Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Biasa Sholat Seribu Rakaat Masih Mencela Dirinya Teledor


Diceritakan dari Abu Ja’far As-Sa`ih, bahwa dia mendapatkan cerita seperti berikut; Amir bin Abdi Qais adalah salah seorang abid (ahli ibadah) terbaik. Dia berkomitmen untuk shalat seribu rakaat setiap hari. Dia melakukannya mulai pagi sampai ashar. Jadi, sepanjang hari, mulai pagi sampai sore, dia terus shalat. Setelah itu, dia pulang dengan kondisi kedua betis dan kedua telapak kakinya bengkak. Lalu, dia berkata kepada dirinya sendiri, “Sesungguhnya, engkau diciptakan tidak lain untuk beribadah wahai engkau yang selalu menyuruh kepada kejelekan. Demi Allah, sungguh saya akan melakukan suatu amal yang akan membuatmu tidak pernah merasakan alas tempat tidur.”

Pada suatu kesempatan, Amir bin Abdi Qais pergi ke sebuah lembah bernama Wadi As-Siba’. Di lembah tersebut terdapat seorang abid lain dari Habasyah bernama Humamah. Amir bin Abdi Qais shalat di satu sisi dan Humamah shalat di sisi lain tanpa pernah saling mendatangi satu sama lain kecuali ketika waktu shalat fardhu tiba, maka mereka berdua akan shalat berjamaah.

Kemudian, setelah selesai shalat fardhu berjamaah, mereka berdua kembali ke tempat masing-masing. Hal itu terus berlangsung seperti itu selama empat puluh hari. 

Setelah empat puluh hari berlalu, Amir bin Abdi Qais berinisiatif meng hampiri Humamah. “Siapakah engkau, semoga Allah merahmatimu?” Tanya Amir bin Abdi Qais. “Tolong, biarkan saya dan jangan ganggu saya,” jawab Humamah. “Saya bersumpah, sungguh saya ingin engkau mau memberitahukan namamu,” kata Amir bin Abdi Qais. “Saya Humamah,” jawabnya. “Jika memang engkau adalah Humamah seperti yang saya ketahui, maka sungguh engkau adalah abid yang paling rajin beribadah di muka bumi ini. Maukah engkau memberitahuku tentang sesuatu yang paling utama?” Kata Amir bin Abdi Qais. 

“Saya ini adalah orang yang teledor. Seandainya waktu-waktu shalat fardhu tidak memaksaku memotong ritual rukuk dan sujudku, niscaya saya ingin menjadikan seluruh umurku untuk rukuk dan sujud saja, sampai saya menghadap kepada-Nya. Akan tetapi, waktu-waktu shalat fardhu tidak membiarkanku melakukan hal itu. Lalu, siapakah engkau?” Kata Humamah. “Saya Amir bin Abdi Qais,” jawabnya. “Jika memang engkau adalah Amir bin Abdi Qais yang saya ketahui, maka berarti engkau adalah orang yang paling rajin ibadah. Maukah engkau memberitahuku tentang sesuatu yang paling utama?” Kata Humamah. 

“Saya ini adalah orang yang teledor. Akan tetapi, ada satu hal, yaitu saya menanamkan keagungan Allah azza wa jalla di dadaku, hingga saya tidak merasa takut dan segan sedikit pun kepada selain Dia,” kata Amir bin Abdi Qais. Lalu, datang sejumlah binatang buas mengepung Amir bin Abdi Qais. Kemudian, ada seekor binatang buas yang meloncat menerkamnya dari belakang dan mencengkeram pundaknya, sementara dia membaca ayat 103 surat Hud, “Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadap)-Nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh semua makhluk).” Ketika melihat mangsanya sama sekali tidak takut dan dan tidak mempedulikannya, maka binatang buas itu pun berlalu pergi. 

“Wahai Amir, apakah engkau tidak takut dengan apa yang baru saja terjadi?” Kata Humamah. “Saya sungguh merasa malu kepada Allah azza wa jalla jika saya takut kepada selain Nya,” jawab Amir bin Abdi Qais. “Seandainya Allah tidak mengujiku dengan perut, sehingga jika kita makan, maka kita mesti buang air, niscaya selamanya saya akan selalu rukuk dan sujud,” kata Humamah. Dalam sehari semalam, dia shalat sebanyak delapan ratus rakaat, senantiasa mencerca dirinya sendiri dan berkata, “Saya adalah orang yang teledor.” Lihat; Al-Awliya` (101) dan Hilyatu Al-Awliya` (1/243).

------------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Penerbit Pustaka al-Kautsar, Cetakan Pertama hal. 152-154

Post a comment for "Biasa Sholat Seribu Rakaat Masih Mencela Dirinya Teledor"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa