Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Lebih Mementingkan Orang Lain Daripada Diri Sendiri




Abu Abdillah Al-Waqidi Al-Qadhi bercerita kepada kami; Waktu itu, hari raya sudah tiba, sementara saya sedang mengalami kesulitan ekonomi. Lantas, orang rumah menemuiku dan berkata, “Hari raya telah tiba, tapi kita tidak punya apa-apa yang bisa kita gunakan untuk merayakannya.” 

Lantas, saya pergi menemui salah seorang sahabatku. Dia adalah seorang saudagar. Saya menyampaikan kepadanya tentang kondisi perekonomianku waktu itu dan saya sangat membutuhkan pinjaman. Lalu, dia mengambil sebuah kantong tersegel berisikan uang sebanyak seribu dua ratus dirham dan menyerahkannya kepadaku. Saya pun menerimanya dan pamit pulang. 

Baru sebentar sampai di rumah, tiba-tiba salah seorang sahabatku yang lain datang. Dia adalah seorang Hasyimi (berasal dari Bani Hasyim). Dia menceritakan bahwa pemasukannya terlambat datang, sehingga dirinya membutuhkan pinjaman. Lantas, saya masuk menemui istriku dan menyampaikan hal tersebut. “Lalu, apa yang ingin engkau lakukan?” Tanya istriku. “Saya akan membagi dua uang dalam kantong ini,” jawabku. “Jika begitu, berarti engkau tidak berbuat apa-apa. Engkau datang menemui orang biasa, lalu dia memberimu uang sebanyak seribu dua ratus dirham. Kemudian, ada seseorang yang memiliki ikatan darah erat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menemuimu, lalu engkau hanya ingin memberinya separuh dari apa yang diberikan kepadamu oleh orang biasa tersebut?! Berikan semua uang itu kepada kawanmu si Hasyimi itu,” kata istriku.

Lalu, saya mengambil kantong uang yang ada dan menyerahkan semuanya kepada kawanku si Hasyimi tersebut. Kemudian, kawanku yang saudagar itu pergi ke rumah kawanku si Hasyimi yang juga merupakan kawannya juga untuk meminjam uang. Lantas, si Hasyimi menyerahkan kantong tersebut kepadanya. Ketika melihat kantong yang bersegel dengan cap cincinnya itu, dia pun tahu bahwa kantong itu adalah kantong yang dia berikan kepadaku. Lantas, dia pergi menemuiku dan menceritakan apa yang terjadi. 

Kemudian, utusan perdana menteri Yahya bin Khalid Al-Barmaki datang menemuiku dan menyampaikan pesannya untukku, “Saya terlambat mengutus utusanku kepadamu, karena saya baru sibuk mengurus keperluan Amirul Mukminin.”

Lantas, saya segera pergi memenuhi panggilan Yahya bin Khalid Al Barmaki. Kemudian, saya menceritakan kepadanya tentang kantong uang tersebut. “Pelayan, tolong ambilkan dinar-dinar itu,” kata Yahya kepada pelayannya. Maka, si pelayan datang membawa uang sebanyak sepuluh ribu dinar. Yahya berkata kepadaku, “Dua ribu dinar untukmu, dua ribu dinar untuk kawanmu si saudagar itu, dan dua ribu dinar untuk kawanmu si Hasyimi, sedangkan empat ribu dinar sisanya untuk istrimu, karena dia yang paling dermawan di antara kalian.” (Lihat; Mukhtashar Tarikh Dimasyq (7/100).

Note: 

*) Altruisme, yaitu paham (sifat) lebih memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain daripada diri sendiri, kebalikan dari egoisme. Dalam bahasa Arab, biasa disebut “itsar.” (Edt.)

------------------------------------------------------

sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Penerbit Pustaka al-Kautsar, Cetakan Pertama hal. 209-210

Post a comment for "Kisah Lebih Mementingkan Orang Lain Daripada Diri Sendiri"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa