Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Seorang Nenek Abidah (ahli ibadah)


Utsman Ar-Rajai bercerita kepada kami, dia berkata; Hari itu, saya pergi dari Baitul Maqdis menuju ke salah satu kota untuk suatu keperluan. Di tengah perjalanan, saya bertemu dengan seorang nenek mengenakan pakaian dan kerudung dari bahan bulu. Lantas, saya menyapanya dengan mengucapkan salam dan dia pun menjawab salam saya. “Nak, engkau datang dari mana?” Tanya si nenek itu kepada saya. “Dari kota anu,” jawabku. “Lantas, engkau mau kemana?” Tanya si nenek. “Ke kota anu untuk suatu keperluan,” jawabku. “Berapa jarak antara tempat tinggalmu dengan kota tujuanmu?” Tanya si nenek. “Delapan belas mil,” jawabku. “Kamu rela menempuh jarak sejauh delapan belas mil untuk suatu keperluan. Pasti keperluan engkau itu sangat penting,” kata si nenek. “Ya, benar,” jawabku. “Siapa namamu?” Tanya si nenek. “Utsman,” jawabku. “Wahai Utsman, kenapa engkau tidak meminta kepada pemilik kota itu untuk mengirimkan keperluanmu itu kepadamu, sehingga engkau tidak perlu susah payah menempuh perjalanan sejauh itu,” kata si nenek. 

Terus terang, saat itu, saya tidak paham apa yang dimaksud oleh si nenek. “Wahai nenek, saya sama sekali tidak kenal dengan pemilik kota itu,” jawabku kepadanya. “Wahai Utsman, hal apa sebenarnya yang sampai bisa membuat perkenalan engkau dengan-Nya begitu gersang dan memutus hubungan antara engkau dengan-Nya?” Kata si nenek. Mendengar ucapannya itu, saya lantas paham apa yang dia maksud. Lalu, saya pun menangis.

“Kenapa engkau menangis? Apakah engkau menangis karena sesuatu yang pernah engkau lakukan dan engkau lupa, atau karena sesuatu yang engkau lupa, lalu engkau mengingatnya?” Tanya si nenek. “Saya menangis karena sesuatu yang saya lupa, lalu ingat,” jawabku. “Wahai Utsman, panjatkanlah puji syukur kepada Allah yang tidak membiarkan dirimu tetap berada dalam kebingunganmu. Apakah engkau mencintai Allah?” Kata si nenek. “Ya, tentu saja,” jawabku. “Tolong, jujur kepadaku,” kata si nenek. “Benar, demi Allah, sungguh saya mencintai-Nya,” jawabku. “Memang, apa saja keunikan-keunikan hikmah Allah yang telah Dia berikan kepadamu ketika Dia membawa dirimu sampai pada mahabbah kepada-Nya?” Tanya si nenek. 

Mendapat pertanyaan seperti itu, saya pun kebingungan dan tidak tahu apa yang harus saya katakan.“Wahai Utsman, barangkali engkau termasuk orang yang menyembunyikan mahabbah,” kata si nenek melanjutkan. Saya pun masih kebingungan dan tidak tahu apa yang harus saya katakan. “Allah tidak ingin membiarkan keunikan-keunikan hikmah-Nya, rahasia rahasia makrifat dan mahabbah kepada-Nya terkotori oleh perilaku hati orang orang dungu,” kata si nenek melanjutkan. 

“Semoga Allah merahmatimu. Maukah engkau mendoakan saya agar Allah menyibukkan diri ini dengan sesuatu dari mahabbah kepada-Nya?” Kataku memohon. Lantas, si nenek mengibas-ngibaskan tangannya di wajahku. Lalu, saya mengulang kembali permohonan saya tersebut. “Wahai hamba Allah, pergilah untuk menyelesaikan keperluanmu. Sesungguhnya Sang Kekasih telah mengetahui apa yang dimunajatkan hati ini untukmu,” jawab si nenek. 

Lalu, dia berlalu pergi sambil berkata, “Seandainya tidak ada kekhawatiran akan terjadi sesuatu yang tidak baik, pastilah saya akan menyampaikan suatu keajaiban.” Kemudian, dia berkata, “Duh kerinduan yang tidak bisa terobati kecuali dengan-Mu, hati yang tidak bisa tenteram melainkan hanya kepada-Mu, sesungguhnya wajah ini malu kepada-Mu dan hati ini selalu ingin kembali kepada-Mu.”

Sungguh, demi Allah, saya tidak mengingat si nenek itu melainkan saya menangis dan tidak sadarkan diri. (lihat Shifatu Ash-Shafwah(1/477).

----------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Penerbit Pustaka al-Kautsar, Cetakan Pertama hal. 238-240

Post a comment for "Kisah Seorang Nenek Abidah (ahli ibadah)"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa