Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Tentang Sabar dan Ridho


Diceritakan dari Al-Auza’i, bahwa ada seorang bijak pernah bercerita kepadanya seperti berikut; Waktu itu, saya ingin pergi ke Ar-Ribath (tempat berkumpulnya orang-orang sufi. Biasanya, terletak di wilayah perbatasan). Pada saat sampai di Arisy Mesir, atau daerah dekat Arisy Mesir, saya melihat sebuah kemah yang dihuni oleh seorang laki-laki buta dan buntung kedua tangan dan kakinya. Waktu itu, saya mendengar dia berucap, “Ya Allah, saya memuji-Mu dengan pujian sepenuh pujian makhluk-Mu atas nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan karena Engkau telah melebihkan saya atas kebanyakan dari makhluk yang Engkau ciptakan.”

Dalam hati saya membatin, “Sungguh, saya akan bertanya kepadanya tentang sesuatu yang telah Allah Azza wa Jalla ajarkan atau ilhamkan kepadanya.” Lantas, saya beranjak mendekatinya, menyapanya dengan salam dan dia pun menjawab salamku. “Saya ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu yang engkau berkenan untuk memberitahukannya kepadaku,” kataku kepada orang itu. “Jika memang saya memiliki pengetahuan tentang apa yang akan engkau tanyakan, maka saya akan menjawabnya,” jawab orang itu. “Atas nikmat atau keutamaan apa engkau memanjatkan puji dan syukur kepada Allah , sementara lengkap sudah musibah dan penderitaan yang engkau alami itu?” Tanyaku kepadanya. 

“Bukankah engkau melihat apa yang telah Allah perbuat terhadapku?” Kata orang itu. “Ya, tentu saja,” jawabku. “Demi Allah, sungguh seandainya Allah menumpahkan api dari langit pada diriku, hingga diri ini terbakar, memerintahkan gunung-gunung untuk runtuh menimpaku, hingga diri ini remuk, memerintahkan lautan untuk menenggelamkanku dan memerintahkan bumi untuk menelanku, niscaya yang terjadi adalah, saya tetap akan semakin cinta dan semakin memanjatkan puji syukur kepada-Nya. 

Saya ingin minta tolong kepadamu. Saya punya seorang anak laki-laku belia yang selama ini selalu membantuku setiap saya mau shalat dan berbuka puasa. Sejak kemarin, saya tidak melihatnya. Maukah engkau membantuku untuk mencarikan di mana dia?” Kata orang itu. Dalam hati, saya membatin, “Membantu seorang hamba seperti dia tentu merupakan sebuah amal baik yang bisa mendekatkan diri kepada Allah.” “Tentu saja,” jawabku. Lantas, saya pergi untuk mencari keberadaan anaknya. 

Ketika sampai di antara bukit-bukit pasir, saya dikagetkan dengan sebuah pemandangan yang memilukan. Seekor binatang buas sedang memangsa anak orang tersebut. Saya pun langsung membaca kalimat istirja’ dan bergumam dalam hati, “Bagaimana saya akan menyampaikan kejadian ini kepada orang tersebut dengan cara yang tidak sampai membuatnya mati karena kaget dan merasa terpukul.”

Lantas, saya kembali ke tenda orang tersebut dan mengucapkan salam. Lalu, dia pun membalas salam saya. “Wahai tuan, saya ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu. Apakah engkau bersedia menjawabnya?” Kataku kepadanya. “Jika saya memiliki pengetahuan tentang apa yang akan engkau tanyakan tersebut, maka saya akan menjawabnya,” jawab orang itu. “Apakah engkau yang lebih mulia kedudukannya di sisi Allah ataukah nabi Ayub?” Tanyaku kepadanya. “Tentu saja nabi Ayub lebih mulia dan lebih agung kedudukannya di sisi Allah daripada diriku,” jawabnya. “Bukankah Allah menguji Nabi Ayub dan dia sabar, hingga orang-orang yang semula dekat dengannya mulai menjauhinya?” Tanyaku kepadanya. “Ya, benar,” jawabnya.

“Begini, putramu yang engkau ceritakan kepadaku itu, tadi pada saat saya mencarinya, saya tiba di perbukitan pasir dan melihat putramu itu sedang dimangsa binatang buas,” kataku kepadanya menjelaskan. “Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang tidak menjadikan dalam hati ini rasa penyesalan dan kesedihan meratapi dunia,” kata orang tersebut setelah mendengarkan penjelasanku. Lalu, dia menarik nafas dengan merintih dan sejenak kemudian meninggal dunia. 

Lantas, saya pun membaca kalimat istirja` dan membatin dalam hati, “Siapa yang akan membantuku memandikan, mengkafani, dan memakamkannya?” Tidak lama kemudian, tiba-tiba lewat kafilah yang hendak menuju ke Ribath. Saya pun memanggil mereka. “Siapa engkau dan orang ini?” Tanya mereka setelah menghampiriku. Lantas, saya menceritakan kepada mereka tentang orang ini dan apa yang telah terjadi. Lalu, mereka turun dari unta mereka dan menderumkannya. Setelah itu, kami memandikan jenazah orang tersebut dengan menggunakan air laut, mengkafaninya dengan pakaian yang mereka bawa, menshalatinya, lalu memakamkannya di dalam kemahnya. 

Setelah semua selesai, lantas mereka pergi melanjutkan perjalanan, sementara malam itu saya tetap berada di sana. Di tengah malam, saya bermimpi melihat kawanku itu di sebuah taman hijau, mengenakan pakaian sutera hijau sedang membaca Al-Qur`an. “Bukankah engkau adalah kawanku itu?” Tanyaku kepadanya. “Ya, benar,” jawabnya. “Apa yang telah membuatmu mendapatkan apa yang saya lihat ini?” Tanyaku kepadanya. “Saya datang dari kelompok orang-orang sabar pada suatu derajat yang tidak mereka raih kecuali dengan kesabaran di saat mendapatkan ujian dan bersyukur di saat sejahtera,” jawabnya. (Lihat; Ash-Shabr wa Ats-Tsawab ‘Alaih (99)

Al-Auza’i berkata, “Sejak mendengar cerita dari orang bijak tersebut, saya selalu merasa senang kepada orang-orang yang mendapat ujian hidup.”

--------------------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Penerbit Pustaka al-Kautsar, Cetakan Pertama hal. 145-147

Post a comment for "Kisah Tentang Sabar dan Ridho"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa