Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Kisah Dua Rekan Seperjalanan Haji

Muhammad bin Al-Husain berkata, bahwa Mukhawwal pernah bercerita; Suatu hari datanglah Buhaim kepadaku. Dia berkata, “Apakah engkau tahu ada tetanggamu atau saudaramu yang ingin pergi haji, yang akhlaknya engkau ridhai, di mana dia bisa menjadi teman seperjalanan haji denganku?” Saya menjawab, “Ya saya kenal seseorang yang saya pikir cocok.” Kemudian saya pergi menemui seseorang yang terkenal dengan kesalehan dan kekuatan agamanya, di sebuah kampung. Saya pun mempertemukan keduanya. Dan keduanya menunjukkan kesepakatan untuk menjadi rekan seperjalanan ibadah haji. Setelah itu Buhaim pergi menemui keluarganya. Saat waktu keberangkatan tiba, orang yang saya ajukan untuk menjadi rekan perjalanan Buhaim, datang kepadaku.

Dia berkata, “Hai engkau, mengapa engkau memberikan sahabatmu sebagai teman perjalanan, sedangkan engkau sendiri mencari teman perjalanan yang lain?” Saya menjawab, “Mengapa engkau terlihat keberatan? Demi Allah, saya tidak mengenal seseorang di Kufah yang melebihinya dalam kebaikan akhlak dan kesabaran. Saya pernah menaiki kapal laut bersamanya, saya tidak melihat kecuali kebaikan pada dirinya.” “Masalahnya, saya dengar dia senang menangis dalam waktu lama, dan hampir tak terputus. Hal itu akan membuat hidup kami dalam perjalanan menjadi sesuatu yang berat.” Saya berkata kepadanya, “Dia menangis hanya saat dia mendengarkan pengingat kepada Allah yang membuat hatinya melembut, sehingga dia menangis. Apakah engkau tidak pernah menangis?” 

Dia menjawab, “Benar. Namun saya mendengar perkara yang besar sekali tentang banyaknya dia menangis.” Saya berkata kepadanya, “Temanilah dia, barangkali engkau akan mendapat manfaat darinya.” Dia berkata, “Saya beristikharah dulu kepada Allah.” Saat datang harinya yang ditetapkan untuk keberangkatan mereka, disiapkanlah seekor unta, dan disiapkan tempat untuk keduanya. Buhaim terlihat menangis di bawah naungan bangunan. Dia meletakkan tangannya di bawah jenggotnya. Sedangkan air matanya mengalir ke kedua pipinya, setelah itu ke jenggotnya, kemudian ke dadanya, bahkan saya melihat air matanya jatuh ke tanah. 

Temanku berkata, “Hai Muhkhawwal, lihat! Temanmu sudah mulai kelakuannya! Dia tidak cocok untuk menjadi teman seperjalananku.” Saya berkata, “Tenanglah.. Barangkali dia sedang mengingat keluarganya yang akan akan dia tinggalkan.” Ucapakanku ternyata didengar oleh Buhaim, dan dia pun berkomentar, “Hai saudaraku, demi Allah bukan itu yang membuatku menangis. Namun yang membuatku menangis adalah membayangkan perjalanan ini sebagai perjalanan ke akhirat.” Dan suara tangisannya pun makin terdengar. Temanku berkata, “Demi Allah, ini bukanlah awal tanda permusuhan dan kebencianmu padaku! Apa pentingnya saya harus menemani Buhaim? Seharusnya engkau mempersatukan dalam perjalanan antara Buhaim dengan Dawud Ath-Tha`i serta Salam Abul Akhwash, sehingga masing-masing mereka saling menangis, hingga mereka disembuhkan atau mereka mati bersama!”

Saya terus membujuknya, dan berkata, “Mengapa engkau demikian ngotot? Barangkali ini akan menjadi perjalanan yang paling baik yang pernah engkau lakukan. Dia adalah orang yang sering menunaikan ibadah haji, seorang saleh. Namun dia adalah seorang pedagang yang berhasil dan kaya raya. Dia juga bukan seorang yang senang dengan kesedihan dan tangisan. Dia berkata, “Baiklah, saya sudah menyetujui perjalanan ini. Saya berharap ini menjadi perjalanan yang baik!” Semua yang dia ucapkan itu tidak diketahui oleh Buhaim. Seandainya dia mengetahui apa yang dia ucapkan, niscaya Buhaim tidak akan mau berjalan bersamanya. Sehingga keduanya kemudian jalan bersama, menunaikan ibadah haji bersama dan kembali bersama. Saat itu masing-masing melihat temannya sebagai seorang sahabat sejati yang tidak ada sahabat yang lebih akrab melebihi dirinya. 

Saat saya datang mengucapkan salam kepada tetanggaku, dia berkata kepadaku, “Semoga Allah membalas kebaikanmu, saudaraku. Saya tidak pernah menyangka jika di dunia ini ada seorang seperti Abu Bakar. Demi Allah, dia selalu mendahulukanku dalam masalah nafkah kebutuhan, padahal dia orang miskin sedangkan saya orang kaya. Demikian juga dia selalu melayaniku, padahal saya seorang yang masih muda dan gagah, sedangkan dia seorang yang sudah tua dan lemah. Serta dia selalu memasakkan makanan bagiku, padahal saya tidak berpuasa sedangkan dia berpuasa!”

Saya bertanya, “Kemudian bagaimana keadaanku dalam menyikapi tindakannya yang tidak engkau senangi, yaitu dia senang menangis?” Dia menjawab, “Demi Allah, saya menjadi terbiasa dengan tangisan itu. Dan hatiku merasa senang mendengarnya, bahkan saya membantunya untuk menangis. Sehingga rombongan kami merasa terganggu. Tetapi akhirnya mereka terbiasa dengan hal itu. Sehingga jika mereka mendengar kami menangis, mereka pun menangis. Dan salah seorang dari mereka berkata kepada yang lain; Apa yang membuat mereka lebih mudah menangis, padahal perjalanan kita sama? Sehingga mereka pun menangis, kami juga menangis. Mukhawwal berkata, “Kemudian saya keluar dari tempatnya. Dan saya mendatangi Buhaim. Saya pun mengucapkan salam kepadanya, dan bertanya, “Bagaimana menurutmu sahabat seperjalananmu itu?” Dia menjawab, “Dia adalah sahabat yang paling baik. Banyak berdzikir kepada Allah. Senang membaca Al-Qur`an dalam waktu lama. Mudah mengeluarkan air mata. Dan sabar dalam menghadapi kesalahan teman seperjalanan. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”  (Lihat; Shifatu Ash-Shafwah (1/344).

---------------------------------------------------------------------

sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Cetakan Pustaka al-Kautsar, hal. 123-126

Post a Comment for "Kisah Dua Rekan Seperjalanan Haji"