Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Perjuangan Menuntut Ilmu


Abul Hasan Al-Faqih Ash-Shaffar bercerita kepada kami; Kami adalah para santri yang sedang menuntut ilmu di majlis taklim Al-Hasan bin Sufyan An-Nasawi Al-Imam. Banyak orang-orang mulia dari berbagai penjuru negeri yang jauh datang ke majlis taklimnya untuk mengaji dan menulis hadits. Suatu hari An-Nasawi pergi ke majlisnya di mana dia mengajarkan hadits. Lalu, dia bertutur seperti berikut; Sebelum mulai menyampaikan hadits, kami ingin kalian mendengarkan lebih dulu apa yang akan kami sampaikan kepada kalian. Kami tahu, kalian berasal dari kalangan keluarga mampu dan terhormat. Kalian rela menempuh perjalanan jauh meninggalkan negeri kalian, kampung halaman kalian dan keluarga kalian untuk menuntut ilmu dan belajar hadits. 

Akan tetapi, jangan kalian pikir bahwa dengan semua pengorbanan dan perjuangan seperti itu serta semua biaya yang telah kalian keluarkan, kalian sudah menunaikan hak ilmu atau salah satu kewajibannya. Saya ingin bercerita kepada kalian tentang sedikit dari perjuangan berat, kesulitan, kepayahan dan kerja keras yang saya lakukan dalam menuntut ilmu. Saya juga ingin menceritakan kepada kalian tentang kondisi sangat sulit yang pernah saya dan kawan-kawan saya alami, lalu Allah menghilangkan kondisi tersebut berkat keberkahan ilmu dan kemurnian akidah.

Ketahuilah, pada saat menginjak usia muda, saya pergi meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu dan belajar hadits. Ketika di ujung negeri Maghrib hingga masuk ke Mesir, kebetulan saya bertemu dengan sembilan orang sahabat yang juga sama-sama penuntut ilmu dan pencari hadits. Kami mengaji kepada seorang syaikh yang saat itu merupakan ulama paling luhur kedudukan keilmuannya, paling banyak memiliki riwayat hadits, paling tinggi sanadnya, dan paling shahih riwayatnya. Setiap hari, syaikh kami itu hanya menyampaikan hadits dalam jumlah sedikit saja. 

Hal itu menyebabkan waktu yang kami perlukan untuk mengaji hadits kepadanya cukup lama dan panjang. Pada gilirannya, hal itu membuat kami kehabisan bekal, hingga kami terpaksa harus menjual pakaian yang kami bawa. Itu pun masih belum mencukupi, hingga kami tidak lagi memiliki apa-apa dan tidak bisa makan.

Selama tiga hari tiga malam, kami terpaksa tidak makan sama sekali. Memasuki waktu pagi di hari keempat, kami semua tidak memiliki daya dan tenaga sama sekali karena kelaparan. Kondisi tersebut memaksa kami berpikir untuk membuka topeng rasa malu dan merendahkan harga diri dengan meminta-minta. Akan tetapi, hati dan jiwa kami menolaknya dan tidak ada satu pun dari kami yang bersedia melakukannya.

Namun, karena kondisi yang ada sudah tidak bisa tertahan lagi, maka bagaimana pun juga, mau tidak mau, kami terpaksa meminta-minta. Lalu, kami sepakat untuk melakukan pengundian. Barangsiapa di antara kami yang namanya keluar, maka dialah yang bertugas meminta-minta dan mencari makanan untuk dirinya dan kawan-kawannya. Ternyata, dalam pengundian tersebut, kertas yang berisikan nama sayalah yang keluar. 

Saya pun bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, sementara diri ini tidak tega untuk meminta-minta dan merendahkan harga diri. Akhirnya, saya pergi ke salah satu sudut masjid. Di sana, saya mengerjakan shalat sebanyak dua rakaat yang panjang dan berdoa kepada Allah dengan Asma-Nya Yang Agung dan kalimat kalimatNya yang luhur agar menghilangkan kesempitan yang kami alami dan menggantinya dengan kelapangan. 

Belum selesai saya berdoa, tiba-tiba ada seorang pemuda ganteng, berpakaian bersih, rapi dan wangi masuk ke dalam masjid diikuti oleh seorang pelayan sambil membawa bungkusan. “Siapa di antara kalian yang namanya Al-Hasan bin Sufyan?” Tanya pemuda tersebut. Lantas, saya bangun dari sujud dan berkata, “Saya Al-Hasan bin Sufyan, ada keperluan apa?” “Amir Thulun mengucapkan salam untuk kalian dan meminta maaf kepada kalian atas kealpaannya dalam memperhatikan keadaan kalian dan kelalaiannya dalam memenuhi hak kalian. Dia mengirimkan bantuan yang bisa kalian pergunakan untuk memenuhi kebutuhan kalian selama beberapa waktu. Besok, dia akan datang mengunjungi kalian dan menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada kalian,” jawab pemuda tersebut.

Lantas, dia memberi masing-masing dari kami satu kantong uang berisikan seratus dinar. Kami pun merasa kaget dan terheran-heran dengan semua itu. “Apa sebenarnya yang telah terjadi? Bagaimana ceritanya” Tanyaku kepada pemuda tersebut. Dia pun bercerita; Saya adalah salah satu pembantu pribadi amir Thulun. Pagi tadi, saya bersama sejumlah kawanku datang menemuinya untuk mengucapkan salam kepadanya. “Hari ini, saya ingin sendiri. Untuk itu, silakan kalian pulang ke rumah masing-masing,” kata amir Thulun kepada saya dan yang lainnya.

Lalu, saya dan yang lainnya pun pulang ke rumah masing-masing. Setelah tiba di rumah, belum sempat saya duduk, tiba-tiba seorang utusan amir Thulun datang dengan tergesa-gesa dan menyampaikan pesan amir Thulun agar saya segera datang menemuinya saat itu juga. Lantas, saya pun langsung pergi ke rumah amir Thulun. Di sana, saya mendapatinya sedang sendirian di rumah dengan tangan kanan memegangi lambungnya karena rasa nyeri yang menyerang perutnya. 

“Apakah engkau tahu Al-Hasan bin Sufyan dan kawan-kawannya?” Tanya amir Thulun kepadaku. “Tidak,” jawabku. “Pergilah segera ke masjid anu di daerah anu dan langsung serahkan kantong-kantong uang ini kepada Al-Hasan bin Sufyan dan kawan-kawannya. Saat ini, mereka sedang kelaparan sejak tiga hari dengan kondisi yang sangat sulit. Sampaikan juga permintaan maafku kepada mereka dan beritahu mereka bahwa besok pagi saya akan datang mengunjungi mereka dan akan meminta maaf secara langsung kepada mereka,” kata amir Thulun memberikan instruksi kepadaku.

Kemudian, saya bertanya kepada amir Thulun tentang apa sebenarnya yang telah terjadi dan kenapa dia melakukan semua itu. Lalu, amir Thulun bercerita; Saya masuk ke rumah ini sendirian dengan maksud untuk beristirahat sejenak. Pada saat mata ini sudah terpejam tidur, saya bermimpi melihat seorang prajurit penunggang kuda di udara dengan penampilan siap pergi menjelajah sambil memegang sebatang tombak. Saya pun merasa heran melihat pemandangan seperti itu.

Lalu, prajurit itu turun ke pintu rumah ini dan meletakkan bagian bawah tombaknya di perutku. Lantas, dia berkata kepada saya; Segera pergi temui Al-Hasan bin Sufyan dan kawan-kawannya, bantulah mereka. Segera pergi temui mereka dan bantu mereka. Segera pergi temui mereka dan bantu mereka, karena saat ini mereka sedang kelaparan sejak tiga hari di masjid anu. “Siapa engkau?” Tanyaku kepada prajurit tersebut. “Saya ini adalah Ridwan, malaikat penjaga surga,” jawabnya. Sejak bagian bawah tombaknya mengenai perutku, saya merasakan nyeri yang teramat sangat di bagian perutku ini. Untuk itu, segera sampaikan uang ini kepada mereka, supaya rasa nyeri ini hilang. Selesai. 

Al-Hasan bin Sufyan An-Nasawi melanjutkan ceritanya; Mendengar cerita dari pemuda tersebut, kami pun merasa heran dan kagum dengan semua yang terjadi, dan kami pun memanjatkan puji syukur kepada Allah. Waktu itu, kami tidak ingin tetap tinggal berlama-lama di sana, supaya amir Thulun tidak jadi datang mengunjungi kami dan supaya orang-orang tidak mengetahui rahasia kami. Karena, jika hal itu sampai terjadi, maka nama kami akan terkenal, menjadi orang-orang yang dihormati dan disanjung. Akibatnya, hal itu berpotensi memunculkan riya dan sum’ah. 

Akhirnya, kami malam itu memutuskan untuk pergi meninggalkan Mesir. Masing-masing dari kami akhirnya menjadi sosok-sosok ulama paling mulia pada masa dan tempatnya. 

Pagi harinya, amir Thulun hendak datang untuk mengunjungi kami, tapi dia diberitahu bahwa kami telah pergi. Lantas, amir Thulun menginstruksikan untuk membeli tempat tersebut secara keseluruhan dan mewakafkannya untuk kepentingan masjid, untuk setiap orang asing, orang-orang mulia dan para penuntut ilmu yang singgah di sana untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan mereka, supaya mereka tidak mengalami apa yang pernah kami alami. Semua itu berkat kekuatan agama dan kemurnian akidah. Wallahu Waliyyut-taufiq (Lihat; Mukhtashar Tarikh Dimasyq (2/389).

-------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Penerbit Pustaka al-Kautsar, Cetakan Pertama hal. 185-188

Post a comment for "Kisah Perjuangan Menuntut Ilmu"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa