Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Kisah Umar bin Abdul Aziz Bersama Budak Cantik


Haitsam bin Adi berkata, Fathimah putri Abdul Malik bin Marwan, istri Umar bin Abdil Aziz mempunyai seorang hamba sahaya yang cantik jelita. Umar bin Abdil Aziz merasa tertarik dengannya, sebelum dia memangku jabatan sebagai khalifah. Maka dia pun meminta hamba sahaya itu dari istrinya dengan sangat. Namun istrinya menolaknya dan merasa cemburu. Hal itu terus tersimpan dalam keinginan Umar. Saat dia memangku jabatan khalifah, maka Fathimah memerintahkan hamba sahayanya untuk mendatangi Umar. Hamba sahaya itu pun didandani dengan baik dan diberi perhiasan yang indah. Dia adalah perempuan yang menjadi buah bibir dalam keindahan dan kecantikannya. Fathimah kemudian mengantarkan hamba sahaya itu kepada Umar. Dia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, engkau selama ini merasa tertarik dengan si fulanah, hamba sahayaku. Dan engkau pun menanyakan tentang dirinya. Namun saya menolak keinginanmu selama ini. Pada hari ini, saya merelakan keinginanmu, maka saya hantarkan dia kepadamu. Saat Fathimah mengatakan hal itu, tampak kebahagiaan terlihat di wajah Umar bin Abdil Aziz. Kemudian dia berkata, “Baik, tolong antarkan dia ke sini.” Fathimah pun mengantarkannya kepadanya. Saat dia melihatnya, dia makin merasa tertarik dengannya. Sehingga keinginannya terhadapnya makin bertambah. Dia pun berkata kepadanya, “Bukalah bajumu.” Saat hamba sahaya itu ingin membuka bajunya, dia berkata, “Tahan dulu. Duduklah. Ceritakanlah kepadaku siapakah tuanmu sebelumnya? Dan bagaimana perjalananmu hingga menjadi hamba sahaya Fathimah?”

Ia menjawab, “Hajjaj bin Yusuf telah meminjamkan uang ke salah seorang pegawainya di Kufah. Dan saya adalah hamba sahaya orang itu. Kemudian dia menjadikan saya sebagai ganti hutangnya, bersama seorang hamba sahaya dan sejumlah harta. Hajjaj kemudian memberikan saya kepada Abdul Malik bin Marwan, sedangkan saya saat itu seorang perempuan yang masih kecil. Selanjutnya Abdul Malik memberikan saya kepada putrinya, Fathimah.” Ia bertanya, “Apa yang telah diperbuat oleh pegawai tersebut?” Ia menjawab, “Sudah meninggal.” “Apakah dia meninggalkan anak keturunan?” “Iya.” “Bagaimana keadaan mereka?” “Buruk.” “Kemaslah bajumu.” Kemudian dia menulis surat ke Abdul Hamid, seorang pegawainya, agar mengutus Fulan bin Fulan kepadanya. 

Ketika dia sampai padanya, dia berkata, “Sebutkanlah hutang-hutang yang diberikan Hajjaj kepada ayahmu.” Maka semua hutang yang disebutkan segera dilunasinya. Kemudian dia memanggil hamba sahaya itu. Ketika dia memegang tangannya, dia berkata kepada orang itu, “Engkau harus hati-hati terhadap hamba sahaya ini. Karena engkau masih muda. Dan barangkali ayahmu telah menggaulinya.” Lelaki itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, dia menjadi milikmu” Umar menjawab, “Saya tidak menginginkannya.” Ia berkata, “Jika demikian, belilah dia dariku.” Umar berkata, “Berarti saya bukan orang yang bisa menahan hawa nafsu.” Maka pemuda tersebut membawa hamba sahaya tadi. Dan hamba sahaya itu berkata kepada Umar, “Di manakah rasa cintamu terhadapku, wahai Amirul Mukminin?” Umar menjawab, “Rasa itu tetap sebagaimana adanya, dan malah bertambah.” Dan rasa cinta kepada hamba sahaya itu tetap ada dalam hati Umar hingga dia meninggal dunia.

-----------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh. Karya Ibnul Jauzi, hal. 75-76

Post a Comment for "Kisah Umar bin Abdul Aziz Bersama Budak Cantik"