Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sebuah Kisah Menarik dan Nasihat Yang Dalam




Diceritakan dari An-Nu’man bin Basyir, dia berkata; Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengutus sepuluh orang Arab ke Yaman, salah satunya adalah saya. Suatu hari, ketika sedang berjalan, kami lewat di sebelah sebuah kota kecil yang bangunannya menarik perhatian kami. Lalu, sebagian dari kami usul untuk mampir ke kota kecil tersebut. Lantas, kami pun berbelok arah menuju ke kota tersebut. 

Setelah masuk, kami mendapati kota tersebut memang sangat indah sekali. Baru kali ini saya melihat kota seindah kota tersebut. Kota tersebut laksana seperti hiasan lukisan. Di sana, kami juga melihat sebuah istana putih. Di halaman istana putih itu terlihat ramai oleh orang tua dan pemuda. Terlihat juga para gadis cantik nan montok membentuk lingkaran yang ditengahnya terdapat seorang gadis sangat cantik sedang memainkan rebana sambil bersenandung, “Hai pendengki, mafilah kamu karena memendam duka demikianlah adanya kami selama kami masih hidup Semoga yang mencemarkan nama kami karena dengki dijauhkan dari kami, dan kakeknya dulu adalah orang celaka” Di sana, kami juga melihat empang, banyak binatang ternak, unta, lembu, kuda dan anak-anak kuda. Di sana, kami juga melihat bangunan-bangunan rumah mewah berbentuk melingkar. Aku berkata, “Bagaimana kalau kita singgah sejenak di sini untuk menikmati pemandangan dan suasana yang ada?”

Saat kami sedang turun dari tunggangan kami dan meletakkan perbekalan, tiba-tiba terlihat sekelompok orang berjalan dari arah istana putih menuju ke arah kami sambil memanggul alas duduk. Kemudian, mereka membentangkan alas tersebut untuk kami dan menyuguhkan berbagai macam makanan dan minuman yang enak. Setelah itu, kami istirahat. Setelah istirahat, lantas kami siap-siap untuk melanjutkan perjalanan.

Lalu, mereka kembali mendatangi kami dan berkata; Kepala kota ini mengucapkan salam untuk kalian semua dan menyampaikan pesan, “Saya minta maaf jika ada yang kurang dalam menyambut dan menjamu kalian, karena saat ini saya sedang sibuk dengan acara pernikahan putri kami. Jika ingin, silakan kalian tinggal lebih lama lagi di sini.” 

Kami pun mendoakan mereka dan mendoakan keberkahan buat mereka. Kemudian, mereka mengambil sisa makanan yang ada dan memasukkannya ke dalam wadah perbekalan kami hingga penuh. Singkat cerita, kami menyelesaikan perjalanan tersebut dan kembali pulang lewat jalur lain.

Waktu berlalu, kemudian Muawiyah mengutus saya bersama sepuluh orang Arab lainnya. Di antara mereka, tidak ada satu pun yang ikut dalam rombongan delegasi pertama yang diutus oleh Abu Bakar dulu. Di tengah perjalanan, saat saya sedang menceritakan kepada mereka tentang pengalaman saya di kota kecil tersebut dan para penduduknya, ada salah satu dari mereka berkata, “Jika begitu, bukankah jalan yang sedang kita lalui ini menuju ke kota tersebut?”

Lalu, kami pun sampai di lokasi kota tersebut. Akan tetapi, semuanya sudah berubah. Tanahnya kasar dan kempal, banyak gundukan-gundukan. Bangunan bangunannya rusak dan hanya tinggal jejak-jejaknya saja. Empangnya kering kerontang tanpa menyisakan setetes air pun. Tempat binatang ternak sudah tidak ada lagi yang tersisa. Di saat kami sedang berdiri keheranan melihat apa yang ada, tiba-tiba dari arah istana putih terlihat ada sebuah sosok. “Coba pergi ke sana dan periksa, siapakah sosok itu,” kataku memberikan instruksi kepada salah satu pembantu kami. 

Tidak lama kemudian, pembantu kami itu sudah kembali dengan raut wajah ketakutan. “Ada apa di sana, kenapa engkau terlihat ketakutan seperti itu?” Tanyaku kepadanya. “Tadi saya menemui sosok itu. Ternyata, dia adalah seorang nenek yang buta dan dia membuatku takut,” jawabnya.

Ketika mendengar suara kehadiranku, si nenek itu berkata, “Demi Dia Yang telah menjadikan engkau sampai dengan selamat, tolong jagalah kedua matamu.” Lantas, saya berjalan masuk ke dalam lubang di sebuah bukit. “Silakan tanyakan apa yang ingin engkau tanyakan,” kata si nenek kemudian. “Wahai nenek tua yang masih tersisa, siapa engkau dan dari suku mana engkau?” Tanyaku kepadanya. Lalu, dia menjawab dengan suara yang agak kurang jelas; Saya ada adalah Umairah binti Daubal, putri dari pemimpin kota ini di masa lalu. Dia pun bersenandung, “Saya adalah putri dari orang yang suka menjamu tamu juga memberi tempat singgah dan mengasihi orang-orang yang datang berkunjung pada malam hari yang gelap Dari keluarga besar yang saat ini mereka sudah hancur Ayah mereka adalah Abul Jahhaf Daubal orang yang dermawan lagi suka berbuat baik” 

“Apa yang telah terjadi dengan ayahmu dan kaummu?” Tanyaku kepadanya. “Mereka telah dimusnahkan oleh waktu dan dipunahkan oleh malam dan siang, sementara saya adalah satu-satunya orang yang masih tersisa setelah mereka, seperti seekor anak burung di sangkar yang rapuh,” jawabnya.

Saya bertanya lagi; Apakah engkau masih ingat waktu itu, di mana kalian sedang mengadakan pesta pernikahan dengan para gadis yang membentuk lingkaran dan di tengahnya terdapat seorang gadis yang memainkan rebana sambil bersenandung, “Wahai para pendengki, mafilah kalian dengan memendam duka yang dalam?” 

“Demi Allah, sungguh saya masih ingat betul tahun, bulan dan harinya. Pengantin itu adalah saudara perempuanku, sementara saya adalah gadis yang memainkan rebana tersebut,” jawab si nenek sambil menarik nafas dalam dan bercucuran air mata. 

“Apakah engkau bersedia kami bawa pergi naik tunggangan kami dan kami beri makan dengan makanan keluarga kami?” Kataku kepadanya menawarkan bantuan.

Si nenek berkata, “Tidak usah, terlalu berat rasanya bagi diri ini meninggal kan tempat ini. Saya akan tetap bertahan di sini, hingga saya menyusul mereka ke alam sana.” “Lantas, dari mana engkau mendapatkan makan dan minum?” Tanyaku kepadanya. “Saya mengandalkan pemberian dari rombongan musafir yang kebetulan lewat di sini. Apa yang mereka berikan, sudah mencukupi bagiku, karena kebutuhan makanku hanya sedikit. Kendi ini penuh dengan air. Saya tidak tahu, entah siapa yang mengisinya. Apakah di antara kalian ada seorang perempuan?” Kata si nenek. “Tidak ada,” jawab kami. “Apakah kalian punya pakaian putih?” Tanya si nenek. “Ya, kami punya,” jawab kami. 

Lantas, kami memberikan dua helai pakaian putih yang masih baru kepada si nenek. “Tadi malam saya bermimpi menjadi pengantin dan berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain. Saya pikir, ini adalah hari di mana saya akan meninggal dunia. Oleh karena itu, tadi saya tanya apakah ada seorang perempuan di antara kalian, karena saya menginginkan seorang perempuan yang nantinya bisa mengurus jasadku,” kata si nenek.

Dia terus berbicara kepada kami, hingga tiba-tiba dia jatuh dan meregang nyawa sebentar, lalu meninggal dunia. Lalu, kami segera mendekati jasad si nenek, menshalatinya dan memakamkannya. Ketika menghadap kepada Muawiyah, saya menceritakan kejadian tersebut kepadanya. Mendengar cerita tersebut, Muawiyah menangis, kemudian berkata, “Seandainya saya jadi kalian, niscaya saya akan membawa si nenek tersebut. Akan tetapi, semuanya telah terjadi dan takdir berkehendak lain.”91 91 Lihat; Al-I’fibar wa A’qab As-Surur (24).

-------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Penerbit Pustaka al-Kautsar, Cetakan Pertama hal. 213-216

Post a comment for "Sebuah Kisah Menarik dan Nasihat Yang Dalam"

KISAH UNGGULAN
Kisah Serbuk Kayu Berubah Menjadi Gandum
KISAH UNGGULAN
Kisah Roti Yang Ia Sedekahkan Berubah Menjadi Manusia
KISAH UNGGULAN
Ia Mencungkil Matanya Karena Berbuat Dosa