Kisah Akibat Tidak Mau Menolong Orang Lain

Menjadi Pribadi Yang Baik

Sahabat ibrahkisah.com yang dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala. Menjadi pribadi yang baik dan taat adalah sebuah keharusan bagi setiap individu. Ia harus senantiasa melaksanakan ibadahnya dengan baik, menjaga sholat lima waktu, sholat tahajjud, berpuasa, berangkat haji jika mampu, berkata jujur dan tidak berbohong, tidak meminum minuman yang memambukkan, menjauhkan dirinya dari perbuatan zina, tidak menggunjing orang lain, dan lain-lain.

Akan tetapi menjadi pribadi yang baik sendiri saja tidak cukup, tanpa memikirkan orang lain yang ada di sekitar kita. Selain kita menjadi baik secara pribadi (menjadi baik dalam hal-hal yang kaitannya hanya diri kita dengan Allah subhanahu wa ta'ala, seperti sholat, puasa, tidak meminum khamr) kita juga harus baik dengan hal-hal yang kaitannya dengan orang lain, seperti membantu orang lain. Karena pada diri kita ada hak orang lain yang harus kita tunaikan.

Apa akibatnya jika kita hanya baik sendiri/sholeh sendiri tanpa memperhatikan orang-orang yang ada di sekitar kita? Berikut ini adalah sebuah kisah yang terjadi pada masa Bani Israi. Kisah tentang sosok pribadi yang sangat sholeh, ia senantiasa menjaga hubungan ia dengan Allah subhanahu wa ta'ala dan ia juga selalu berkata jujur dan tidak pernah berkata bohong. Namun pada suatu ketika dia berbuat satu kesalahan yang kaitannya dengan orang lain. Lalu apa akibatnya? Bagaimana kelanjutan kisahnya, yuk kita simak bersama.

Kisah Akibat Enggan Menolong Orang Lain

Kisah ini diriwayatkan oleh Bisyir bin Abdillah bin Basyar. Kisah ini terjadi pada masa Bani Israil. Di masa itu ada seseorang pria yang sangat sholeh, ia senantiasa menjaga amal ibadahnya, berlaku baik terhadap istrinya, selalu berkata jujur tidak pernah berkata bohong. Seiring perjalanan waktu akhirnya ajalnya datang untuk menjemputnya.

Disaat kondisinya sedang sakit dan dalam keadaan sangat kritis menjelang ajalanya tiba, dia memandang kepada istrinya yang berada di sampingnya sedang menangis dan bersedih, lalu dia berkata kepadanya, "Wahai istriku, apakah engkau tidak ingin berpisah dengan ku dan engkau tidak ingin aku meninggalkanmu?". Istrinya menjawab, "ya, saya tidak mau berpisah dengan mu".

"Baiklah jika memang itu keinginanmu, buatkanlah peti mati untukku, kemudian jika saya sudah meninggal dunia maka masukkanlah jasadku ke dalamnya dan simpanlah peti mati itu di rumahmu ini. Ketahuilah karena jasadku ini tidak akan rusak dan tidak akan membusuk" tutur sang suami.

Tidak menunggu waktu, sang istripun langsung melaksanakan apa yang telah dikatakan oleh suaminya. Dia membuatkan peti mati untuk suaminya dan tidak lama kemudian suaminya pun meninggal dunia. Kemudian sang istri memasukkan jasadnya kedalam peti mati yang sudah disiapkan untuk suaminya tersebut. Dan benarlah apa yang dikatakan oleh suaminya bahwa jasad suaminya tidak rusak dan tidak membusuk

Namun, selang beberapa kemudian mulai terlihat tanda-tanda kerusakan pada salah satu telinga suaminya. Dan akhirnya salah satu telinga dari dari suaminya pun rusak dan membusuk. Lalu istrinya mengadu (kepada Allah) dengan mengatakan "(ya Allah), Suamiku selama ini tidak pernah berbohong kepadaku".

Lalu dengan izin Allah subhanahu wa ta'ala Ruh sang suami yang sudah meninggal tersebut mendengar perkataan istrinya, lalu dia meminta izin kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala supaya ruhnya dikembalikan lagi kepada jasadnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala kemudian mengabulkan permintaannya dan mengembalikan ruhnya kepada jasadnya.

Setelah ruhnya dikembalikan kepada jasadnya dan dia hidup kembali, kemudian dia berkata kepada istrinya, "Wahai istriku, apa yang telah engkau lihat dari telingaku yang telah rusak dan membusuk itu, adalah karena pada suatu hari saya telah mendengar suara orang yang sedang membutuhkan pertolongan, memanggil-manggil minta pertolongan, namun saya malah mengabaikannya dan tidak menolongnya. Hal itulah yang membuat telingaku yang satu ini rusak dan membusuk, karena dari arah telinga yang rusak ini lah aku mendengar suara orang itu.

Ibrah Kisah

Nah, sahabat ibrahkisah.com kira-kira apa ya ibrah atau pelajaran yang bisa kita ambil dari penggalan kisah tersebut? Ada beberapa hal yang bisa kita ambil ibrahnya dari penggalan kisah tersebut :

  1. Jangan menjadi sosok yang baik secara pribadi saja, baik antara hubungan dia dengan Allah subhanahu wa ta'ala saja, tanpa memperhatikan orang lain, tanpa memerhatikan tentangga, dan masa bodoh dengan orang-orang yang ada di sekeliling kita. Karena pada orang lain ada hak yang harus kita tunaikan. Misalnya saja dalam harta kita, ada hak orang lain yang musti kita tunaikan. Sebagimana Firman Allah subhanahu wa ta'ala :
    وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
    "Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)." (Al-Ma'arij: 24-25)
  2. Kita harus suka menolong orang lain, terlebih lagi kepada orang yang sedang membutuhkan pertolongan, bukan malah mengabaikannya.
  3. Keburukanlah yang akan menghancurkan kita, sebagaimana telinga yang hancur karena keburukan. Sebaliknya, kebaikanlah yang akan mengekalkan kita, sebagaimana jasad Para Nabi tidak akan hancur dimakan tanah, karena para nabi dipenuhi dengan kebaikan dan dijaga dari kesalahan (maksum).

Demikian sahabat ibrahkisah.com penggalan kisah tentang kisah orang yang enggan menolong, semoga kita bisa mengambil ibrahnya, jika ada inspirasi ibrah yang lain dari penggalan kisah tersebut bisa dituliskan di kolom komentar ya. Semoga bermanfaat.

Referensi: 500 Kisah Orang Sholeh, karya Ibnul Jauzi. Penerbit Pustaka al-Kautsar, Cetakan Pertama hal. 607