Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Nasihat Khalid bin Shafwan Untuk Hisyam bin Abdil Malik


Khalid bin Shafwan bin Al-Ahtam berkata; Yusuf bin Umar pernah mengutusku menemui Hisyam bin Abdil Malik, dalam rombongan Irak. Maka saya menemuinya, sementara dia sudah keluar untuk memulai perjalanan, bersama anaknya, keluarganya, pembantunya dan teman-temannya. Dia kemudian tinggal di ruangan yang luas, pada saat hujan musim semi sedang turun secara teratur. Kemudian bumi menunjukkan perhiasannya dari seluruh warna tetumbuhannya, dari cahaya musim yang indah. Dia dalam penampilan yang paling indah, paling sering mendapat siraman hujan, di wilayah yang tanahnya laksana potongan-potongan kapur barus. 

Sehingga jika beberapa potongan darinya dilemparkan padanya, niscaya dia tidak akan kotor. Baginya telah dibuatkan tempat dari sutera, dibuatkan oleh Yusuf bin Umar di Yaman, padanya terdapat empat hamparan dari sutra merah. Demikian juga surbannya. Orang-orang telah menduduki tempat mereka. 

Lalu, saya mendongakkan kepala dari arah tengah. Dan, dia pun memandangku dengan tatapan penuh tanya. Saya berkata kepadanya, "Semoga Allah melengkapkan nikmat-Nya bagimu, wahai Amirul Mukminin, dan makin menambahnya dengan kesyukuranmu. Dan, semoga Dia menjadikan jabatan yang engkau pegang ini menjadi petunjuk dan kebaikan yang berakhir menjadi pujian bagi Nya. Dia membuatnya menjadi bersih dengan ketaqwaan, memperbanyak pertumbuhannya bagimu, dan tidak mengurangi sedikitpun pemberian-Nya. 

Demikian juga kebahagiaanmu semoga tidak dicemari dengan keburukan. Engkau telah menjadi orang yang dipercaya kaum muslimin dan menjadi sumber ketenangan. Mereka mengadu kepadamu saat mereka mengalami kezhaliman. Mereka datang kepadamu untuk mengurus perkara mereka. Dan saya tidak dapati sesuatu yang lebih penting dari menunaikan hakmu, memuliakan kedudukanmu, dan memandangmu. Sehingga saya teringat pada nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu dan yang terdapat padamu. 

Maka, saya ingatkan dirimu untuk bersyukur kepada-Nya, dan tidak ada sesuatu yang lebih tepat daripada mengungkapkan ucapan para raja terdahulu. Jika Amirul Mukminin mengizinkan, niscaya saya akan beritahukan."

Saat itu dia sedang bersandar, maka dia pun mengubah posisinya menjadi duduk dengan lurus. Dan berkata, “Katakanlah, hai Ibnul Ahtam!"

Saya pun berkata, "Wahai Amirul Mukminin, seorang raja dari raja-raja sebelummu telah keluar pada tahun seperti tahun ini ke Khawarnaq dan Sadir, pada tahun saat namanya sedang mencapai kemuliaannya. Dia diikuti oleh para pejabat bawahannya, sementara bumi sedang menampilkan keindahannya dengan segala perhiasannya, berupa pepohonan yang beragam warnanya, sesuai dengan kecerahan musim semi yang indah. Dia adalah kondisi pemandangan yang paling indah dan paling bagus, di bumi yang sedang dijatuhi hujan, di wilayah yang tanahnya seakan potongan-potongan kapur barus. 

Sehingga, jika ada sesuatu yang dilempar ke tanah tersebut, niscaya tidak akan kotor. Dan dia juga dianugerahi usia yang panjang, serta keluarga yang banyak serta harta yang terus berkembang. Sehingga setiap kali dia lihat, makin banyaklah hartanya. Dia berkata; 'Siapa yang mempunyai harta seperti hartaku ini? Apakah kalian melihat keagungan seperti keagunganku ini? Apakah ada orang yang diberikan kekayaan dan kekuasaan serta beragam nikmat yang diberikan kepadaku ini?'

Raja mempunyai seorang penasehat dari kalangan yang mempunyai keunggulan berpikir dan menarik hikmah, serta berjalan sesuai dengan etika jalan kebenaran. Dia pun berkata, "Wahai Baginda Raja, engkau telah mengajukan pertanyaan, bolehkah saya menjawabnya?" Raja menjawab, "Boleh."

Dia berkata, "Menurutmu, hal-hal yang membanggakan dirimu itu apakah dia sesuatu yang akan terus langgeng, ataukah dia sesuatu yang menjadi milikmu sebagai warisan dari orang lain? Dan apakah hal itu nanti akan hilang dari genggamanmu dan berpindah ke tangan orang lain?"

Raja menjawab, "Seperti itulah”. Dia bertanya, "Benarkah yang saya lihat, engkau merasa kagum sesuatu yang sedikit, yang engkau berada sebentar saja di dalamnya, untuk kemudian engkau meninggalkannya dalam waktu lama, dan selanjutnya engkau dengan harus mempertanggungjawabkan semua nikmat itu nantinya?"

Raja menjawab, "Celakalah! Kemana harus lari? Kemana harus mencari?" Dia menjawab, "Engkau bisa memilih antara tinggal di kerajaanmu, sambil engkau melakukan amal saleh sebagai ketaatan kepada Rabb mu, dalam perkara yang membuatmu sulit maupun senang dan meringankanmu atau membebanimu, atau engkau memilih untuk meletakkan mahkota kekuasaanmu, kemudian engkau mengenakan pakaian kehinaan, dan selanjutnya engkau beribadah kepada Rabb-mu di gunung ini hingga datang ajal kematianmu."

Raja menjawab, "Jika datang waktu tengah malam menjelang subuh, ketuklah pintuku. Jika saya memilih tetap memegang kekuasaan ini, maka engkau akan menjadi menteri yang paling tinggi. Jika saya memilih untuk mengelana di penjuru bumi dan menanggung kemiskinan, maka engkau akan menjadi rekanku yang tidak tergantikan."

Ketika datang waktu tengah malam menjelang subuh, dia pun mengetuk pintunya. Dan saat itu sang raja telah meletakkan mahkotanya, memakai pakaian kumal, dan telah bersiap untuk melakukan perjalanan jauh. Keduanya kemudian tinggal di gunung hingga keduanya mati. Demikian, seperti diceritakan oleh saudara Bani Tamim Adi bin Zaid Al-Iyadi Al-Muradi,

"Hai orang yang suka mencela dan tertipu waktu

Apakah kau telah terpilih jadi orang yang tercukupi?

Atau kau punya jaminan nikmat itu tak akan dicabut

Ataukah engkau memang orang yang jahil lagi tertipu

Siapakah yang dapat nikmat dan terus dalam kenikmatan?

Atau siapakah yang tetap aman dari bencana kematian?

Di manakah kekuasaan Kisra, raja diraja Sasanid

Atau di manakah, raja sebelumnya, raja Syabur?

Atau para raja keturunan orang kulit putih, Romawi?

Tidak ada yang tersisa, kecuali hanya dicatat sejarah"

Mendengar itu, Hisyam menangis hingga kacaulah janggutnya dan basahlah sorbannya. Kemudian dia memerintahkan agar mencopot hiasan dari bangunan tinggalnya, juga tanda kebesaran di majlis tempat duduknya. Demikian juga mengurangi keluarga, pelayan dan teman-temannya dari tempat pertemuannya.

Lalu, para hamba sahaya dan pembantu berkumpul menghadap Khalid bin Shafwan. Mereka berkata, "Apakah engkau tidak ingin mengunjungi Amirul Mukminin?? Engkau telah merusak kelezatannya, dan menghancurkan bangunan kemegahannya.

la menjawab, "Dengarkanlah kata-kataku; saya telah berjanji kepada Allah Taala bahwa jika saya duduk berdua bersama seorang raja, niscaya saya akan ingatkan dia tentang Allah "

--------------------------------------------------

sumber : 500 Kisah Orang Sholeh. Karya Ibnul Jauzi, hal. 47-50

Post a Comment for "Nasihat Khalid bin Shafwan Untuk Hisyam bin Abdil Malik"