Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Pemuda Terbaik


Diriwayatkan dari Said Al-Harbi, dia berkata; Pemuda-pemuda yang menjadi seperti orang tua dalam usia muda mereka. Jauh penglihatan mata mereka dari keburukan. Terbebas dari hiburan yang haram telinga mereka. Berat kaki mereka melangkah menuju kebatilan. Kosong perut mereka dari penghasilan haram. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang paling diridhai. Allah memandang mereka di tengah malam, sementara tulang punggung mereka membungkuk seraya membaca Al-Qur`an dan air mata mengalir di pipi mereka. Setiap kali melewati ayat yang menyebutkan tentang surga, mereka menangis rindu kepadanya. Setiap kali melewati ayat yang menyebutkan tentang neraka, mereka menjerit takut kepadanya, seakan-akan suara gemuruh api neraka terngiang-ngiang di telinga mereka dan seakan-akan akhirat berada di depan mata mereka. 

Tanah menggerogoti dahi dan lutut mereka karena begitu sering bersujud. Pucat warna kulit tubuh mereka karena tidak tidur malam dan dahaga. Mereka bersiap-siap menghadapi kematian, lalu mereka melakukan kesiapan itu dengan baik. Mereka mempersiapkan bekal, lalu mereka mempersiapkannya dengan baik.

Di waktu malam, mereka adalah orang-orang yang berjaga dan menangis. Di waktu siang, mereka adalah orang-orang yang bertadabur dan haus (puasa). Setiap kali mengingat dunia, maka bergeloralah kezuhudan mereka terhadap dunia, karena mereka sadar akan kefanaan dunia. Setiap kali mengingat akhirat, maka bergeloralah hasrat mereka kepada akhirat, karena mereka sadar akan keabadiannya. 

Maka, dunia begitu kecil serta remeh di mata mereka dan menjadi sesuatu yang dibenci oleh jiwa mereka. Maka, dunia yang awalnya sulit dikendalikan dan membangkang pun menjadi tunduk dan menurut kepada mereka. Bagi mereka, hidup di dunia adalah musibah, lantaran takut fitnah. Terbunuh, bagi mereka adalah sebuah nikmat, karena setelah itu ada kenyamanan, kelegaan, dan kesenangan yang mereka idam-idamkan. Bibir mereka tidak pernah mereda dari senyuman, dan kesedihan tidak pernah hilang dari hati mereka. 

Mereka mempersembahkan amal-amal yang mereka kerjakan sebagai simpanan untuk menghadapi dahsyatnya kengerian-kengerian di alam sana. Untuk itu, mereka tidak merasa gentar menghadapi kematian dan rela mengorbankan nyawa. Ketika dua kubu telah bertemu dan dua kelompok pasukan telah dibariskan, lalu mereka melihat anak panah telah dibelah pangkalnya sebagai tempat meletakkan tali busur, tombak-tombak telah diarahkan, pedang-pedang telah terhunus, barisan pasukan sudah mulai mengeluarkan petir-petir ancaman kematian, maka mereka meremehkan ancaman pasukan dengan ancaman Allah dan tidak meremehkan ancaman Allah dengan ancaman pasukan. Mereka lebih takut kepada ancaman Allah daripada ancaman pasukan, bukan sebaliknya. 

Kemudian, mereka menerjang maju hingga kepala mereka terpisah dari badan, kuda-kuda mereka menerjang masuk ke tengah-tengah pasukan musuh, menginjak mereka dengan kuku-kukunya dan menggilas mereka dengan ujung ujung kakinya. Setelah kedua kubu kembali pulang, binatang-binatang buas dan burung burung pemangsa segera berhamburan menuju ke arah jasad mereka. Berapa banyak tangan lepas dari tempatnya yang sebelumnya selalu digunakan oleh pemiliknya untuk menyangga tubuh di tengah malam dalam waktu yang lama. Berapa banyak kaki terpisah dari tempatnya yang sebelumnya selalu digunakan berdiri di tengah malam. Berapa banyak hati yang sobek sekatnya yang sebelumnya kering kehausan di tengah hari. Berapa banyak mata yang sebelumnya banyak terjaga di tengah malam dan selalu menangis bercucuran air mata karena takut kepada Allah berada di paruh burung pemangsa.

Selamat buat mereka atas apa yang telah mereka peroleh, selamat! Dosa dosa mereka terampuni sejak tetes darah pertama mereka dan mereka selamat dari himpitan di dalam kubur. Mereka keluar dari kubur dengan bergembira dan bahagia sambil menghunus pedang. Mereka selamat dari hukuman dan aman dari hisab. Di tempat kemuliaan manakah mereka tinggal?! Di tempat penuh kenikmatan manakah dari tempat kemuliaan itu mereka disambut?! Mereka tidak mengalami bencana dan malapetaka. Mereka masuk ke dalam surga dengan aman sejahtera. Di dalam surga, mereka memeluk bidadari. 

Sebelum dipanggil, para pelayan sudah datang mengelilingi mereka dengan membawa semua kenikmatan mereka. Berapa banyak orang yang menyambut sebuah hari, tapi dia tidak bisa mendapatkannya secara penuh, karena ajal keburu menjemputnya. Berapa banyak orang yang mengharap hari esok, tapi hari esok itu ternyata bukan lagi menjadi bagian dari umurnya. Seandainya kalian melihat umur dan perjalanannya, niscaya kalian membenci angan-angan dan tipu dayanya. 

--------------------------------------------------- 
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Penerbit Pustaka al-Kautsar, Cetakan Pertama hal. 197-199

Post a comment for "Kisah Pemuda Terbaik"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa