Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

MADRASAH AL-FATIH

Kisah Seorang Wali Yang Tinggal di Gunung

Abul Haitsam menceritakan dari Abdullah bin Ghalib, bahwa dia bercerita, “Saya keluar ke satu pulau, dan saya menaiki kapal laut. Kapal tersebut berlabuh di sebuah kampung di dekat gunung yang sepi tanpa ada yang menghuni. Saya keluar dari kapal. Selanjutnya saya keliling ke kampung yang lengang tanpa penghuni tersebut, untuk memperhatikan bekas-bekas penghuni kampung tersebut, dan bagaimana keadaan mereka. Saya memasuki sebuah rumah yang tampak bekas ditinggali.

Saya berkata, “Rumah ini mempunyai kedudukan tersendiri.” Selanjutnya saya kembali kepada sahabat-sahabatku dan berkata kepada mereka, “Saya memerlukan sesuatu dari kalian.” Mereka bertanya, “Apakah itu?” Saya berkata, “Agar kalian tinggal bersamaku malam ini di tempat ini.” Mereka menjawab, “Baik, kami bersedia.” Saya pun memasuki rumah tersebut, dan berkata, “Jika rumah ini ada penghuninya, tentu mereka akan kembali ke rumah ini pada saat malam.”

Ketika malam tiba, saya mendengar suara yang turun dari atas gunung. Sambil bertasbih, bertakbir, dan bertahmid. Suara tersebut terus terdengar hingga masuk rumah. Di dalam rumah tersebut saya hanya melihat kendi kosong, juga satu panci yang tidak terdapat makanan di dalamnya.

Orang itu kemudian shalat dalam waktu lama. Setelah itu dia mendatangi panci tempat makanan dan dia pun makan makanan dari panci tersebut. Berikutnya dia memuji Allah ‘Azza wa Jalla. Setelah itu dia mendatangi kendi tersebut dan meminum air darinya. Berikutnya dia bangun dan kembali shalat hingga subuh. Setelah masuk waktu subuh, dia pun bangun untuk shalat. Dan saya pun shalat di belakangnya. Selesai shalat dia bertanya kepadaku, “Semoga Allah merahmatimu. Engkau masuk ke rumahku tanpa izinku?”

Saya menjawab, “Semoga Allah merahmatimu! Saya hanya menginginkan kebaikan.” Saya bertanya, “Saya melihatmu mendatangi panci makanan tersebut dan engkau makan makanan darinya. Sementara saya telah melihat isi panci tersebut dan saya tidak melihat apa-apa di dalamnya? Demikian juga engkau mendatangi kendi tersebut dan meminum minuman darinya, padahal saya telah melihat kendi tersebut sebelumnya dan saya tidak melihat sesuatu di dalamnya?” Dia menjawab, “Benar, makanan apa pun yang saya inginkan dari makanan manusia, maka saya memakannya dari panci ini. Dan minuman apa pun dari minuman manusia yang saya ingin minum, saya meminumnya dari kendi ini.”

Saya kembali bertanya, “Jika engkau ingin memakan ikan segar?” Dia menjawab, “Demikian juga jika saya ingin memakan ikan segar.” Saya berkata, “Semoga Allah merahmatimu! Umat ini tidak diperintahkan untuk melakukan seperti engkau lakukan! Umat ini diperintahkan untuk shalat jamaah ke masjid, karena keutamaan shalat jamaah, juga menjenguk orang sakit, dan mengiringi jenazah.” Dia menjawab, “Di sana ada kampung yang mengerjakan semua yang engkau sebutkan tersebut, dan saya akan ke sana.” Dia berkorespondensi denganku dalam beberapa waktu, dan berikutnya surat-suratnya terhenti. Sehingga saya menyangka dia telah mati. Dan Abdullah bin Ghalib saat meninggal dunia, di dapati dalam kuburnya ada bau wangi minyak kesturi. (Lihat; Al-Awliya`/Ibnu Abid Dunya/hlm 80, dan Shifatu Ash-Shafwah (2/12).

-------------------------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Penerbit Pustaka al-Kautsar, Cetakan Pertama hal. 139-140

Post a Comment for "Kisah Seorang Wali Yang Tinggal di Gunung"