Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Awal Mula Ibrahim bin Adham Menjadi Seorang Sufi

Abdullah bin Faraj berkata; Ibrahim bin Adham bercerita kepadaku tentang bagaimana permulaan suluknya (maksudnya, memulai hidup sebagai seorang sufi), yaitu sebagai berikut; Suatu hari saya berada di tempat dudukku. Dari tempat tersebut saya bisa memandang ke arah jalan. Saat itu saya melihat seorang syaikh yang mengenakan pakaian yang sudah usang. Sementara hari itu sangat panas. Dia duduk di bawah naungan istanaku, untuk beristirahat. Saya kemudian berkata kepada pembantuku; Temuilah orang tua itu, dan sampaikan salam dariku. Mintalah kepadanya untuk masuk ke rumah. Karena saya merasa ada sesuatu yang menarik diriku saat melihatnya. Pembantuku pun keluar menemuinya. Dan syaikh itu kemudian berdiri mengikuti pembantuku untuk menemuiku. 

Dia mengucapkan salam. Saya  pun membalas salamnya. Saya merasa senang dengan masuknya syaikh tersebut ke rumahku. Saya kemudian mendudukkannya di sampingku. Saya juga menawarkan makan kepadanya. Namun dia menolak untuk makan. Saya bertanya kepadanya, “Dari manakah engkau datang?” Dia menjawab, “Dari daerah seberang sungai.” “Kemana engkau ingin pergi?” “Saya ingin menunaikan ibadah haji, insya Allah.” Saat itu adalah awal hari kesepuluh Dzulhijah –atau hari kedua–. Saya pun berkata kepadanya, “Pada saat ini engkau ingin pergi haji?” Dia menjawab, “InsyaAllah.” Saya bertanya, “Bolehkah saya menemanimu?” Dia menjawab, “Boleh, jika engkau memang mau.” Pada malam hari, dia berkata kepadaku, “Bangunlah.” Saya pun kemudian mengenakan pakaian yang pantas untuk bepergian. Dia selanjutnya memegang tanganku, dan kami keluar dari kota Balkh.

Saat kami melewati kampung kami, saya menjumpai seorang lelaki petani. Maka saya mewasiatkan kepadanya beberapa hal yang saya perlukan. Dia kemudian memberikan kepada kami roti dan telur. Dan meminta kami agar memakannya. Maka kami pun memakannya. Dia juga memberikan kami air, dan kami pun meminum air tersebut. Setelah itu dia berkata, “Bismillah, mari kita jalan kembali!” Dia memegang tanganku, dan kami berjalan. Saya melihat tanah yang kami pijak ditarik seakan-akan gelombang air. Maka kami berjalan melewati satu kota demi satu kota. Dan dia berkata, “Ini adalah kota A, ini adalah kota B, ini adalah Kufah.” Setelah itu dia berkata kepadaku, “Kita janjian untuk ketemu lagi di tempat ini, besok malam jam sekian.” 

Ketika datang waktunya, dia datang dan mengambil tanganku. Dan dia berkata, “Ini adalah rumah A, ini adalah rumah B, ini adalah rumah C, ini adalah Faid, dan ini adalah Madinah.” Dan saya melihat ke tanah yang saya injak, yang seperti ditarik oleh gelombang air! Hingga akhirnya kami sampai ke makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami pun berziarah. Setelah itu dia berpisah denganku dan berkata, “Kita akan bertemu lagi malam nanti di tempat shalat.” Saat datang waktunya, saya pun keluar. Dan saya dapati dia sudah berada di tempat shalat, dan dia memegang tanganku. Dia pun melakukan hal yang sama seperti yang pertama dan kedua. Hingga kami sampai ke Makkah pada waktu malam. Dia kemudian berpisah denganku, dan saya memegang tangannya. Saya berkata kepadanya, “Saya ingin menjadi teman perjalananmu berikutnya!” Dia berkata, “Saya ingin pergi ke Syam.” Saya berkata, “Saya ikut denganmu.” Dia berkata, “Jika selesai ibadah haji, kita akan bertemu di sini, di sumur Zamzam.” 

Saat selesai ibadah haji, saya berada di sumur Zamzam. Dia kemudian memegang tanganku, dan kami pun thawaf di seputar Ka’bah. Setelah itu kami keluar dari Makkah. Dia melakukan seperti yang telah dia lakukan pada kali pertama, kedua dan ketiga. Kemudian saat kami berada di Baitul Maqdis, dia masuk ke Masjid. Dia berkata kepadaku, “Salam untukmu. Saya akan tinggal di sini, insya Allah.” Setelah itu dia berpisah denganku. Saya tidak melihat dia lagi setelah itu. Dia juga tidak mengenalkan kepadaku namanya. Saya pun kembali ke kampung halamanku dengan berjalan sebagaimana orang yang lemah, dari satu tempat ke tempat ain, hingga saya sampai ke Balkh. Inilah awal saya bersuluk.” (Lihat; Shifatu Ash-Shafwah (1/453), At-Tawwabin/Ibnu Qudamah (1/44), dan Mukhtashar Tarikh Dimasyq (1/453).

---------------------------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Cetakan Pustaka al-Kautsar, hal. 126

Post a Comment for "Awal Mula Ibrahim bin Adham Menjadi Seorang Sufi"