Kisah Pentingnya Memuroja'ah Hafalan

Begitu mulianya para penghafal al-Quran. Ia mempunyai kedudukan yang khusus di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. Hal itu terlihat dari banyaknya keutamaan-keutamaan penghafal al-Quran. Diantaranya adalah hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Bacalah al-Quran karena ia sesungguhnya akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafa'at bagi sahabatnya (pembaca dan penghafalnya)" (HR. Muslim no. 804).

Kemuliaan dan kedudukan yang istimewa bagi para penghafal al-Quran, membuatnya tidak semua orang bisa mencapai derajat para hafidz (penghafal al-Quran). Karena untuk mencapainya memerlukan niat yang ikhlas karena Allah, tekad yang kuat, usaha keras, dan memerlukan kesabaran, karena menghafal al-Quran membutuhkan waktu yang cukup lumayan. Jika tidak sabar maka dia akan berhenti dijalan atau bahkan pustus asa.

Menghafal al-Quran itu tidak mudah, akan tetapi ada satu hal lagi yang lebih sulit lagi dari menghafal, yaitu menjaga hafalan atau muroja'ah. Karena ia harus senantiasa menjaga hafalannya sebanyak 30 juz yang kesemuanya itu menuntut untuk lupa jika tidak diulang. Apalagi al-Quran, kata Rasulullah hafalan al-Quran adalah susuatu hal yang sangat mudah lepas dari hati seseorang. Berikut kisahnya.

Suatu ketika sahabat Uqbah bin Amir al-Juhani sedang duduk-duduk di masjid nabawi sambil membaca al-Quran. Ia berada di masjid bersama dengan sahabatnya yang juga sedang membaca al-Quran, yaitu Abu Musa al-As'ari dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum ajma'in. Disaat yang bersamaan, tidak lama kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang dan masuk ke dalam masjid. 

Saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke dalam masjid, beliau mengucapkan salam kepada mereka, dan merekapun menjawab salam dari beliau. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat kondisi mereka yang sedang duduk-duduk dan membaca al-Quran, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba-tiba berteriak, memberikan nasihat kepada mereka dengan menyeru, 

تَعَاهَدُوا هَذَا الْقُرْآنَ ! فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنْ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا

"Jagalah oleh kalian al-Quran ini! Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya al-Quran itu lebih mudah lepas (dari hati seseorang) daripada lepasnya unta dari ikatannya" (HR. Muslim, no. 791).

Sahabat ibrahkisah.com yang dirahmati Allah, dari penggalan kisah diatas kita mendapatkan pelajaran tentang betapa pentingnya untuk menjaga hafalan dan memuroja'ah. Karena al-Quran itu sangat mudah lepas dari hati seseorang dari pada unta yang lepas dari ikatannya. Kita bayangkan saja, unta yang lepas dari ikatannya kira-kira bagaimana? pasti lari tunggang-langgang, lari dengan cepat sekali. Apalagi al-Quran kata Rasulullah lebih cepat hilangnya dari hati seseorang daripada unta yang lepas dari ikatannya.

Disisi lain jika kita perhatikan dari kisahnya seperti kurang pas, Rasulullah menasihati agar membaca, memurojaah dan menjaga hafalan kepada orang yang sedang membaca al-Quran. Kan lebih wajar lagi jika yang diingatkan oleh Rasulullah adalah orang yang sedang lalai, orang yang sedang tidak membaca dan tidak muroja'ah al-Quran. Hal ini tidak lain karena saking pentingnya al-Quran untuk di muroja'ah.

Jika kita perhatikan lebih dalam lagi, di hadits tersebut Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memakai kalimat ta'aahaduu, asal katanya adalah 'ahida - ya'hidu, artinya adalah menjaga, merawat dan memelihara. Jika berubah menjadi ta'aahaduu yang memakai wazan تفاعل, maka salah satu maknanya bertambah menjadi "saling". Jadi, ta'aahaduu artinya adalah "saling menjagalah kalian".

Artinya, kita membutuhkan orang lain untuk membantu menjaga hafalan kita, saling menjaga satu sama lain, saling setoran hafalan. Itu semua karena saking cepatnya hilangnya hafalan al-Quran. Kita menjaga sendiri saja tidak cukup. Sebagaimana tadi ada sahabat Uqbah bin amir al-Juhani, Abu Musa al-Asy’ari dan Ibnu Abbas, mereka masing-masing sedang membaca al-Quran di masjid akan tetapi diingatkan oleh Rasulullah untuk "saling" menjaga hafalan satu sama sama lain, saling setoran, dan seterusnya.

Demikian, sahabat ibrahkisah.com begitu mudahnya al-Quran lepas dari hati kita, maka menjadi sangat penting sekali bagi kita untuk senantiasa mengulang-ulang dan  memuroja'ah hafalan. Kita sudah mengulang-ulang dan muroja'ah hafalan dengan sungguh-sungguhpun itu belum cukup. Kita harus menyetorkannya kepada orang lain untuk membantu menjaga dan mengecek hafalan kita.