Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kumpulan Nasihat Ibrahim bin Adham


Ibrahim bin Basyar Al-Khurasani bercerita kepada kami; Waktu itu, saya pergi ke Alexandria bersama Ibrahim bin Adham, Abu Yusuf Al-Ghasuli, dan Abu Abdillah As-Sinjari. Dalam perjalanan, kami lewat sungai Yordania. Lalu, kami memutuskan untuk berhenti dan beristirahat di sana. Waktu itu, Abu Yusuf Al-Ghasuli membawa bekal beberapa potong roti kering. Lantas, dia mengeluarkan roti roti itu dan menyuguhkannya kepada kami. Kami pun memakannya dan memanjatkan puji syukur kepada Allah. 

Selesai makan, saya berdiri berniat mau mengambilkan air minum buat Ibrahim bin Adham. Akan tetapi, Ibrahim bin Adham bergegas berdiri mendahului saya dan langsung berjalan menuju sungai dan masuk ke dalam air hingga sebatas lutut. Lalu, dia membaca basmalah, menciduk air dengan menggunakan kedua tangannya dan minum. Selesai minum, dia lantas memanjatkan hamdalah. Kemudian, dia keluar dari sungai, lalu duduk berselonjor. Kemudian dia berkata, “Wahai Abu Yusuf, seandainya para raja dan anak-anak mereka tahu kebahagiaan dan kenyamanan hidup yang kita rasakan ini, niscaya mereka merasa sangat iri kepada kita atas kebahagiaan hidup yang kita rasakan ini dan minimnya beban persoalan kehidupan kita. Bahkan, mereka tidak akan segan-segan untuk terus menyerang kita dengan pedang-pedang mereka demi untuk merebutnya.” 

Saya berkata, “Wahai Abu Ishaq, mereka mencari kenyamanan dan ketenteraman hidup, tetapi mereka salah jalan dan tidak mengetahui mana jalan lurus yang mesti mereka tempuh untuk mendapatkannya.” “Dari mana engkau mendapatkan kata-kata bijak seperti itu?” Kata Ibrahim bin Adham menimpali sambil tersenyum. Ibrahim bin Basyar Al-Khurasani melanjutkan ceritanya; Suatu malam, saya bersama Ibrahim bin Adham, di mana waktu itu kami tidak memiliki bekal makanan untuk berbuka puasa dan tidak tahu bagaimana caranya supaya bisa mendapatkan makanan. Kondisi tersebut membuat saya merasa susah dan gusar. Melihat saya sedih dan susah, Ibrahim bin Adham berkata, “Wahai Ibnu Basyar, tahukah engkau nikmat dan kenyamanan yang Allah berikan kepada orang-orang fakir miskin di dunia dan akhirat?! 

Pada hari kiamat, Allah tidak menanyai mereka perihal zakat, haji, sedekah, membantu kaum kerabat dan tidak pula keharusan membantu sesama. Akan tetapi, yang akan ditanyai perihal semua itu pada hari kiamat kelak adalah orang-orang miskin nan malang itu, yaitu orang-orang kaya ketika di dunia dan miskin ketika di akhirat, mulia di dunia dan hina di akhirat. Engkau tidak usah susah dan bersedih hati, karena rezeki Allah pasti dijamin dan akan mendatangimu. Kita ini, sungguh demi Allah, adalah para raja dan orang-orang kaya. Kita ini adalah orang-orang yang menyegerakan kenyamanan hidup ketika masih di dunia, tidak peduli bagaimana pun kondisi dan keadaan kita, selama kita taat kepada Allah.” 

Kemudian, Ibrahim bin Adham berdiri untuk melaksanakan shalat dan saya pun juga berdiri untuk shalat. Tidak lama setelah itu, tiba-tiba ada orang datang membawa delapan roti dan kurma dalam jumlah banyak. Lalu, orang itu meletakkannya di dekat kami sambil berkata, “Silakan makan, semoga Allah merahmati kalian.” “Makanlah wahai orang yang bersedih hati,” kata Ibrahim kepadaku setelah selesai shalat. Tidak lama kemudian, ada seorang peminta-minta datang dan meminta makanan. Lalu, Ibrahim mengambil tiga potong roti dan beberapa kurma, lantas memberikannya kepada si peminta. 

Dengan begitu, maka roti kami masih sisa lima. Lalu, Ibrahim memberiku tiga potong roti, sementara dia makan dua potong roti sisanya. Dia berkata, “Membantu sesama adalah salah satu akhlak orang mukmin.” Ibrahim bin Basyar kembali bercerita seperti berikut; Pada suatu hari, saya berkata kepada Ibrahim bin Adham, “Hari ini saya lalui dengan bekerja mengolah tanah.” Lantas, Ibrahim bin Adham berkata kepadaku, “Hai Ibnu Basyar, sesungguhnya engkau adalah orang yang mencari dan orang yang dicari. Engkau dicari oleh orang yang engkau pasti akan menemuinya dan engkau mencari sesuatu yang sebenarnya engkau telah dijamin mendapatkannya. Tampaknya, engkau seakan-akan telah diberitahu apa yang ghaib dan seakan-akan engkau telah dipindah dari keadaanmu semula. Wahai Ibnu Basyar, seolah-olah engkau tidak pernah melihat orang yang berusaha keras mendapatkan dunia, tapi dia tidak mendapatkannya, dan seakan-akan engkau tidak pernah melihat orang yang sedang kesulitan, tapi tetap mendapatkan rezeki.” “Apakah memang engkau sudah tidak punya apa-apa lagi?” Tanya Ibrahim bin Adham setelah itu.

“Saya masih punya uang satu daniq di tangan seorang penjual bahan makanan,” jawabku. “Saya sulit untuk memaklumi apa yang engkau lakukan itu. Engkau masih punya uang satu daniq, tapi engkau masih tetap mencari kerja,” kata Ibrahim. Ibrahim bin Basyar kembali bercerita; Pada suatu kesempatan, saya pergi bersama Ibrahim bin Adham ke Tripoli. Waktu itu, saya hanya memiliki bekal dua potong roti saja dan kami tidak memiliki apa pun selain hanya itu saja. Kemudian, ada seorang peminta-minta menghampiri kami dan meminta sedekah. “Berikan apa yang engkau punya kepadanya,” kata Ibrahim kepadaku. 

Akan tetapi, karena waktu itu saya hanya punya dua roti saja, maka sayapun agak ragu untuk memberikannya kepada si peminta tersebut. “Ada apa denganmu? Berikan roti itu kepadanya!,” kata Ibrahim kepadaku ketika melihat saya agak keberatan memberikan roti itu. Akhirnya, roti tersebut saya berikan kepada si peminta tersebut. Terus terang, waktu itu, saya diliputi rasa heran dan takjub dengan langkah Ibrahim. Dia berkata, “Wahai Abu Ishaq, esok engkau akan bertemu dengan seseorang yang sama sekali engkau belum pernah bertemu dengannya. Sesungguhnya, engkau kelak akan menemui apa yang engkau berikan, bukan apa yang engkau tinggalkan. Untuk itu, persiapkanlah segala sesuatunya, karena engkau tidak tahu, kapan kematian mendatangimu.”

Untaian kata-kata Ibrahim bin Adham itu membuat saya menangis dan membuat dunia begitu remeh di mataku. “Seperti itulah engkau seharusnya,” kata Ibrahim ketika melihat diriku menangis. Ibrahim bin Basyar kembali bercerita; Waktu itu, saya sedang melakukan sebuah perjalanan bersama Ibrahim bin Adham, Abu Yusuf Al-Ghasuli dan Abu Abdillah As-Sinjari. Di tengah perjalanan, kami melewati sebuah pemakamam. Lalu, Ibrahim beranjak mendekati sebuah makam, kemudian melatakkan tangan nya di makam itu seraya berucap, “Semoga Allah meramati engkau wahai Fulan.” Kemudian, Ibrahim bin Adham pindah ke makam yang lain dan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan di makam pertama, begitu seterusnya hingga tujuh makam.

Setelah itu, Ibrahim berdiri di antara makam-makam itu seraya berseru, “Wahai Fulan bin Fulan –dengan suara keras– kalian telah mati lebih dulu meninggalkan kami, dan kami pasti akan segera menyusul kalian.” Kemudian, Ibrahim menangis dan tenggelam dalam pikirannya. Beberapa saat setelah itu, Ibrahim lantas menghadap ke arah kami, sementara air mata bercucuran seperti butiran-butiran mutiara basah, seraya berucap, “Hai saudara-saudara sekalian, bergegaslah, bersungguh-sungguhlah dan beramallah kalian dengan giat dan tekun. Bersegeralah dan berlomba-lombalah kalian. Sesungguhnya, sandal yang mendahului atau kehilangan pasangannya, pasti akan segera menyusulnya.

------------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Penerbit Pustaka al-Kautsar, Cetakan Pertama hal. 181-184

Post a comment for "Kumpulan Nasihat Ibrahim bin Adham"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa