Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Ridha Dengan Takdir Allah


Diceritakan dari Said bin Al-Musayyib, bahwa Luqman berkata kepada putranya, “Wahai anakku, apa pun yang menimpa dirimu, baik yang engkau sukai maupun yang engkau benci, maka tanamkanlah dalam hatimu bahwa itu adalah yang lebih baik bagi dirimu.” Si anak menjawab, “Saya belum bisa melakukan apa yang ayah minta tersebut, sebelum saya membuktikan kebenarannya.” Luqman berkata, “Hai anakku, Allah telah mengutus seorang nabi. Mari kita pergi menemuinya, karena dia memiliki penjelasan mengenai apa yang tadi ayah katakan kepadamu.” “Mari ayah, kita pergi menemui nabi tersebut,” jawab si anak. 

Setelah mempersiapkan bekal yang cukup, lantas mereka berdua pun memulai perjalanan. Luqman naik keledai sendiri dan putranya naik keledai sendiri. Setelah berhari-hari melakukan perjalanan, akhirnya mereka berdua sampai di kawasan gurun. Sebelum menempuh padang gurun tersebut, mereka berdua terlebih dulu mempersiapkan diri, karena perjalanan yang akan dilalui sangat berat. Setelah beberapa lama berjalan menyusuri gurun, waktu siang pun datang. Cuaca mulai panas menyengat, perbekalan air dan yang lainnya mulai habis, keledai yang mereka berdua tunggangi pun mulai melambat jalannya. 

Akhirnya, Luqman memutuskan untuk turun dari atas keledai, lalu putranya juga melakukan hal yang sama. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Ketika sedang berjalan, Luqman melihat bayangan hitam dan asap mengepul di kejauhan. “Bayangan hitam berarti pohon dan asap berarti wilayah pemukiman berikut penduduknya,” kata Luqman dalam hati. Pada saat mereka berdua mempercepat langkah kaki, tiba-tiba telapak kaki putranya menginjak pecahan tulang hingga tembus ke atas. Lalu, putranya pun jatuh pingsan, sementara Luqman tidak menyadarinya. Dia baru mengetahui kalau putranya jatuh pingsan setelah dia menoleh ke belakang.

Melihat putranya jatuh, Luqman langsung bergegas menghampirinya, memeluknya dan berusaha mengeluarkan tulang tersebut dengan gigi-giginya. Lalu, dia menyobek surban yang dia pakai untuk digunakan membalut luka pada kaki si anak. Luqman memperhatikan wajah putranya, lalu kedua matanya menangis dan ada tetesan air matanya yang jatuh di pipi si anak. Hal itu membuat si anak siuman. 

“Wahai ayah, kenapa engkau menangis, sementara ayah bilang bahwa apa yang saya alami ini lebih baik bagi saya?” Kata si anak ketika melihat ayahnya menangis. “Bagaimana ini bisa lebih baik bagi saya, sementara bekal makanan dan minuman sudah habis, sedang kita berada di tengah gurun pasir seperti ini?! Jika ayah pergi melanjutkan perjalanan sendiri dan meninggalkan saya di sini seperti ini, pastinya ayah akan selalu dirundung duka dan kesedihan di mana pun ayah berada. Akan tetapi, jika ayah tetap di sini bersama saya, maka kita berdua akan mati semua. Lantas, bagaimana semua ini bisa lebih baik?!,” kata si anak melanjutkan ucapannya. 

“Anakku, saya menangis karena perasaan kasihan seorang ayah kepada anaknya. Sungguh, andaikan bisa, ayah akan menebus dirimu dengan seluruh apa yang ayah miliki dari dunia ini. Adapun pertanyaanmu, bagaimana semua ini bisa lebih baik bagimu, maka barangkali musibah yang menimpamu ini adalah untuk menyelamatkanmu dari malapetaka yang mungkin jauh lebih besar. Barangkali musibah yang menimpamu ini, jauh lebih ringan dari musibah yang dijauhkan darimu yang akan menimpamu seandainya engkau tidak mengalami musibah ini,” kata Luqman kepada si anak.

Ketika sedang berbincang dengan anaknya seperti itu, Luqman melihat ke arah depan dan ternyata dia tidak lagi melihat bayangan hitam dan kepulan asap. “Saya tidak melihat lagi kepulan asap dan bayangan hitam itu. Sudahlah, tidak apa-apa. Barangkali memang Tuhan memiliki rencana lain,” kata Luqman dalam hati. Ketika sedang merenung seperti itu, tiba-tiba muncul dari kejauhan sosok penunggang kuda warna putih dan hitam. Sosok itu mengenakan pakaian putih dan sorban putih yang melambai-lambai terkena terpaan angin. Luqman terus memperhatikan sosok tersebut. 

Ketika sudah dekat, tiba-tiba sosok itu menghilang dari pandangannya. “Apakah engkau (yang namanya) Luqman?” Tanya sosok tak kasat mata tersebut. “Ya, benar,” jawab Luqman. “Al-Hakim (yang bijak) itu?” Tanya sosok tersebut. “Seperti itulah orang-orang bilang,” jawab Luqman. “Apa yang dikatakan anakmu yang kurang arif ini kepadamu?” Tanya sosok tersebut. “Wahai hamba Allah, siapa engkau sebenarnya? Saya hanya mendengar suaramu, tapi tidak melihat sosokmu,” kata Luqman kepada sosok tersebut. “Saya Jibril. Hanya malaikat muqarabun atau nabi yang diutus saja yang bisa melihatku. Oleh karena itu, engkau tidak bisa melihat saya,” jawab sosok tersebut yang ternyata adalah Malaikat Jibril. 

“Apa yang dikatakan oleh putramu yang kurang arif ini?” Tanya Jibril kepada Luqman. “Jika engkau memang Malaikat Jibril, tentu engkau lebih tahu dariku apa yang dikatakan putraku,” kata Luqman membatin dalam hati. Jibril berkata, “Saya tidak tahu apa-apa mengenai engkau berdua, kecuali hanya bahwa saya ingin melindungi engkau berdua. Tuhanku memerintahkan kepadaku untuk melenyapkan kota tersebut, berikut semua orang yang ada di dalamnya dan apa yang ada di sekitarnya. Lalu, mereka memberitahuku bahwa engkau berdua ingin pergi ke kota tersebut. Lalu, saya berdoa kepada Tuhanku supaya menahan engkau berdua, jangan sampai engkau berdua berada di kota tersebut ketika saya menjalankan perintah pelenyapan terhadap kota itu. Akhirnya, Tuhan menahan engkau berdua di sini dengan cara membuat putramu mengalami apa yang dia alami tersebut. Seandainya Tuhan tidak membuat putramu mengalami hal tersebut, niscaya engkau berdua sudah ikut lenyap tertelan bumi bersama para penduduk kota tersebut.”

Kemudian, Jibril mengusapkan tangannya pada kaki putra Luqman yang terluka, lalu lukanya langsung sembuh dan dia bisa berdiri seperti semula. Lantas, Jibril juga mengusapkan tangannya pada wadah makanan dan minuman milik Luqman, lalu wadah itu kembali penuh dengan makanan dan air minum. Kemudian, Jibril mengangkat Luqman, putranya dan kedua keledainya, lalu melemparkan semuanya seperti melempar burung ke atas. Tiba-tiba, mereka berdua sudah berada di rumah kembali. (lihat Ar-Ridha ‘an Allah bi Qadha`ihi/Ibnu Abi Ad-Dunia (29).

----------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Penerbit Pustaka al-Kautsar, Cetakan Pertama hal. 175-177

Post a comment for "Kisah Ridha Dengan Takdir Allah"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa