Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Kematian Oleh Ali bin Abi Thalib




Diceritakan dari Abdullah bin Shalih Al-Ijli, bahwa ada seorang laki laki dari Bani Syaiban menyampaikan kepadanya, bahwa Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah menyampaikan pidato seperti berikut; Segala puji hanya bagi Allah. Saya memanjatkan puji untuk-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, beriman kepada-Nya dan bertawakal kepada-Nya. Saya bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain hanya Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Allah mengutus beliau dengan membawa petunjuk dan agama yang hak untuk menyingkirkan penyakit kalian dan membangunkan kalian dari kelengahan dan kelalaian kalian.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kalian semua adalah orang-orang yang pasti akan mati, akan dibangkitkan setelah mati, dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatan kalian dan diberi ganjaran atas amal perbuatan itu. Maka, janganlah kalian sampai teperdaya dan tertipu oleh kehidupan dunia. Karena sesungguhnya dunia ini adalah negeri yang dikelilingi oleh bala`, negeri yang dikenal dengan kefanaan dan dideskripsikan sebagai negeri yang menipu. Segala sesuatu yang ada di dalamnya pasti berjalan menuju kepada kesirnaan. Kehidupan di dalamnya terus berputar dan silih berganti di antara para penghuninya. Tidak ada keadaan yang abadi di dalamnya. Tidak ada yang selamat dari keburukannya.

Di saat para penghuninya sedang menikmati kemakmuran dan kebahagiaan, tiba-tiba saja mereka sudah berada dalam bencana dan kesulitan. Keadaan yang terus berubah-ubah dan waktu yang terus berganti. Hidup di dalamnya tercela, kemakmuran di dalamnya tidak bertahan lama. 

Para penghuni dunia, di dalamnya mereka laksana seperti target sasaran. Dunia menembaki mereka dengan panah-panahnya dan meliputi mereka dengan sumber-sumber air panasnya. Tiap-tiap penghuni dunia, kematiannya sudah menjadi sebuah keniscayaan yang telah ditetapkan, dan masing-masing memiliki jatahnya sendiri yang sudah tersedia. Ketahuilah wahai para hamba Allah, bahwa sesungguhnya kalian berikut kesenangan dan bunga dunia yang kalian dapatkan, tidak beda dengan orang-orang yang telah lalu yang lebih panjang umurnya daripada kalian, lebih besar kekuatannya daripada kalian, lebih maju pembangunannya dan lebih jauh jejak-jejaknya. Lalu, suara mereka menjadi diam dan sunyi, tubuh-tubuh mereka hancur, rumah-rumah mereka kosong dan jejak-jejak mereka hilang terhapus. Mereka menukar istana-istana yang megah, dipan-dipan dan bantal-bantal yang tertata, dengan batu-batu yang disandarkan di kuburan, ditempelkan dan dibentuk liang lahad. 

Halamannya dibangun dengan kesunyian dan bangunannya dibangun dan dilepa dengan tanah. Tempatnya berdekatan, tapi penghuninya seperti orang asing yang kesepian di antara para penghuni lainnya yang tidak saling sapa dan sibuk sendiri-sendiri. Mereka tidak bisa merasa terhibur dan tetap kesepian, meskipun mereka tinggal di tempat yang banyak penghuninya. Mereka tidak bisa saling bersosialisasi seperti layaknya orang-orang yang hidup bertetangga dan bersaudara, meskipun mereka tinggal berdekatan satu sama lain. 

Bagaimana mereka bisa saling bersosialisasi, sementara mereka telah hancur remuk serta tertutup oleh batu dan tanah. Mereka menjadi orang orang mati dan benda yang hancur berkeping-keping setelah sebelumnya segar dan hidup. Orang-orang terkasih merasa sedih dan terpukul atas kepergian mereka. Mereka tinggal di dalam tanah dan mereka pergi tanpa kembali lagi. Tidak mungkin, tidak mungkin mereka akan kembali lagi. Allah berfirman, “Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (Al Mukminun: 100)

Kalian, sepertinya tidak lama lagi akan menjadi seperti mereka, yaitu mati, hancur dan remuk, tinggal seorang diri di negeri kematian, terpenjara di tempat pembaringan itu dan didekap oleh tempat penyimpanan tersebut. Maka, bagaimana keadaan kalian seandainya segalanya telah berakhir, kubur kubur dibongkar, apa-apa yang ada dalam dada ditampakkan dan kalian diberdirikan di hadapan Tuhan Yang Mahakuasa lagi Mahaagung untuk mempertanggungjawabkan semuanya?! Jantung-jantung seakan mau copot karena takut akan akibat dosa-dosa yang telah lalu. Tira-tirai penutup disibak dari kalian, lalu tersingkaplah semua aib, cela, dan rahasia. Di sana, tiap-tiap diri dibalasi atas apa yang pernah diperbuatnya dulu. Semoga Allah menjadikan kami dan kalian sebagai orang-orang yang mengamalkan Kitab-Nya dan mengikuti para kekasih-Nya, hingga akhirnya Dia menempatkan kami dan kalian di negeri kekekalan (surga), sesungguhnya Dia Maha Terpuji lagi Mahamulia. (Lihat; Az-Zuhd (203), Ihya` ‘Ulumiddin (2/402), dan Shifatu Ash-Shafwah (1/56).

-----------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Penerbit Pustaka al-Kautsar, Cetakan Pertama hal. 211-213

Post a comment for "Renungan Kematian Oleh Ali bin Abi Thalib"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa