Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Mimpi Umar bin Abdul Aziz

Abu Hazim berkata; Saya pernah berkunjung ke Umar bin Abdil Aziz saat dia sudah menjadi khalifah. Ketika dia melihatku, dia mengenalku, tapi saya tidak mengenalinya karena penampilannya yang lusuh. Dia pun memanggilku, dan saya pun mendekat kepadanya. Saya bertanya, “Apakah engkau Amirul Mukminin?” Dia menjawab, “Iya, benar.” Saya bertanya lagi, “Bukankah engkau dalu gubernur kami di Madinah? Yang mengendarai kendaraan yang megah, pakaian yang indah, wajah yang bersinar cerah, makanan yang nikmat, istana yang gemerlap, dan dikelilingi para hamba sahaya yang siap melayanimu. Apa yang membuat penampilanmu menjadi sangat berubah seperti ini setelah engkau menjadi khalifah?” 

Mendengar pertanyaan itu dia menangis. Kemudian dia berkata, “Wahai Abu Hazim, bagaimana menurutmu kondisi tubuhku jika engkau melihatnya setelah tiga hari dimasukkan dalam kubur? Saat kedua mataku sudah meleleh ke pipiku, lidahku sudah kering, perutku sudah pecah, dan belatung sudah memakan tubuhku, tentu engkau akan makin tidak kenal diriku! Ulangilah hadits yang engkau bacakan kepadaku saat di Madinah.” Saya berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya mendengar Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata; Saya mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن بين يديكم عقبة كؤود مضرسة, لا يجوزها إلا كل ضامر مهزول

“Di hadapan kalian di akhirat nanti akan ada rintangan yang tinggi dan sulit, yang hanya bisa dilewati oleh orang yang kurus tubuhnya dan lemah.” (dha’if, Kanz al-‘Umal 16/6 dan dha’iful jami’ no 4655)

Mendengar itu, dia pun menangis cukup lama. Setelah itu dia berkata kepadaku, “Apakah tidak sepatutnya jika saya menguruskan tubuhku agar melewati rintangan tersebut? Dengan harapan saya bisa melewatinya pada saat itu. Dan saya merasa, dengan adanya cobaan menjadi pemimpin umat ini, sulit bagiku untuk selamat.” Setelah itu dia berbaring tertidur, dan orang-orang pun berbicara. Saya berkata kepada mereka, “Rendahkanlah suara kalian, bukankah kalian tahu saat ini sudah larut malam. Setelah itu Umar bin Abdil Aziz terlihat mengeluarkan keringat yang sangat banyak, setelah itu dia menangis hingga senggukannya terdengar keras, kemudian dia tersenyum. Maka saya mendahului orang orang untuk bertanya kepadanya; Wahai Amirul Mukminin, saya melihat keanehan pada dirimu, engkau menangis keras, namun kemudian tersenyum, ada apakah?” 

Dia balik bertanya, “Apakah engkau melihatnya?” Saya menjawab, “Iya saya melihatnya, demikian juga orang-orang di sekitarmu.” Dia berkata, “Hai Abu Hazim, saat saya meletakkan kepalaku di tempat ini, saya tertidur, dan saya bermimpi seakan-akan kiamat sudah terjadi, dan manusia berkumpul. Ada yang memberitahukan, jumlahnya seratus dua puluh baris. Dari jumlah tersebut, umat Nabi Muhammad menjadi mayoritas dalam delapan puluh barisan, sambil memfokuskan perhatian mereka menunggu suara panggilan, siapa yang dipanggil untuk dihisab. Tiba-tiba dipanggillah: mana Abdullah bin Utsman Abu Bakar Ash-Shiddiq? Dia pun menjawab. Kemudian malaikat membawanya. Mereka meletakkannya di hadapan Rabb nya ‘Azza wa Jalla, selanjutnya dihisab, dan dinyatakan selamat. Dia kemudian dibawa ke arah kanan.

Setelah itu dipanggillah Umar, dan malaikat pun membawanya dan meletakkannya di hadapan Rabbnya ‘Azza wa Jalla, dan dihisab, kemudian dinyatakan selamat, dan dibawa ke arah kanan. Setelah itu dipanggillah Utsman, dia pun menyambut panggilan tersebut, dan selanjutnya dihisab secara ringan. Setelah itu dia diperintahkan untuk masuk surga. Berikutnya dipanggillah Ali bin Abi Thalib, dia pun dihisab, dan berikutnya diperintahkan masuk surga.

Ketika hampir datang waktuku untuk dipanggil, saya merasa seperti pingsan, berikutnya dipanggillah orang-orang yang saya tidak tahu kondisi mereka. Selanjutnya, dipanggillah; ‘Mana Umar bin Abdil Aziz?’ Keringat saya pun mengucur, dan kepadaku ditanyakan tentang segala hal yang besar maupun yang kecil hingga yang paling kecil, juga ditanyakan tentang segala masalah hukum yang telah saya tetapkan, selanjutnya saya diampuni. Berikutnya saya melewati bangkai yang terhampar di jalan. Saya pun bertanya kepada malaikat; ‘Siapakah ini?’ Mereka menjawab; ‘Orang ini jika engkau tegur dia dan ajak bicara, niscaya dia akan menjawabnya.’ Saya pun menggerakkan badannya dengan kakiku, dan orang itu mengangkat kepalanya kepadaku, dan membuka matanya. Saya bertanya kepadanya; ‘Siapakah engkau?’ Dia balik bertanya; ‘Engkau sendiri siapa?’ Saya menjawab; ‘Umar bin Abdil Aziz.’ Dia bertanya; ‘Bagaimana keputusan Allah terhadapmu?’ 

Saya menjawab; ‘Dia telah memberikan anugerah-Nya kepadaku, dan menganugerahkan keselamatan kepadaku sebagaimana diberikan kepada Khalifah Rasyidin yang empat. Sedang yang lainnya saya tidak tahu apa yang Allah putuskan untuk mereka.’ Dia berkata; “Selamat untukmu atas anugerah yang telah engkau peroleh.’ Saya kemudian bertanya kepadanya; ‘Siapakah engkau?’ Dia menjawab; ‘Saya adalah Al-Hajjaj. Saya menghadap Allah dan saya dapati Dia Maha pedih siksaan-Nya.

Dia membunuhku berkali-kali sejumlah orang yang pernah saya bunuh. Dan saat ini saya berada di pengadilan Allah ‘Azza wa Jalla menunggu sebagaimana halnya orang-orang yang beriman, keputusan dari Rabb mereka, apakah akan diperintahkan ke surga atau ke neraka’.” Abu Hazim berkata, “Setelah mendengar penuturan mimpi Umar bin Abdil Aziz itu, saya bersumpah tidak akan mengatakan terhadap orang yang mengucapkan La Ilaha Illallah (tidak ada Tuhan kecuali Allah), sebagai penghuni neraka.” (lihat, Hilyatul Auliya 2/405 dan Mukhtashar Tarikh Dimasyq 8/320) 

------------------------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Cetakan Pustaka al-Kautsar, hal. 107-109

1 comment for "Mimpi Umar bin Abdul Aziz"