Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Kisah Seorang Sufi dan Pemilik Istana

Muhammad bin Dawud Ad-Dinawari menceritakan kepada kami, dia berkata; Saya mendengar Abu Ishaq Al-Harawi berkata; Suatu hari saya bersama Ibnul Khayyuthi di Basrah. Dia memegang tanganku dan berkata, “Antarkanlah saya ke Ablah.” Saat kami hampir sampai di Ablah, di mana waktu itu kami berjalan di wilayah Ablah pada malam hari dan bulan sedang purnama, kami melewati sebuah istana milik seorang tentara. Di dalam istana tersebut ada seorang hamba sahaya perempuan yang sedang memetik gambus. Sementara di samping istana tersebut ada seorang faqir yang hanya mengenakan dua lembar pakaian. 

Seorang Faqir itu mendengar hamba sahaya perempuan tadi yang mengatakan, 

Setiap hari yang dilewati dirimu, 

Selain hari ini, tampak lebih indah

Faqir tersebut, saat mendengar itu, dia berteriak; Ulangilah lagi kata katamu. Itu menggambarkan keadaanku bersama Allah ‘Azza wa Jalla. Mendengar itu, pemilik hamba sahaya perempuan itu melihat sang faqir. Dan dia berkata kepada perempuan itu, “Tinggalkanlah gambusmu. Dan datangilah dia. Karena dia seorang sufi.”

Perempuan itu kemudian mengulang ucapannya. Sementara orang faqir tadi berkata, “Itu menggambarkan keadaanku bersama Allah ‘Azza wa Jalla.” Perempuan itu kembali mengulang ucapannya. Hingga akhirnya sang faqir tadi berteriak dan jatuh pingsan. Kami pun menggerak-gerakkan badannya. Namun ternyata dia telah meninggal dunia. Saat pemilik istana itu mengetahui kematiannya, dia pun turun, dan memasukkan mayat orang faqir tadi ke rumahnya. Kami pun berucap, “Ini cukup untuk mengurus jenazahnya.” Kemudian tentara pemilik istana tadi naik ke rumahnya, dan memecahkan semua yang ada di tangannya. Kami pun berkata, “Apa lagi yang terjadi ini?”

Kemudian kami meneruskan jalan kami ke Ablah dan kami tidur di sana. Dan kami memberitahukan orang-orang tentang kejadian tadi. Kemudian saat datang waktu pagi, kami kembali ke istana tadi. Saat itu kami dapati orang-orang datang dari segenap penjuru untuk melihat jenazah sang faqir. Seakan-akan berita itu disebarkan ke segenap penjuru Basrah. Hingga para qadhi, para ulama, dan orang terpandang lainnya, ikut datang. 

Saat itu kami melihat tentara pemilik istana berjalan di belakang jenazah, dengan tak beralas kaki, dan rambut yang tak tertutup, hingga jenazah tersebut dikuburkan. Saat orang-orang ingin pergi pulang, tentara tadi berkata kepada qadhi dan para saksi, “Persaksikanlah, seluruh hamba sahaya perempuanku telah saya bebaskan karena Allah ‘Azza wa Jalla, juga seluruh tanah dan properti milikku telah saya waqafkan untuk sabilillah. Dan saya juga memiliki uang sebanyak empat ribu dinar di kotak uangku, ia juga saya waqafkan untuk sabilillah.”

 Setelah itu dia melepas baju atasannya yang dia kenakan, dan dia lemparkan baju itu, sehingga dia hanya mengenakan celana saja. Melihat itu qadhi berkata, “Saya punya dua kain, pakailah dua-duanya!” Tentara tadi berkata, “Silakan.” Kemudian dia mengenakan salah satu kain untuk kain bawahnya, dan mengenakan satu kain lagi sebagai baju bagian atas. Setelah itu dia berjalan menunduk. Orang-orang yang melihatnya pun menangis melebihi tangisan mereka atas mayit itu.

---------------------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Cetakan Pustaka al-Kautsar, hal. 118-119

Post a Comment for "Kisah Seorang Sufi dan Pemilik Istana"