Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Umar bin Abdul Aziz Saat Pertama Kali Menjabat Khalifah

Sahal bin Yahya Al-Marwazi berkata; Orangtuaku menceritakan dari Abdul Aziz bin Umar bin Abdil Aziz, dia berkata; Saat Umar bin Abdil Aziz menguburkan Sulaiman bin Abdil Malik, dan dia keluar dari lubang kubur, dia mendengar suara goncangan di bumi. Dia berkata, “Ada apakah ini?” Ada yang menjawab, “Itu adalah bunyi rombongan kendaraan kekhalifahan yang mendekat kepadamu untuk engkau kendarai.” “Apa perluku dengan kendaraan itu? Jauhkan dia dariku! Cukup dekatkan kepadaku keledaiku untuk saya kendarai!” Kepada Umar bin Abdil Aziz didekatkan keledainya, kemudian dia mengendarainya. Setelah itu pasukan penjaga keamanan berjalan di sampingnya dengan membawa senjata. Menyaksikan hal itu, Umar bin Abdil Aziz berkata kepadanya, “Menjauhlah dariku! Apa hubungannya saya denganmu? Saya hanyalah seorang muslim biasa.” 

Dia pun kemudian berjalan dan orang-orang berjalan bersamanya. Hingga dia masuk masjid. Dia pun menaiki mimbar. Dan orang-orang berkumpul di sekelilingnya. Dia kemudian berkata, “Wahai sekalian manusia, saya telah mendapatkan cobaan dengan jabatan ini tanpa saya ditanya maupun tanpa saya pinta, juga tanpa musyawarah dengan kaum muslimin. Saya telah mencabut baiat dari kalian terhadapku, maka pilihlah pimpinan lain untuk kalian.” Mendengar itu orang-orang berteriak, dengan satu teriakan, “Kami telah memilihmu sebagai pemimpin, wahai Amirul Mukminin. Kami juga telah ridha dengan kepemimpinanmu. Maka pimpinlah kami menuju kebaikan dan keberkahan.” 

Saat Umar bin Abdil Aziz melihat suara orang ramai telah mereda, dan mereka telah ridha terhadap kepemimpinannya, dia pun memberikan pujian kepada Allah dan mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dia berkata, “Saya berwasiat kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah. Karena ketaqwaan kepada Allah adalah pangkal keselamatan bagi segala sesuatu. Tidak ada nilai selain dengan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bekerjalah untuk akhirat kalian. Karena siapa yang bekerja untuk akhiratnya, niscaya Allah akan mencukupkan urusan dunianya.

Perbaikilah hati kalian, niscaya Allah akan perbaiki urusan lahir kalian yang terlihat. Perbanyaklah mengingat kematian, dan persiapkanlah perbekalan kalian dengan baik sebelum kematian itu datang kepadamu. Karena kematian adalah penghancur segala kenikmatan. Siapa yang tidak mengingat orang-orang tuanya, antara dirinya dengan Adam ‘Alaihissalam, niscaya dia tahu mereka itu sudah mati. Umat Islam ini tidak berbeda dalam mengimani Rabb mereka, juga Nabi mereka, juga dalam keimanan terhadap Kitab Suci mereka. Namun mereka berbeda-beda sikap karena masalah dinar dan dirham. Dan saya demi Allah tidak akan memberikan harta kepada seseorang dalam kebatilan, juga saya tidak akan mencegah orang untuk mendapatkannya jika itu memang haknya.

Setelah itu dia mengeraskan suaranya sehingga orang-orang mendengar. Dia berkata, “Hai manusia sekalian, seorang pemimpin yang taat kepada Allah maka dia wajib ditaati. Sedangkan jika dia tidak taat kepada Allah, maka dia tidak wajib ditaati. Taatilah saya selama saya taat kepada Allah. Adapun jika saya bermaksiat kepada Allah, maka tidak ada ketaatan kalian kepadaku. Setelah itu dia turun dan masuk ke dalam rumahnya. Dia minta agar gorden-gordennya didatangkan kepadanya dan dia pun kemudian menyobek nyobek gorden itu. Pakaian yang biasa dihamparkan untuk para khalifah, juga dia pinta agar dicopot dari tempatnya, kemudian dibawa ke pasar untuk dijual.

Harganya dia masukkan ke baitul mal. Setelah itu dia bersiap-siap untuk masuk ke peraduannya untuk tidur siang. Saat itu datanglah anaknya Abdul Malik. Dia bertanya kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang engkau ingin lakukan?” Dia menjawab, “Saya ingin tidur siang.” “Engkau ingin tidur siang, padahal laporan pengaduan masyarakat belum lagi diputuskan?” “Wahai anakku.. Saya telah bergadang kemarin, dalam mempelajari masalah-masalah yang ditinggalkan oleh pamanmu Sulaiman. Setelah nanti saya shalat zuhur, saya akan putuskan semua pengaduan itu.” “Wahai Amirul Mukminin, siapa yang menjamin engkau akan hidup hingga zuhur?” Mendengar itu, Umar bin Abdil Aziz memanggil anaknya untuk mendekat. Dan berkata, “Mendekatlah kepadaku, hai anakku.” Anaknya pun mendekat.

Dia kemudian memeluknya dan mencium keningnya. Dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah melahirkan dari diriku seseorang yang membantuku dalam urusan agamaku.” Setelah itu Umar bin Abdil Aziz keluar dari rumahnya dan tidak jadi tidur siang. Dia memerintahkan pegawainya untuk menyebarkan berita, “Siapa yang mempunyai pengaduan, silakan mengajukannya sekarang.” Seorang kafir dzimmi dari penduduk Homs, yang sudah tua dipenuhui uban putih di kepala dan jenggotnya, berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya memintamu dengan Kitab Allah.” Umar bin Abdil Aziz bertanya, “Ada apa denganmu?” Dia menjawab, “Abbas bin Al-Walid telah merampas tanahku. Sedangkan Abbas menyaksikan kejadian itu.” Umar bin Abdil Aziz berkata, “Hai Abbas, apa jawabanmu?” Abbas berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Walid bin Abdil Malik telah memberikan tanah tersebut kepadaku, dan dia telah membuat sertifikat sah bagi tanah tersebut untukku.” Umar berkata, “Apa jawabanmu, hai dzimmi?” Dia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, saya meminta sesuai aturan Kitab Allah.”

Umar berkata, “Kitab Allah lebih berhak untuk diikuti daripada keputusan Al-Walid bin Abdil Malik. Sekarang, kembalikanlah tanah orang dzimmi ini, hai Abbas.” Dan Abbas pun mengembalikannya. Pada hari itu, tidak ada sesuatu yang berada di tangannya atau tangan keluarganya, yang didapat dari cara yang zhalim, kecuali dia kembalikan kepada pemiliknya. Tindakannya itu sampai beritanya kepada Umar bin Al-Walid bin Abdil Malik. Dia pun menulis kepada Umar bin Abdil Aziz, “Dengan perbuatanmu itu, engkau telah mengkritik para khalifah sebelummu dan mencela mereka. Engkau juga berjalan dengan cara yang berbeda dengan mereka, karena kebencian dan perlakuan buruk terhadap anak keturunan mereka setelahnya. Engkau telah memutus silaturahim yang telah Allah perintahkan untuk disambung, saat engkau mengambil harta kalangan Quraisy dan warisan-warisan mereka untuk kemudian engkau masukan ke Baitul Mal dengan cara yang curang dan melanggar aturan. Bertaqwalah kepada Allah, hai Umar bin Abdil Aziz, dan selalulah engkau muraqabah kepada Allah. Dan ketahuilah, bahwa engkau berada dalam pengawasan Allah yang Mahakuasa. Dan engkau tidak mungkin keluar dari kenyataan tersebut.” 

Setelah membaca surat tersebut, Umar bin Abdil Aziz menulis jawabannya kepadanya, “Bismillahirrahmanirrahim. Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin kepada Umar bin Al-Walid. Salam sejahtera bagi para rasul, dan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Amma ba’du.. Suratmu telah sampai kepadaku. Saya akan jawab sesuai isi suratmu. Adapun hal pertama, hai Ibnul Walid, sebagaimana engkau dikenal, ketahuilah ibumu adalah Bunanah, seorang perempuan hamba sahaya, yang sering keliling ke pasar Homs, dan masuk ke toko-tokonya. Kemudian Allah lebih mengetahui keadaannya. Setelah itu dia dibeli oleh Dzibyan bin Diyan dari harta fai’ kaum muslimin. Setelah itu dia menghadiahkannya kepada bapakmu. Dari sana, ibumu pun hamil, mengandung dirimu. Alangkah buruknya yang dia kandung! Dan alangkah buruknya anak yang dia lahirkan! Setelah itu engkau tumbuh besar menjadi sosok yang menindas dan sombong. Engkau menuduhku sebagai orang zhalim, karena saya telah mencegahmu juga keluargamu, dengan atas nama Allah, untuk mendapatkan harta yang merupakan hak keluarga dekat, kalangan miskin dan para janda. 

Padahal yang lebih zhalim dariku dan lebih meninggalkan hak Allah adalah orang yang menugaskanmu sebagai pegawai negara sementara engkau masih kecil dan tidak memiliki pengetahuan, dan engkau diberikan wewenang mengurus had bagi kaum muslimin. Engkau kemudian memutuskan perkara dengan pendapatmu semata. Hal itu hanyalah didorong oleh kecintaan seorang ayah terhadap anaknya. Celaka engkau! Dan celaka pula bapakmu! Alangkah banyaknya musuh pada hari kiamat nanti! Bagaimana mungkin orang bapakmu akan selamat dari musuh-musuhnya nanti? Dan orang yang lebih zhalim dariku serta lebih meninggalkan janjinya dengan Allah adalah orang yang mempekerjakan Al-Hajjaj bin Yusuf, yang senang menumpahkan darah yang haram, dan mengambil harta yang haram. Dan orang yang lebih zhalim dariku serta lebih meninggalkan janjinya dengan Allah adalah orang yang mengangkat Qurrah bin Syarik, seorang Arab Baduwi yang bertelanjang kaki, untuk menjadi gubernur di Mesir, dia mengizinkan penggunaan alat musik, foya-foya dan minum-minum! 

Orang yang lebih zhalim dariku dan lebih meninggalkan janjinya kepada Allah adalah orang yang menetapkan bagi kelompok Aliyah Barbar bagian seperlima orang Arab. Tenanglah, hai anak Bunanah! Jika dua kelompok Bathan bertemu, dan harta fai’ telah dikembalikan kepada yang berhak, saya akan menyelesaikan urusan denganmu dan keluargamu. Saya akan letakkan mereka di tempat yang terang. Seringkali kalian meninggalkan kebenaran, kalian juga mengutip dari biaya jalan. Dan lebih dari itu, saya ingin melihat engkau dijual sebagai hamba sahaya, agar nanti harga penjualanmu dibagi-bagikan kepada para yatim, orang miskin, dan para janda. Karena mereka masing-masing mempunyai hak pada dirimu. Salam bagi kami dan tidak ada salam bagi orang-orang zhalim.”

Saat Khawarij mendengar sirah Umar bin Abdil Aziz, dan tindakannya yang menghilangkan kezhaliman, mereka pun berkumpul dan berkata, “Kita tidak layak memerangi orang seperti ini.” (Lihat; Shifatu Ash-Shafwah (1/200), dan Mukhtashar Tarikh Dimasyq: (6/96).

------------------------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Cetakan Pustaka al-Kautsar, hal. 126

Post a comment for "Umar bin Abdul Aziz Saat Pertama Kali Menjabat Khalifah"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa