Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Taubatnya Seorang Pemabuk




Ja’far bin Sulaiman bercerita kepada kami dari Malik bin Dinar, dia berkata; Suatu ketika, saat saya sedang berjalan mengelilingi Baitul Haram dan dibuat kagum oleh banyaknya orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah, dalam hati saya berkata; Andai saya tahu, siapakah di antara mereka yang diterima ibadahnya, lalu saya akan menyampaikan ucapan selamat kepadanya, dan siapakah yang tertolak ibadahnya, lalu saya akan menyampaikan keprihatinan dan ucapan duka cita kepadanya.

Malam harinya, saya bermimpi seakan-akan ada orang berkata kepadaku, “Wahai Malik bin Dinar, engkau memikirkan para jamaah haji dan umrah. Demi Allah, sungguh Allah telah mengampuni mereka semua, kecil, besar, laki-laki, perempuan, hitam, putih, Arab dan non Arab, kecuali satu orang. Allah murka terhadapnya dan menolak ibadah hajinya. Malam itu, saya sangat gelisah dan sedih, karena saya pikir bahwa orang yang dimaksud adalah saya. 

Malam berikutnya, saya kembali mengalami mimpi yang sama. Hanya saja, dalam mimpi itu, dikatakan kepadaku, “Orang itu bukanlah engkau, tapi seorang laki-laki dari Khurasan, tepatnya dari kota Balkh. Orang itu bernama Muhammad bin Harun Al-Balkhi. Allah murka terhadapnya dan tidak sudi menerima ibadah hajinya.”

Esok paginya, saya lantas pergi menemui suku-suku Khurasan yang waktu itu sedang berkumpul di Makkah. “Apakah di antara kalian ada orang-orang dari Balkh?” Tanyaku kepada mereka setelah terlebih dulu mengucapkan salam. “Ya, ada,” jawab mereka. “Apakah di antara kalian ada yang bernama Muhammad bin Harun Al Balkhi?” Tanyaku kepada mereka. “Bagus! Bagus! Wahai Malik, engkau bertanya tentang seseorang yang di Khurasan tidak ada yang lebih rajin ibadahnya dan lebih zuhud darinya!,” jawab mereka.

Mendengar testimoni mereka yang memuji orang tersebut, saya pun merasa heran dan bingung, karena hal itu bertolak belakang dengan apa yang saya lihat dalam mimpi. “Tolong tunjukkan kepada saya, di mana dia sekarang?” Kataku kepada mereka. “Sejak empat puluh tahun lalu dia selalu berpuasa di siang hari, melaksanakan qiyamullail di malam hari dan tidak pernah tinggal kecuali di tempat-tempat yang sepi dan tidak berpenghuni. Kami kira, dia saat ini sedang berada di kawasan tidak berpenghuni yang ada di Makkah ini,” jawab mereka. 

Lantas, saya berkeliling mencari orang itu di kawasan tidak berpenghuni yang ada di Makkah. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya saya melihatnya sedang berdiri di balik sebuah tembok. Tangan kanannya putus dan diikat menggantung di lehernya. Kedua tulang selangkanya berlobang dan dimasuki rantai yang menjuntai ke bawah dan terikat pada dua belenggu yang terikat pada kedua kakinya. Waktu itu, dia sedang menunaikan shalat. 

Ketika merasakan langkah kakiku, maka setelah selesai shalat, dia lantas menoleh ke belakang. “Siapa engkau dan dari mana engkau?” Tanya dia kepadaku. “Saya Malik bin Dinar, dari Bashrah,” jawabku kepadanya. “Kamu Malik bin Dinar yang dibicarakan oleh penduduk Irak sebagai sosok berilmu dan zuhud?” “Yang punya ilmu adalah Allah, dan zahid sejati adalah Umar bin Abdil Aziz, dia menguasai dunia, lalu dia zuhud terhadapnya. Adapun saya, maka kezuhudan saya adalah karena memang saya miskin,” kataku kepadanya.

“Wahai Malik, apa gerangan yang membawamu datang kemari. Pasti, engkau telah bermimpi tentang diriku. Tolong, ceritakan mimpimu itu,” katanya. “Saya malu untuk menceritakannya kepadamu,” jawabku. “Tidak usah malu wahai Malik, ceritakan saja,” katanya. Lalu, saya pun menceritakan mimpiku itu kepadanya. Setelah mendengar nya, dia lantas menangis cukup lama. “Wahai Malik, mimpi seperti itu sudah berlangsung selama empat puluh tahun. Setiap tahun, ada orang zahid sepertimu yang mengalami mimpi seperti itu. Saya ini, calon penghuni neraka,” katanya setelah itu. 

“Apakah engkau pernah melakukan suatu perbuatan dosa besar?” Tanyaku kepadanya. “Ya, dosa saya besar, lebih besar dari bumi, langit, Al-Kursi dan Arsy!,” jawabnya.“Tolong ceritakan kepadaku, dosa apa itu, supaya saya bisa memperingatkan orang-orang terhadap dosa tersebut,” kataku kepadanya.

Lantas, dia pun bercerita; Hai Malik, dulu saya adalah seorang pemabuk. Pada suatu hari, saya minum-minum bersama seorang kawan. Setelah mabuk berat dan kehilangan kesadaran akal, lantas saya keluar dan pulang ke rumah. Sampai di depan rumah, saya lantas mengetuk pintu. Lalu, pintu dibukakan oleh seorang sepupu perempuanku dan saya pun masuk. 

Kebetulan, waktu itu, ibuku sedang menyalakan api tungku pembakaran roti dengan kayu, hingga bagian dalam tungku terlihat menyala putih karena sangat panas sekali. Melihat saya pulang ke rumah dalam kondisi sempoyongan karena mabuk, lantas ibuku langsung menghampiriku dan memarahiku, “Ini adalah hari terakhir bulan Sya’ban dan nanti malam adalah malam pertama bulan Ramadhan. Besok orang-orang menyambut pagi dengan puasa, sementara engkau justru menyambutnya dengan mabuk. Tidakkah engkau malu kepada Allah?!” 

Tidak terima diomeli, lantas saya menonjok ibuku. “Celaka dan sengsara engkau!,” kata ibuku setelah saya tonjok. Dikata-katai seperti itu, saya menjadi naik pitam. Lalu, dengan tidak sadar karena masih berada di bawah pengaruh minuman keras, saya lantas menyeret ibuku dan melemparkannya ke dalam tungku yang membara. Ketika melihatku, lantas istriku langsung membawaku ke dalam sebuah kamar dan mengunci pintunya dari luar, supaya kejadian ribut-ribut tidak didengar oleh tetangga.

Di penghujung akhir malam, pengaruh minuman keras sudah mulai menghilang dan saya mendapatkan kembali kesadaran akalku. Lalu, saya memanggil sepupu perempuanku dan memintanya untuk membukakan pintu kamar, tapi dia menjawab dengan jawaban yang kasar dan ketus. “Ada apa denganmu? Kenapa engkau berubah menjadi kasar seperti itu kepadaku? Padahal, selama ini engkau tidak pernah berperilaku seperti itu kepadaku,” kataku kepadanya. “Kamu pantas tidak saya kasihani!,” jawabnya. “Kenapa?” Tanyaku. “Kamu telah membunuh ibumu. Engkau melemparnya ke dalam tungku dan beliau terbakar!,” jawabnya.

Mendengar seperti itu, saya langsung tidak kuasa mahan diri dan langsung mendobrak pintu kamar, lalu langsung menuju ke ruang dapur. Ternyata benar, saya melihat ibuku terbakar seperti roti di dalam tungku. Lalu, mata ini melihat sebilah kapak. Tanpa pikir panjang, lantas saya meletakkan tangan kananku di ambang pintu, sementara tangan kiriku memegang kapak. Lalu, saya langsung memotong tangan kananku itu dengan menggunakan kapak tersebut. Kemudian, saya melubangi kedua tulang selangkaku ini. Lalu, saya ambil rantai dan memasangkannya pada kedua tulang selangkaku yang telah berlubang tersebut dan mengikatkannya pada belenggu yang ada di kedua kakiku ini. 

Waktu itu, saya mempunyai kekayaan sebesar delapan ribu dinar. Sebelum matahari terbenam, semua uang itu sudah habis saya sedekahkan. Saya juga memerdekakan dua puluh enam sahaya perempuan dan dua puluh tiga budak laki-laki. Saya juga mewakafkan tanahku di jalan Allah. sejak empat puluh tahun, saya terus berpuasa di siang hari, qiyamullail di malam hari dan setiap tahun saya pergi haji. Setiap tahun, pasti ada orang alim sepertimu yang mengalami mimpi serupa seperti yang engkau alami. Selesai.

Lalu, saya –Malik bin Dinar–menepuk-nepukkan (mengusap-usapkan) kedua telapak tanganku di depannya dan berkata kepadanya, “Wahai orang malang, api dosamu itu hampir bisa membakar bumi dan semua manusia yang ada di muka bumi ini.”

Lalu, saya beranjak menjauh darinya ke tempat di mana saya masih bisa mendengar suaranya, tapi tidak bisa melihat sosoknya. Kemudian, dia menengadahkan kedua tangannya sambil berucap, “Wahai Engkau Yang menghilangkan duka dan kesedihan, memperkenankan doa orang-orang yang sedang dalam kesulitan, wahai Sandaranku Yang Kuat, wahai Pencipta lautan yang dalam, wahai Tuhanku, wahai Yang Maha Membuka, wahai Engkau Yang di tangan-Mu lah kunci setiap kebaikan, saya berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, berlindung dengan mu’afah-Mu dari hukuman-Mu, dan saya berlindung kepada-Mu dari-Mu, saya tidak bisa menghitung pujian kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana pujian-Mu kepada-Mu. Janganlah Engkau memutus asa dan harapanku, sedang saya berharap kepada-Mu. Janganlah Engkau mengecewakan doaku, sedang saya berdoa memohon kepada Mu. Saya mohon nikmatnya hidup sebelum mati dan nikmatnya memandang kepada-Mu.”

Kemudian, saya pulang ke tempat tinggalku. Pada saat tidur, saya bermimpi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau berkata kepadaku, “Hai Malik, janganlah engkau buat orang-orang berputus asa dari rahmat Allah dan maaf Nya. Sesungguhnya Allah memandang kepada Muhammad bin Harun, lalu memperkenankan doanya dan memaafkan kesalahannya. Pergi dan temuilah dia, lalu sampaikan kepadanya; Sesungguhnya kelak pada hari kiamat, Allah mengumpulkan seluruh makhluk yang terdahulu dan yang kemudian di satu tempat, lalu mengambil qishash untuk yang tidak bertanduk terhadap yang bertanduk tanpa ada satu pun yang terlewatkan meski hanya seukuran dzarrah. Allah berfirman; Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, sungguh Aku benar benar akan membalas semua amal perbuatan meski seukuran seperseratus dzarrah.

Allah akan mengambil qishash untuk orang yang dizhalimi terhadap orang yang menzhaliminya. Allah mengumpulkan antara engkau dan ibumu wahai Muhammad bin Harun, lalu Dia memvonis engkau bersalah dan memerintahkan kepada malaikat supaya menggiring engkau ke neraka dalam kondisi terbelenggu dan terborgol dengan rantai yang berat. Lalu, engkau dilemparkan ke dalam neraka selama tiga hari tiga malam menurut waktu di dunia. Karena, Allah telah bersumpah bahwa tidak ada satu hamba yang meminum minuman keras dan membunuh jiwa yang diharamkan dibunuh, melainkan Dia pasti akan membuatnya mencicipi api neraka, sekalipun dia itu adalah Ibrahim Khalilullah. 

Kemudian, Allah memunculkan dalam hati ibumu rasa belas kasihan kepadamu, lalu mengilhamkan kepadanya untuk memohonkan ampunan kepada-Nya untukmu. Lalu, Allah memperkenankan permohonan ibumu itu. Lalu, ibumu mengulurkan tangannya kepadamu, kemudian engkau dan ibumu masuk surga.” 

Pada pagi harinya, saya –Malik bin Dinar– lantas pergi menemui Muhammad bin Harun dan menceritakan mimpiku itu kepadanya. Sungguh, demi Allah Yang mencabut nyawa Muhammad bin Harun, seakan-akan hidupnya seperti kerikil yang dilemparkan ke dalam sebuah baskom berisikan air (proses kematiannya begitu cepat). Lalu, dia pun akhirnya meninggal dunia dan saya termasuk salah seorang yang ikut menshalati jenazahnya.

--------------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Penerbit Pustaka al-Kautsar, Cetakan Pertama hal. 229-233

Post a comment for "Kisah Taubatnya Seorang Pemabuk"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa