Kisah Akibat Tidak Sabar Dengan Penyakit

Setiap Yang Bernyawa Pasti Akan Diuji

Sahabat ibrahkisah.com yang dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala, sejatinya kehidupan dunia adalah tempat ujian bagi manusia. Setiap makhluk yang bernafas (hidup) pasti akan diuji oleh Allah subhanahu wa ta'ala, baik diuji dengan kebaikan maupun dengan keburukan. Sebagaimana Firman Allah subhanahu wa ta'ala, "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami". (QS. Al-Anbiya ayat 35).

Di dalam al-Quran surat al-Anbiya ayat 35 tersebut Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahwa manusia pasti akan diuji dengan dua hal, baik ujian berupa kebaikan maupun keburukan. Manusia akan diuji dengan kebaikan yang berupa kesehatan, kekayaan, jabatan, dan lain-lain. Begitu juga akan diuji dengan keburukan yang berupa penyakit, ketidakmampuan, kesedihan, dan lain-lain.

Dunia adalah tempat ujian, bagi siapa yang lulus ujian maka dia akan mendapatkan kemuliaan dan syurga. Sebaliknya, bagaimana jadinya jika di dalam ujian di dunia dia tidak lulus? bagaimana akibatnya? Nah, inilah kisah tentang salah seorang sahabat yang tidak sabar dengan ujian berupa penyakit. Bagaimana kisah dan akibatnya? yuk simak bersama.

Kisah Seseorang Yang Tidak Sabar Dengan Penyakit

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya, "Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim semuanya dari Sulaiman, Abu Bakar berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Hajjaj ash-Shawwaf dari Abu az-Zubair dari Jabir, mengatakan bahwa :

Pada suatu ketika sahabat ath-Thufail bin Amru ad-Dausi mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau bersedia untuk tinggal di sebuah benteng yang kokoh dan dapat melindungi? -- Benteng yang dimaksud adalah benteng milik orang-orang Daus semasa jahiliyiah--"

Akan tetapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menolak (tawaran dari sahabat ath-Thufail bin Amru ad-Dausi) karena lebih memilih apa yang telah Allah janjikan untuk orang-orang Anshar. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke kota Madinah, sahabat ath-Thufail bin Amru ad-Dausi ikut hijrah ke Madinah dengan disertai oleh seorang lelaki dari kaumnya. Akan tetapi, teman dari sahabat ath-Thufail bin Amr ad-Dausi tersebut tidak kuat dengan (iklim) Madinah dan akhirnya jatuh ia jatuh sakit. Namun ia tidak sabar, lalu ia mengambil gunting dan memotong jari-jemarinya hingga tangannya berlumuran dengan darah, dan bahkan akhirnya sampai ia meninggal dunia.

Selang beberapa waktu kemudian, ath-Thufail bin Amru ad-Dausi tidur dan bermimpi melihat laki-laki tersebut dalam kondisi yang sangat bagus, sementara ia menutupi kedua tangannya. Kemudian, ath-Thufail bin Amru bertanya kepadanya, "Apa yang telah Tuhanmu lakukan kepadamu?". Laki-laki itu menjawab, "Tuhanku mengampuniku karena hijrahku kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam".

Kemudian, ath-Thufail bin Amru bertanya lagi, "Akan tetapi, kenapa aku melihat mu menutupi kedua tangannmu?". Laki-laki itu lantas menjawab, "Telah dikatakan kepadaku bahwa, 'Kami tidak akan memperbaiki sesuatu apa yang telah kamu rusak'". Setelah ath-Thufail bin Amr ad-Dausi bangun dari mimpinya, kemudian ia menceritakan mimpinya itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau kemudian bersabda, "Ya Allah, ampunilah kedua tangannya".

Ibrah Kisah

Pelajaran Pertama, dari penggalan kisah di atas, kita jadi mengetahui tentang betapa mengerikannya dosa yang diakibatkan dari tidak bersabar atas penyakit yang diderita oleh seseorang, apalagi sampai putus asa (bunuh diri), maka dia telah mendzolimi dirinya sendiri, dia telah merusak apa yang sudah Allah anugerahkan kepadanya. Oleh karena perbuatannya itu Allah subhanahu wa ta'ala tidak mengampuni apa yang telah dia rusak sendiri.

Padahal, dari kisah tersebut kita mengetahui bahwasannya orang itu dalam keadaan yang sangat bagus, karena dia diampuni oleh Allah subhanahu wa ta'ala, kecuali tangannya yang telah dia rusak sendiri, dia potong sewaktu di dunia gara-gara tidak sabar dengan penyakit yang dideritanya, maka Allah tidak mengampuninya sehingga ia pun merasa malu dan menutup-nutupi tangannya. Wallahu a'lam.

Pelajaran Kedua, dunia adalah tempat ujian, yang nilainya akan kita ketahui nanti ketika di akhirat. Tentu kita semuanya mengharapkan nilai yang bagus atau menakjubkan. Dan yang disebutkan 'menakjubkan' oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hanya perkaranya orang mukmin. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

“Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Sesungguhnya, seluruh urusannya itu baik. Dan hal itu tidaklah didapati kecuali hanya pada seorang mukmin. Jika dia diberikan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka menjadi baik baginya. Jika dia diberikan kesusahan, maka dia bersabar. Maka menjadi baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Kunci kebaikan hanya ada pada dua hal, yaitu jika diberikan kesenangan (kebaikan) maka bersyukur dan sebaliknya, jika diberikan kesusahan (keburukan) maka dia bersabar. Jika sudah begitu maka mau diberikan model ujian seperti apapun maka hasilnya akan menjadi baik.

Referensi : Hadits riwayat Muslim no. 116