Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Nasihat Sang Rahib Kepada Abdul Wahid bin Yazid

Dari Abdul Wahid bin Yazid, dia berkata; Suatu hari saya melihat seorang rahib di jalan. Saya pun bertanya kepadanya, “Siapa yang engkau sembah?” Dia menjawab, “Saya menyembah yang menciptakan saya dan engkau.” Saya bertanya, “Apakah dia Mahabesar?” Di menjawab, “Sangat Besar, keagungannya mengalahkan segala sesuatu.” “Kapan seorang makhluk mencapai kedekatan dengan Penciptanya?” “Saat kecintaan kepada-Nya murni, maka saat itulah dia meraih kedekatan dengan-Nya.” “Kapan kecintaan itu murni?” “Ketika seluruh perhatiannya tercurah kepada cinta tersebut, dan selanjut nya digerakkan menjadi ketaatan kepada-Nya.”

“Kapan hubungan kedekatan itu menjadi murni?” “Saat seluruh keinginan menjadi satu hanya menuju kepada-Nya.” “Bagaimana engkau meraih kesatuan?” “Jika engkau telah merasakan kesatuan, niscaya engkau akan merasakan kegersangan terhadap jiwamu.” “Apa sesuatu yang paling dirasakan seseorang saat meraih kesatuan?” “Rasa kedamaian dari keharusan berbasi-basi dengan manusia, dan merasa aman dari kejahatan mereka.” “Apa yang membantu untuk mengurangi makan?” “Dengan cara hati-hati dalam mencari penghasilan” “Tambahkan!” “Makanlah yang halal, setelah itu engkau boleh tidur di mana pun engkau mau” “Mana jalan menuju kedamaian?” “Dengan melawan hawa nafsu” “Kapan seorang hamba mendapatkan kedamaian?” “Saat kakinya telah berada di surga” “Mengapa engkau tinggalkan dunia dan memilih berdiam diri di biara ini?”

“Karena siapa yang berjalan di atas bumi, dia akan mendapatkan kesulitan dan dia akan takut terhadap pencuri. Maka dia menggantungkan harapannya dan berlindung dengan Tuhan yang berada di langit dari kejahatan penduduk bumi. Karena mereka adalah para pencuri akal. Sehingga saya pun takut jika mereka mencuri akalku. Sedangkan hati ini, jika dia telah tersucikan, dia akan merasa sempit dengan keberadaannya di bumi ini. Sehingga dia pun lebih senang untuk mendekatkan diri dengan langit. Dan lebih banyak berpikir tentang dekatnya kematiannya. Dia pun merasa senang untuk berpulang kepada Allah Ta’ala. “Hai rahib, dari mana engkau makan?” “Dari hasil tetumbuhan yang tidak saya tanam. Tapi ditanam oleh Tuhan Yang Mahalembut dan Maha Mengetahui. Dia pula yang meletakkan alat penumbuk makanan ini” sambil dia menunjuk ke gigi gerahamnya. 

“Bagaimana kondisimu saat ini?” “Seperti orang yang ingin pergi jauh tapi tanpa persiapan. Dia akan tinggal dalam kubur tanpa teman. Kemudian dia akan berdiri di hadapan Hakim yang Maha Adil.” Setelah itu dia mengarahkan matanya ke tempat jauh, dan menangis. “Apa yang membuatmu menangis?” “Saya mengingat hari-hari yang telah berlalu, namun saya belum banyak melakukan amal kebaikan. Dan saya berpikir tentang sedikitnya bekalku, saat kematian datang dan penentuan apakah saya masuk ke surga atau neraka” “Rahib, apa yang membuat kesedihan?” “Lamanya berada di negeri asing. Bukanlah orang asing yang pergi dari satu negeri ke negeri lain. Namun orang asing adalah orang saleh yang berada di antara orang-orang fasik.” Kemudian dia melanjutkan, “Cepatnya mengucapkan istighfar adalah taubatnya orang-orang pendusta. Seandainya lidah mengetahui apa yang dia mintakan istighfar, niscaya dia akan kering saat beristighfar. Dunia ini semenjak dihuni oleh kematian, dia tidak pernah merasa tenang. Setiap kali dunia ini menikah, maka dia ditalak oleh kematian.” 

Kemudian dia melanjutkan, “Saat hati manusia telah lurus, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa besarnya. Jika seorang hamba berniat untuk meninggalkan dosa, niscaya kepadanya akan datang ilham dan doa mustajab yang digerakkan oleh kesedihan.” “Apakah saya boleh menemanimu, hai rahib?” “Apa yang bisa saya perbuat denganmu, sedangkan bersamaku ada Tuhan yang memberikan rezeki dan mencabut nyawa, yang menggerakkan rezeki kepadaku. Dan tidak ada seorang pun bisa melakukannya selain-Nya. Wassalamu ‘alaik.” (lihat, Mukhtashar Tarikh Dimasyq 1/419)

---------------------------------------------------------------------

sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Cetakan Pustaka al-Kautsar, hal. 100-102

Post a Comment for "Nasihat Sang Rahib Kepada Abdul Wahid bin Yazid"