Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Seseorang Yang Meninggal Dunia Karena Membaca al-Quran

Shalih Al-Murri menyampaikan kepada kami, satu cerita dari Al-Kharraz, bahwa Malik bin Dinar berkata; Wahai Abu Shalih, antarkan saya ke Jabban, karena saya telah berjanji dengan beberapa orang sahabatku, untuk menziarahi Abu Juhair Mas’ud Adh-Dharir, dan mengucapkan salam kepadanya. Shalih berkata, “Abu Juhair ini adalah seorang yang telah memutuskan hidup di sebuah zawiyah (tempat kecil) terpencil, untuk beribadah. Dia hanya datang ke Bashrah pada hari Jumat di waktu shalat, kemudian langsung kembali ke zawiyahnya. Maka saya pergi untuk memenuhi janji pergi bersama Malik bin Dinar ke Jabban. Saya sampai ke tempat pertemuan, dan Malik telah mendahuluiku. Di situ saya melihat dia bersama Muhammad bin Wasi’, Tsabit Al-Bunani, dan Habib. Ketika saya melihat mereka telah berkumpul, saya pun berkata, “ini adalah hari kebahagiaan.” Kemudian kami berjalan bersama menuju tempat Abu Juhair. 

Malik bin Dinar jika melewati tempat yang bersih, dia berkata, “HaiTsabit, shalatlah di sini, barangkali tempat ini akan menjadi saksi bagimu pada suatu hari nanti.” Kami pun mendatangi tempat Abu Juhair, dan mencarinya. Orang-orang menjawab bahwa dia sedang pergi shalat. Maka kami pun menunggunya. Kemudian keluarlah seorang lelaki yang boleh dikatakan seperti orang yang baru keluar dari kuburnya. Tahu-tahu ada orang yang datang, lalu dia mengambil tangan lelaki itu hingga sampai pintu masjid. Lalu, dia diam sebentar. 

Selanjutnya dia masuk masjid dan menunaikan shalat, sebanyak yang dia mau. Setelah itu dia menunaikan shalat wajib, dan kami pun shalat bersamanya. Setelah dia selesai shalat, dia pun duduk dengan penampilan seperti orang yang sedang memikirkan masalah besar. Orang-orang kemudian mengucapkan salam kepadanya. Berikutnya Muhammad bin Wasi’ maju, dan mengucapkan salam kepadanya. Dia pun membalas salamnya. Dia bertanya, “Siapa engkau? Saya tidak mengenal suaramu.” Muhammad bin Wasi’ menjawab, “Saya datang dari Bashrah.” “Siapa namamu? Semoga Allah merahmatimu.” “Saya Muhammad bin Wasi’.” “Ahlan wa marhaban, selamat datang. Engkau yang dikatakan oleh orang orang itu –sambil dia menunjuk ke arah Bashrah– sebagai orang yang terbaik dari mereka di sisi Allah. Dan, jika engkau beribadah, engkau bersyukur karena diberikan taufiq oleh Allah untuk beribadah. Duduklah.” Dia pun duduk.

Kemudian Tsabit Al-Bunani berdiri dan mengucapkan salam kepadanya. Dia pun membalas salamnya. Dan bertanya, “Siapa engkau? Semoga Allah merahmatimu.” Tsabit menjawab, “Saya Tsabit Al-Bunani.” “Marhaban hai Tsabit, engkau dianggap oleh penduduk kota sebagai orang yang paling panjang shalatnya. Duduklah. Saya telah lama berharap kepada Rabbku agar bisa bertemu denganmu.” Kemudian Habib Abu Muhammad berdiri dan mengucapkan salam kepadanya. Dia pun membalas salamnya. Dan bertanya, “Siapa engkau? Semoga Allah merahmatimu” Habib menjawab, “Saya adalah Habib Abu Muhammad.” Ia berkata, “Marhaban, hai Abu Muhammad. Engkau adalah orang yang disangka oleh orang-orang itu bahwa jika engkau berdoa sesuatu kepada Allah niscaya Allah akan mengabulkannya. Apakah engkau tidak meminta kepada Allah agar menyembunyikan hal itu? Duduklah, semoga Allah merahmatimu.” 

Kemudian dia menggait tangannya dan mendudukkannya di sampingnya. Selanjutnya Malik bin Dinar berdiri dan mengucapkan salam kepadanya. Dan dia pun menjawab salamnya. Setelah itu dia bertanya, “Siapakah engkau? Semoga Allah merahmatimu.” Malik menjawab, “Saya adalah Malik bin Dinar.” “Beruntung sekali.. Saya beruntung sekali! Hai Abu Yahya, jika benar engkau seperti yang mereka katakan, engkau adalah orang yang mereka sangka paling zuhud di antara mereka? Duduklah. Telah lengkap keinginanku terhadap Rabbku di dunia yang fana ini.” 

Shalih berkata; Saya kemudian berdiri untuk mengucapkan salam kepada nya. Namun saat itu dia menghadapkan mukanya ke orang banyak dan berkata, “Perhatikanlah, bagaimana keadaan kalian nanti dihadapan Allah pada pertemuan di hari kiamat.” Kemudian saya mengucapkan salam kepadanya. Dia menjawab salamku dan bertanya, “Siapakah engkau? Semoga Allah merahmatimu.” Saya menjawab, “Saya Shalih Al-Murri.” “Engkau adalah pemuda yang terkenal sebagai qari Al-Qur`an?” “Benar.” “Bacalah, hai Shalih. Karena saya senang mendengarkan bacaanmu.”

Shalih berkata, “Saat itu, saya merasa mendapatkan kemampuan yang pernah hilang dariku, maka saya pun mulai membaca. Saat saya membaca dan belum lebih selesai membaca isti’adzah, dia telah tergeletak pingsan. Setelah itu dia terbangun dan berkata; ‘Kembalilah, teruskan bacaanmu.’ Saya pun membaca ayat; 

Dia pun berteriak keras, dan selanjutnya wajahnya terjerembab. Setelah dia tenang, kami mendekatinya. Namun kami dapati dia telah meninggal dunia. 

Kami kemudian keluar dari tempatnya dan bertanya kepada orang-orang di sekitar. Apakah dia mempunyai sanak kerabat?” Mereka berkata, dia mempunyai seorang kerabat perempuan tua yang biasa mengurusi keperluannya. Maka kami memanggilnya. Perempuan tua itu pun datang dan bertanya, “Apa yang terjadi padanya?” Kami menjawab, “Kepadanya dibacakan Al-Qur`an, kemudian dia meninggal dunia.” “Benar yang telah dia katakan, demi Allah. Siapa yang membacakan Al Qur`an? Apakah dia Shalih Al-Murri?” Kami menjawab, “Benar. Dari mana engkau tahu kalau yang membacakan Al-Qur`an adalah Shalih Al-Murri?” 

Dia berkata, “Saya tidak mengenalnya. Namun saya sering mendengar dia mengatakan; Jika Shalih Al-Murri membacakan Al-Qur`an kepada saya, maka hal itu akan membuatku mati.” Saya berkata, “Dialah yang telah membacakan Al-Qur`an kepadanya.” Perempuan itu berkata, “Berarti dialah yang telah membunuh orang yang saya kasihi.” Kami kemudian menyiapkan penguburannya dan selanjutnya mengubur kannya. Semoga Allah merahmatinya. (lihat, Shifatus Shafwah 1/385 dan Mukhtashar Tarikh Dimasyq 7/156)

--------------------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Cetakan Pustaka al-Kautsar, hal. 97-100

Post a comment for "Seseorang Yang Meninggal Dunia Karena Membaca al-Quran"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa