Kisah Para Ulama Menghafalkan al-Quran


Menghafalkan al-Quran itu adalah perintah Allah. Nabi shallallalhu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jagalah (hafalkanlah) oleh kalian al-Quran ini, demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, karena sesungguhnya ia lebih mudah lepas dari hati seseorang daripada lepasnya unta dari ikatannya" (HR. Muslim, no. 791).

Barang siapa yang bisa melaksanakannya maka ia akan mendapatkan kemuliaan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali para penghafal al-Quran. Salah satu keutamaan dari penghafal al-Quran adalah ia menjadi keluarga Allah. Rasulullah bersabda;

“Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” beliau menjawab, “Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang istimewa-Nya.” (HR Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad). 

MaasyaAllah. Menghafal al-Quran adalah kemuliaan yang luar biasa. Allah akan menjadikan ia sebagai keluarga-Nya dan orang istimewa-Nya.

Akan tetapi, menghafal al-Quran itu tidak mudah. Kenapa menghafalkan al-Quran itu berat? Karena al-Quran adalah perkataan yang berat (qoulan tsaqila). Di dalam surat al-Muzzammil Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu" (QS. al-Muzzammil : 5).

Menghafalkan al-Quran membutuhkan usaha keras serta niat yang lurus. Berikut ini adalah kisah perjuangan para ulama dalam menghafalkan al-Quran. Kita akan melihat tentang perjuangan, keikhlasan dan keseriusan para ulama dalam menghafalkan al-Quran.

Kisah ini tertulis di dalam kitab Thabaqat asy-Syafi'iyah karya  Abdul Wahab As Subki. Salah seorang ulama yang bernama al-Kiya al-Harrasi, beliau berasal dari Madrasah Sarhanki di sebuah tempat, namanya Naisabur. al-Kiya al-Harrasi menuturkan kisah perjuangannya menghafalkan al-Quran, "Dahulu di Madrasah Sarhanki di Naisabur, di sana terdapat bangunan yang memiliki tujuh puluh anak tangga. Jika aku menghafalkan pelajaran (al-Quran), maka aku naik turun tangga. Setiap naik atau turun satu anak tangga maka saya mengulang-ulang pelajaran. Setiap satu anak tangga aku mengulang sebanyak tujuh kali".

MaasyaAllah. Jadi berapa banyak al-Kiya al-Harrasi mengulang-ulang menghafalkan al-Quran?
ya tinggal dikalikan saja, dia mengulang sebanyak 7 kali dalam setiap tangga, dan ternyata di sana terdapat 70 anak tangga. Berarti dia telah mengulang hafalannya sebanyak 490 kali. 

Bagaimanakah dengan kita yang cita-citanya adalah menjadi penghafal Quran? Sudah seberapa banyak kita menghafal dan mengulang-ulang hafalan?

Apa ibrah atau pelajaran dari kisah tersebut?

  1. Menghafal al-Quran membutuhkan keseriusan dan usaha keras.
  2. Tidak merasa bosan untuk senantiasa mengulang-ulang hafalan al-Quran hingga ia benar-benar menghafalnya tanpa membuka mushaf al-Quran
  3. Tuliskan di kolom komentar jika ada inspirasi lain dari kisah tersebut
Demikian semoga kisah tersebut bisa bermanfaat dan memotivasi kita para penghafal al-Quran. Semoga kita semuanya menjadi penghafal al-Quran sejati yang juga mengamalkan isinya. 
Amiinn...