Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nasihat Imam al-Auza'i Kepada al-Manshur


Abdurrahman bin Amr Al-Auza'i bercerita; Abu Ja'far Al-Manshur, Amirul Mukminin, memintaku datang, saat saya berada di pantai. Saya pun datang kepadanya. Saat saya tiba dan mengucapkan bai'at atau kekhalifahannya, dia pun membalasku dan meminta saya duduk. Kemudian dia berkata, "Apa yang membuatmu datang terlambat, hai Auza'i?"

Saya menjawab, “Apa yang engkau inginkan dariku, wahai Amirul Mukminin?" Ia menjawab, "Saya ingin mengambil pendapatmu dan saran-saran darimu."

Saya berkata, "Lihatlah, wahai Amirul Mukminin, engkau tidak akan mengetahui apa yang saya akan katakan kepadamu!" Dia berkata, “Bagaimana mungkin saya tidak mengetahuinya, sementara saya yang langsung bertanya kepadamu. Dan, saya juga yang ingin mengambil pendapatmu dan memintamu untuk mengeluarkan pendapatmu?" Saya berkata, “Engkau akan mendengarnya, tapi engkau kemudian tidak menjalankannya."

Dia berkata, "Maka Rabi berteriak kepadaku, dan menggerakkan tangannya ke arah pedangnya, namun Al-Manshur segera menghardiknya dan berkata; Ini adalah majlis untuk mencari pahala bukan majlis untuk menghukum orang."

Mendengar hal itu, hatiku merasa senang dan saya pun menjadi lebih leluasa untuk mengungkapkan perkataan-perkataanku. Saya pun berkata, "Wahai Amirul Mukminin, Makhul pernah meriwayatkan hadits kepadaku dari Athiyah bin Bisyir, dia berkata, bahwa Rasulullah bersabda,

"Siapa saja hamba yang datang kepadanya nasehat dari Allah dalam masalah agamanya, maka itu adalah nikmat dari Allah yang dialirkan kepadanya. Jika dia menerimanya dengan rasa syukur (itu bagus). Namun jika tidak, maka itu menjadi hujjah dari Allah atas dirinya, yang dengan itu Allah menambah dosa baginya, dan menambahkan kebencianNya kepadanya."

Wahai Amirul Mukminin, Makhul meriwayatkan kepadaku dari Athiyah bin Bisyir, dia berkata, bahwa Rasulullah bersabda,

"Siapa saja seorang pemimpin yang menipu rakyat yang dipimpinnya, niscaya Allah haramkan surga baginya."

Wahai Amirul Mukminin, yang melembutkan hati umat Islam terhadapmu ketika Dia memberikan amanah kepemimpinan atas mereka kepadamu adalah karena kekerabatanmu dengan Nabi mereka . Dan beliau adalah sosok yang sangat penyayang, dan penyayang terhadap mereka, serta selalu menyediakan dirinya untuk membantu mereka. Beliau tidak pernah menutup pintu dari permintaan tolong mereka tidak membatasi mereka untuk bertemu dengannya, dan senang melihat nikmat yang ada pada mereka. Beliau merasa sedih dengan kesulitan yang menimpa mereka. Maka, sangat tepatlah ketika beliau memperlakukan mereka dengan kebenaran.

Wahai Amirul Mukminin, engkau berada dalam kesibukan mengurus keluargamu dan orang-orang dekatmu, daripada mengurus perkara rakyat. Padahal engkau telah memegang kendali atas seluruh urusan mereka, baik mereka yang berwarna putih atau hitam, dan yang muslim maupun yang kafir. Dan semua mereka mempunyai hak atasmu untuk diperlakukan dengan adil. Maka bayangkanlah jika nanti di hari kebangkitan, mereka semua akan mengadukan bencana yang telah engkau perbuat terhadap mereka, atau kezaliman yang telah engkau timpakan kepada mereka.

Wahai Amirul Mukminin, Makhul meriwayatkan kepadaku, dari Urwah bin Ruwaim, dia berkata: Di tangan Rasulullah terdapat pelepah kurma yang beliau gunakan untuk mengusir dan membuat takut orang-orang munafik. Kemudian Jibril datang kepada beliau dan berkata, "Hai Muhammad, mengapa engkau memegang pelepah kurma seperti itu, yang bisa membuat hati umatmu menjadi terluka dan ketakutan?" Jika perbuatan beliau yang demikian saja sudah ditegur, maka bagaimanakah tindakan orang yang melukai tubuh-tubuh rakyat sehingga kulit mereka menjadi pecah, dan menumpahkan darah mereka, merusak rumah mereka, membuat mereka terusir dari tempat tinggal mereka, dan menanamkan ketakutan di hati mereka?

Wahai Amirul Mukminin, Makhul meriwayatkan kepada dari Ziyadah bin Haritsah dari Habib bin Maslamah, bahwa Rasulullah pernah diminta untuk melakukan qishash terhadap diri beliau sendiri, disebabkan terjadinya lecet di tubuh seorang Arab badui yang disebabkan tindakan beliau tanpa sengaja. Kemudian datanglah Jibril dan berkata, "Hai Muhammad, sesungguhnya Allah tidak mengutusmu untuk menjadi orang yang menindas dan sombong." Mendengar itu, beliau segera memanggil orang badui tadi dan bersabda, "Lakukanlah qishash terhadapku." Orang Arab badui itu menjawab, "Saya telah membebaskanmu dari hal itu, wahai Rasulullah. Saya tidak mungkin melakukan qishash itu kepadamu, wahai Rasulullah, sekalipun engkau memintaku untuk melakukannya." Kemudian beliau mendoakannya dengan kebaikan."

Wahai Amirul Mukminin, latihlah jiwamu demi kepentinganmu, dan janganlah buat dia merasa aman dari kemurkaan Rabbmu. Apakah engkau tidak ingin mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang dijelaskan oleh Rasulullah sebagai berikut?

“Sungguh, ikatan di panah kalian (yang dipakai berjihad), lebih baik dari dunia dan seisinya." (HR. Bukhari)

Wahai Amirul Mukminin, jika kekuasaan kekhalifahan ini tetap berada selamanya dalam genggaman orang-orang sebelumnya, niscaya kekuasaan ini tidak akan sampai ke tanganmu. Karena itu, kekuasaan ini pun tidak akan kekal berada dalam genggamanmu, sebagaimana dia tidak kekal berada di tangan orang-orang sebelummu.

Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau tahu apa penafsiran ayat yang telah disampaikan oleh kakekmu ini; Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan dia mencatat semuanya. (Al-Kahfi: 49). Beliau bersabda menjelaskan, bahwa perkara yang disebut kecil pada ayat itu adalah senyum, dan yang besar adalah tertawa. Maka, bagaimana halnya dengan perbuatan yang dilakukan oleh tangan dan diucapkan oleh lidah?

Wahai Amirul Mukminin, sampai kepadaku riwayat bahwa Umar bin Al-Khathab berkata: Jika ada satu anak domba yang mati di tepi sungai Eufrat karena tersesat, niscaya saya merasa akan dimintakan pertanggungjawaban atasnya. Maka, bagaimana halnya orang yang tidak mendapatkan keadilan, sementara dia berada dalam kuasamu?"

Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau mengetahui penafsiran ayat berikut ini dari kakekmu? 

“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan engkau khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu.” (Shad: 26). Beliau bersabda, "Hai Dawud, jika ada dua orang yang berselilih di hadapanmu, kemudian engkau mempunyai kecenderungan berpihak kepada salah seorang darinya, maka jangan engkau beri harapan kepada dirimu untuk memutuskan bagi kepentingannya, sehingga engkau sampai menjatuhkan kemenangan baginya, sementara Aku menghapusmu dari kenabian. Kemudian, engkau tidak lagi menjadi khalifah-Ku, dan tidak memiliki kemuliaan. Hai Dawud, Aku mengutus para rasul-Ku kepada para hamba-Ku. Mereka para penggembala, seperti penggembala unta. Karena mereka ahli dalam menggembala, mereka lembut dalam membuat peraturan, sehingga mereka bisa menyampaikan ajaran bagi banyak orang, dan memberi kesempatan kepada orang yang fisiknya lemah untuk mendapatkan kesempatan menggembala di padang rumput dan mendapatkan air."

Wahai Amirul Mukminin, engkau telah diberikan cobaan berupa jabatan kepemimpinan terhadap orang banyak, yang jika amanah itu diberikan kepada langit dan bumi serta gunung, niscaya semuanya enggan menerimanya dan merasa berat.

Wahai Amirul Mukminin, Yazid bin Jabir meriwayatkan kepadaku dari Abdurrahman bin Abi Amrah Al-Anshari, bahwa Umar bin Al-Khathab mempekerjakan seorang lelaki dari Anshar untuk mengurus shadaqah, kemudian dia melihatnya setelah beberapa hari berdiam di rumah. Dia pun berkata kepadanya, "Apa yang membuatmu tidak pergi ke tempat kerjamu? Apakah engkau tidak tahu bahwa dengan bekerja engkau akan mendapatkan pahala sebagai mujahid di jalan Allah?"

Dia menjawab, "Saya tidak tahu. Mengapa bisa seperti itu?" Lalu dia melanjutkan, "Saya mendengar kabar bahwa Rasulullah bersabda; "Siapa saja pemimpin yang memegang suatu jabatan mengurus urusan-urusan manusia, niscaya dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan terikat tangannya ke lehernya. Kemudian dia dihentikan di jembatan neraka, dan jembatan itu pun bergerak keras sehingga seluruh bagian tubuh orang itu terlepas dari tempatnya. Kemudian bagian-bagian tubuhnya itu dikembalikan ke tempatnya. Dan, dia pun diperhitungkan perbuatannya. Jika dia berbuat baik, maka dia selamat dengan perbuatan baiknya itu. Sedangkan jika dia berbuat buruk, maka jembatan itu akan terbakar membakar dirinya, dan dia pun terjatuh ke neraka yang dalamnya tujuh puluh tahun." Umar berkata kepadanya, "Dari siapa engkau mendengar hadits ini?"

Dia menjawab, "Dari Abu Dzar dan Salman." Umar kemudian meminta keduanya untuk datang, dan bertanya kepada keduanya. Keduanya menjawab, "Benar, kami telah mendengarnya dari Rasulullah Umar berkata, “Duhai malangnya Umar, bukankah dia adalah orang yang memegang tampuk kekuasaan umat dengan segala tanggung jawabnya?"

Abu Dzar berkata, "Dia adalah orang yang telah Allah ambil hidungnya, dan telah Dia tempelkan pipinya ke tanah. Al-Manshur kemudian mengambil sapu tangan, dan meletakkannya di mukanya. Selanjutnya dia menangis dan tersedu sedan. Hingga dia membuat diriku menangis. Kemudian saya berkata kepadanya, "Wahai Amirul Mukminin, Al-Abbas kakekmu pernah meminta kepada Rasulullah agar diberikan jabatan sebagai gubernur Makkah dan Thaif atau Yaman, maka beliau bersabda kepadanya, 

“Hai paman, satu jiwa yang engkau selamatkan lebih baik dari kekuasaan yang tidak dapat engkau pertanggungjawabkan."

Hal itu beliau ucapkan kepadanya sebagai nasihat bagi pamannya, rasa kasihan kepadanya, dan bahwa kedekatannya dengan beliau tidak bermanfaat jika dia berbuat salah. Karena, Allah Suhanahu wa Taala berfirman, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Asy-Su'araa :214). Setelah menerima ayat tersebut, beliau bersabda, “Hai Abbas pamanku, dan Shafiyah bibiku, serta Fathimah binti Muhammad, aku sama sekali tidak dapat menjadi jaminan keselamatan bagi kalian di hadapan Allah nanti. Bagiku amal ibadahku dan bagi kalian amal ibadah kalian”. Umar bin Al-Khathab berkata, “Tidaklah bertindak menjadi pemimpin bagi manusia kecuali orang yang cerdas akalnya, kuat karakternya, tidak tercela akhlaknya, tidak mudah terbawa emosi, dan tidak pandang bulu dalam menegakkan perintah Allah”.

Dia juga berkata, 'Seorang sultan mempunyai empat macam gubernur: Pertama, gubernur yang zuhud bagi dirinya sendiri juga para pegawainya, maka dia adalah laksana mujahid fi sabilillah, Rahmat Allah akan selalu terbentang menaunginya. Kedua, gubernur yang lemah yang zuhud bagi dirinya, namun karena kelemahannya, dia membiarkan pegawainya bertindak korup, maka dia adalah sosok yang berada di jurang kebinasaan kecuali jika dia segera bertindak memperbaiki keadaan. Ketiga, gubernur yang tegas dan keras terhadap pegawainya, namun memberikan kelonggaran bagi dirinya sendiri untuk bertindak korup, maka orang ini adalah al-huthamah, seperti yang disabdakan Rasulullah

Seburuk-buruk pemimpin adalah al-huthamah. Dia adalah orang yang binasa. Dan keempat, adalah gubernur yang memberikan kelonggaran bagi dirinya dan pegawainya untuk korupsi, maka mereka binasa seluruhnya Wahai Amirul Mukminin, telah sampai berita kepada saya bahwa Jibril datang kepada Nabi Musa dan Jibril berkata; Ketika Allah memerintahkan kobaran-kobaran api neraka, maka kepada api neraka ditetapkan untuk terus berkobar dan membakar hingga akhir kiamat. 

Kemudian Rasulullah bertanya kepada Jibril; Hai Jibril, ceritakan kepadaku tentang api neraka. Jibril berkata; Allah memerintahkan agar api neraka dinyalakan selama seribu tahun hingga dia menjadi merah, kemudian dia dinyalakan lagi selama seribu tahun hingga dia menjadi kuning, kemudian dia dinyalakan lagi selama seribu tahun hingga dia menjadi hitam, api hitam itu sangat gelap dan kobarannya tidak mengeluarkan cahaya dan arangnya tidak dimatikan. 

Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya satu baju dari baju penghuni neraka ditampakkan ke penduduk dunia, niscaya mereka semua akan mati. Dan seandainya satu ember dari minuman mereka dituangkan ke air di dunia, niscaya matilah orang yang meminumnya. Dan, seandainya satu hasta dari rantai yang berdzikir kepada Allah diletakkan di atas gunung di bumi, niscaya seluruh gunung akan runtuh. Dan, seandainya seseorang dimasukkan ke neraka kemudian dia keluar darinya, niscaya penduduk bumi akan mati karena mencium busuknya bau tubuhnya, dan karena melihat demikian mengerikannya kehancuran tubuhnya.

Nabi pun menangis mendengarnya. Demikian juga Jibril menangis mendengar tangisan beliau. Kemudian Jibril berkata: Kenapa engkau menangis, hai Muhammad? Bukankah Allah telah memberikan ampunan bagi dosamu yang terdahulu maupun yang belakangan?

Beliau menjawab; Bukankah aku adalah hamba yang pandai bersyukur?

Beliau berkata; Lalu, mengapa engkau menangis, hai Jibril? Bukankah engkau adalah Ruhul Amin, dan makhluk yang mendapatkan kepercayaan Allah untuk membawa wahyunya?

Jibril menjawab; Aku takut mendapat cobaan seperti cobaan yang diberikan kepada Harut dan Marut. Hal itulah yang membuat aku tidak mau mengandalkan kedudukanku di sisi Rabbku, sehingga aku menjadi makhluk yang beriman dengan terpaksa”

Wahai Amirul Mukminin, telah sampai berita kepadaku, bahwa Umar bin Al-Khathab berkata; Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku menyimpang saat memutuskan perkara di antara dua orang yang bersengketa di hadapanku, tentang suatu perkara, baik orang dekat maupun jauh, maka jangan Engkau biarkan aku dalam kesalahan sekejap pun.

Wahai Amirul Mukminin, orang yang paling kuat adalah orang yang menjalankan kebenaran karena Allah. Dan, yang paling mulia di sisi Allah adalah ketaqwaan. Siapa yang mencari kemuliaan dengan ketaqwaan kepada Allah, niscaya Allah akan angkat dia dan akan Dia berikan kemuliaan kepadanya.

Dan, siapa yang mencari kemuliaan dengan kemaksiatan kepada Allah, niscaya Allah akan hinakan dan rendahkan dia.

Ini adalah nasihatku. Wassalamu'alaikum. Kemudian saya bangun. Dia bertanya, "Kemana engkau akan pergi?" Saya menjawab, "Saya ingin menemui anakku dan kembali ke kampungku, dengan izin Amirul Mukminin, insya Allah Taala." Dia berkata, "Saya telah izinkan engkau untuk pergi. Dan saya berterimakasih atas nasihatmu. Saya menerimanya dengan sepenuh hati. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kebaikan dan memberikan pertolongan untuk menjalankannya, dan kepadaNya lah saya meminta pertolongan. KepadaNya pula saya bertawakkal. Dialah yang menjadi pencukupku, dan Dia-lah sebaik baik yang memberikan pertolongan. Jangan engkau segan untuk memberikan nasihat seperti itu lagi kepadaku. Karena ucapanmu diterima, dan nasihatmu tidak mengandung suatu pamrih. Saya menjawab, "Saya akan lakukan, insya Allah"

Muhammad bin Mushab berkata, "Amirul Mukminin memerintahkan untuk memberikannya sejumlah harta sebagai bekalnya dalam perjalanan, namun dia menolak.” Dia berkata, "Saya tidak memerlukannya. Saya tidak mungkin menjual nasihatku dengan seluruh kekayaan dunia." Mendengar hal itu, Al-Manshur memahami sikapnya, dan dia tidak merasa tersinggung dengan penolakannya.

---------------------------------------------------

sumber : 500 Kisah Orang Sholeh. Karya Ibnul Jauzi, hal. 51-58


Post a comment for "Nasihat Imam al-Auza'i Kepada al-Manshur"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa