebagian gajiku, dan kelebihan dari sebagian pakaianku. Tempat ini adalah tempat perjanjian kita untuk bertemu kembali"

Ia berkata, "Wahai Amirul Mukminin, tidak ada janji ketemu kembali antara diriku dengan dirimu. Saya tidak akan melihatmu lagi setelah hari engkau mengenalku. Apa yang akan saya lakukan dengan uang itu? Juga dengan pakaian itu? Apakah engkau tidak melihat saya memakai kain dari woll dan selendang dari woll? Kapan engkau melihatku mengubah kebiasaan berpakaian seperti ini? Apakah engkau lihat sendalku berjahit? Sejak kapan engkau lihat saya membuat sandal itu rusak? Apakah engkau tidak lihat bahwa saya mengambil upah dari gembalaan ini sebanyak empat dirham, dan kapan engkau lihat saya menggunakan uang itu? Wahai Amirul Mukminin, antara diriku dan dirimu terdapat perjalanan yang menanjak yang hanya dapat dilewati oleh orang yang kelelahan, tersembunyi jati dirinya dan lemah dirinya, maka ringankanlah bebanku! semoga Allah merahmatimu. 

Ketika Umar mendengar hal itu, dia memukul tanah dengan pecutnya. Kemudian dia berucap dengan suara keras, "Ah seandainya Umar tidak pernah dilahirkan oleh ibunya! Ah seandainya ibu Umar mandul sehingga tidak mengandung dirinya! Siapakah yang berani mengambil dunia dengan segala tanggung jawabnya?”

Uwais berkata, "Wahai Amirul Mukminin, berjalanlah engkau ke arah sana, sehingga saya bisa berjalan ke arah sini. Kemudian Umar berjalan kearah Makkah. Sementara Uwais menuntun untanya. Dan orang-orang pun meng ambil untanya. Selanjutnya memberikan penggembala untuk pergi. Dia pun memusatkan perhatiannya untuk ibadah hingga dia mati menghadap Allah. (Lihat: Shifatu Ash-Shafwah (1/310). Mukhtashar Tarikh Dimasyq (27135), dan At-Tadwin fi Akhbar Qazwin (1/33).

---------------------------------------------

sumber : 500 Kisah Orang Sholeh. Karya Ibnul Jauzi, hal. 42-44

Post a comment for "Kisah Uwais al-Qarani Bertemu Umar Bin Khattab"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa