Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Perjalanan Dzun Nun al-Mishri


Said bin Utsman bercerita kepada kami, bahwa Dzun Nun Al-Mishri pernah bercerita tentang dirinya. Dzun Nun berkata; Waktu itu, dalam aktivitas berkhalwat yang sedang saya jalani, saya pergi ke tepi pantai. Di sana, saya memperhatikan luasnya lautan dan gulungan-gulungan ombak yang saling berbenturan dan datang silih berganti. Saya memperhatikan bagaimana omba ombak itu saling berbenturan dan menghasilkan kilauan-kilauan laksana seperti sinar api. 

Kebetulan, siang itu cuaca memang sedang cerah dan sangat panas. Kemudian, saya berjalan mendekat ke air. Tiba-tiba, saya melihat seseorang sedang berdiri shalat. Dia tampak seperti sesuatu yang sudah usang dan lusuh, mengenakan pakaian kesedihan, kedukaan, dan kesusahan. Lalu, saya menghampirinya dan menyapanya dengan salam. 

Ketika mendengar salam saya, lantas dia mempercepat shalatnya. Selesai shalat, dia langsung menjawab salam saya, “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakutuh, wahai Dzun Nun.” Saya berkata, “Wahai saudaraku tercinta, dari mana engkau tahu namaku?” Dia berkata, “Ruhku mengenal ruhmu dengan memecahkan penyumbat yang menghalangi hati.” “Saya lihat engkau sendirian?” Kataku kepadanya. “Seseorang, selama dia masih bersama dengan selain Allah, maka berkuranglah ketawakalannya,” jawabnya.

“Tidakkah engkau lihat luasnya lautan dan gulungan ombak yang datang silih berganti dan saling berbenturan satu sama lain? Bagaimana gulungan gulungan ombak itu saling berbenturan dan menghasilkan kilauan seperti sinar api?” Kataku kepadanya. “Ya, saya melihatnya. Saya kira engkau haus,” katanya. “Tolong tunjukkan kepadaku tempat yang airnya bisa diminum, karena saya ingin minum,” kataku kepadanya. “Sesungguhnya, di antara hamba Allah, terdapat hamba-hamba yang Allah beri minum dengan gelas cinta kasih, lalu dari itu mereka bisa merasakan lezatnya cita rasa makrifat dan mahabbah (kecintaan),” katanya. “Siapakah mereka, supaya saya bisa menemui mereka?” Kataku kepadanya. “Mereka itu adalah orang-orang yang menemui Allah  dengan jiwa ruhaniah, hati samawiah dan tujuan yang diridhai. Seandainya engkau melihat mereka, niscaya engkau melihat jiwa-jiwa yang gelisah, hati yang cemas dan mata yang menangis. Mereka itu adalah orang-orang yang memurnikan, lalu mereka dipilih. Orang-orang yang berpikir, lalu tahu dan paham. Orang-orang yang telah mendapatkan, lalu mereka pergi. 

Maka, cahaya hati terbuka untuk mereka. Lantas, mereka memandang pancaran cahaya dengan mata hati yang tersembunyi,” katanya. “Tolong deskripsikan tentang mahabbah (kecintaan kepada Allah),” kataku kepadanya. “Sesungguhnya, orang yang cinta kepada Allah , dia tenggelam dalam lautan kesedihan hingga sampai di dasar kedukaan, dan tidak ada sesuatu yang lebih menyedihkan hati dari ketakutan berpisah. Orang yang cinta kepada Allah, dia tidak lagi peduli dengan surga dan tidak pula neraka,” jawabnya. Kemudian, orang itu menjerit dan meninggal dunia. Semoga Allah merahmatinya.

-------------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Penerbit Pustaka al-Kautsar, Cetakan Pertama hal. 167-169

Post a comment for "Kisah Perjalanan Dzun Nun al-Mishri"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa