Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Umar Menangis Mendengarkan Syair Ini

Rabi’ meriwayatkan dari Al-Hasan, bahwa ada sekelompok orang mendatangi Umar bin Al-Khathab. Mereka bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, kami mempunyai seorang imam yang masih muda, jika dia shalat mengimami kami dia tidak keluar dari mihrab hingga dia mengucapkan satu untaian syair. Bagaimana sikap kami seharusnya?” Umar menjawab, “Ajaklah saya menemuinya.” Mereka pun berjalan bersama hingga sampai ke tempatnya. Dan mereka mengetuk pintunya. Pemuda itu kemudian keluar. Dan dia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ada apakah engkau datang ke sini?” Umar menjawab, “Saya mendengar berita yang tidak baik tentang dirimu. Dan saya ingin bertanya langsung kepada dirimu.” 

Pemuda itu bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, berita apakah yang sampai kepadamu?” Umar menjawab, “Saya mendengar bahwa engkau sering melantunkan untaian syair.” Pemuda itu berseru, “Untaian syair itu adalah nasihat yang saya tujukan kepada diriku.” Umar berkata, “Ucapkanlah syair tersebut.” Pemuda itu berkata, “Saya khawatir dianggap berbuat buruk jika saya mengucapkan syair tersebut di depanmu.” Umar berkata, “Tentu, jika syair tersebut berisi kebaikan, saya akan turut membaca syair tersebut bersamamu. Sementara jika buruk, saya akan cegah dirimu membacanya.” 

Pemuda itu mengangguk, kemudian dia melantunkan syairnya, 

“Setiap kali saya memarahi hati ini

Dia kembali ke kesenangan yang membuatku lelah

Saya tak lihat zaman, kecuali dia dalam kelalaian

Serta leha-leha yang menggelincirkanku

Hai rekan yang buruk, berapa lama bayi ini terus bermain

Sementara masa muda, telah datang dan berjalan

Sebelum saya mewujudkan suatu prestasi

Apa yang menantiku setelahnya, hanya kefanaan

Uban membatasi gerakku, buruk sekali nafsu ini

Saya tak melihatnya dalam kebaikan juga prestasi

Bukan nafsu dan keinginanku yang bermanfaat

Tapi Allah yang mengawasiku, juga yang saya takuti”

Mendengar itu Umar menangis. Kemudian dia berkata, “Dan silakan siapa yang mau mengucapkan syair itu.” Umar berkata, “Adapun saya mengatakan, “Hawa nafsuku, bukan dirimu juga bukan keinginanmu, Namun Allah yang mengawasiku, itu yang saya takuti.”

-----------------------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Cetakan Pustaka al-Kautsar, hal. 113-114

Post a Comment for "Umar Menangis Mendengarkan Syair Ini"