Kisah Cinta Martsad bin Abu Martsad

Cinta Adalah Fitrah

Mencintai lawan jenis adalah merupakan fitrah alami manusia. Karena Allah subhanahu wa ta'ala menciptakan manusia secara berpasang-pasangan. Ada yang laki-laki dan ada yang perempuan. Dan diantara mereka dijadikan kesukaan (syahwat) terhadap satu sama lain. Allah subhanahu wa ta'ala berfiman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ

"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik". (QS. Ali-Imran : 14).

Di dalam Surat Ali-Imran ayat 14 tersebut Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan tentang dijadikan pandangan yang indah (syahwat) terhadap apa yang diinginkan oleh manusia, salah satu satunya adalah perempuan. Ya, laki-laki memang seharusnya mencintai seorang perempuan bukan mencintai sesama lelaki. Na'udzubillah.

Jadi, saling mencintai antara lelaki dan perempuan adalah hal yang fitrah. Jika ada si fulan mencintai si fulanah, maka itu adalah hal positif yang harus kita dukung. Namun, permasalahannya adalah bagaimana jadinya jika diantara dua orang yang saling mencintai itu ada 'masalah'. Misalnya salah seorang dari mereka ada yang berbeda Agama. Bagaimana sikapnya seharusnya? Nah inilah kisah cinta Sahabat Murtsad bin Abu Murtsad dengan 'Inaq yang berbeda Agama

Biografi Martsad bin Abu Martsad al-Ghanawi

Martsad adalah salah seorang sahabat Nabi yang mulia. Begitupula dengan Ayahnya (Abu Martsad al-Ghanawi) juga merupakan salah seorang sahabat Nabi. Martsad wafat pada tahun ke-4 Hijriyah. Dia adalah sosok sahabat Nabi yang terkenal sangat kuat. Disaat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat hijrah ke Madinah, termasuk Martsad, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mempersaudarakannya dengan Aus bin Shamit. Aus bin Shamit adalah saudara kandung dari Ubadah bin Shamit. Sedangkan, Ubadah bin Shamit dipersaudarakan oleh Nabi dengan Ayahnya Martsad.

Di tahun ke-2 setelah hijrah ke Madinah, Martsad mengikuti peperangan pertama didalam islam bersama dengan dengan Nabi, yaitu perang Badar. Sampai tahun ke-3 Hijriyah dia juga sempat mengikuti perang Uhud. Akhirnya, setelah perang Uhud Nabi memerintahkan sahabat Martsad, dan mengirimnya ke Makkah dalam ekspedisi al-Rajhi. Martsad memimpin ekspedisi ini yang beranggotakan sepuluh orang sahabat. Dan dia terbunuh dalam ekspedisi ini yang terjadi di Bulan Safar, 4 H.

Kisah Cinta Martsad Dengan Inaq

Kisah cintanya disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi rahimahullahu ta'ala, beliau berkata, "Kami mendapatkan riwayat dari Abdu bin Humaid, dari Ruh bin Ubadah, dari Ubaidillah bin Al-Ahknas, dari Amr bin Syu'bah, dari ayahnya, dari kakeknya, ia bercerita :

Seorang laki-laki yang biasa dipanggil dengan Murtsad bin Abu Murtsad adalah seorang lelaki yang terkenal sangat kuat. Suatu hari ia membawa tawanan perang yang berasal dari Makkah untuk dia bawa menuju ke Madinah. Ketika posisinya Martsad masih berada di Makkah dan memang belum sempat keluar dari Makkah karena waktu sudah terlanjur larut malam. Lalu dia beristirahat dibawah sebuah tembok Makkah disaat bulan purnama.

Di sisi lain, tidak jauh dari tempat itu, ada seorang perempuan yang bernama Inaq, dia adalah seorang pelacur. Sebelum Martsad masuk Islam, ia pernah berzina dengan perempuan itu (Inaq). Akhirnya mereka saling mencintai satu sama lain. Semenjak hijrah ke madinah, Martsad dan Inaq tidak pernah bertemu lagi.

Nah, disaat Martsad sedang beristirahat di bawah sebuah tembok Makkah di saat bulan purnama. Tiba-tiba Inaq keluar. Martsad menceritakan "tiba-tiba inaq keluar dan melihat bayanganku di tembok. Ia menghampiriku sehingga dia bisa mengenali diriku". Ia bertanya, "bukankah engkau adalah Martsad?". "iya benar, saya Martsad" jawabku. Ia berkata, "Hai Martsad, selamat datang di tempat kami. Mari singgah di pondok kami dan bermalamlah di sana". Aku berkata, "Wahai Inaq, Allah subhanahu wa ta'ala telah melarangku untuk berzina". Tiba-tiba Inaq berteriak dengan keras, "Wahai penduduk Khiyam, inilah Martsad yang membawa tawanan kalian".

Lalu aku segera mendaki bukit Khandamah karena aku dikejar oleh delapan orang sehingga aku masuk ke dalam sebuah gua. Tiba-tiba mereka muncul dan berdiri tepat di atas kepalaku. Mereka mengencingi kepalaku, tetapi Allah subhanahu wa ta'ala menutupi mata mereka sehingga mereka tidak bisa melihat diriku.

Setelah mereka gagal mencariku, akhirnya delapan orang itu kembali pulang. Setelah itu aku kembali menuju ke tawananku kembali. Setelah melanjutkan perjalanan, akhirnya sampailah di sebuah tempat yang bernama al-Adzkhar aku lepasakan tali belenggu tawananku dan aku menggiring tawanannku sambil mengawasinya dari belakang, hingga akhirnya aku sampai di Madinah.

Sampai disini, rupanya cinta Martsad dengan si Inaq belum juga pudar, Martsad masih menginginkan perempuan yang bernama Inaq tersebut. Akhirnya sesampainya dia di Madinah dengan membawa tawanan. Martsad pergi menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan mengutarakan kepada beliau perihal cintanya kepada Inaq dan berkehendak untuk menikahinya.

Martsad berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah, saya ingin menikah dengan Inaq". Akan tetapi Rasulullah sahallallahu 'alaihi wa sallam terdiam dan tidak menjawabku. Maka, kemudian turunlah ayat al-Quran yang bekenaan dengan diriku :

اَلزَّانِيْ لَا يَنْكِحُ اِلَّا زَانِيَةً اَوْ مُشْرِكَةً ۖوَّالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَآ اِلَّا زَانٍ اَوْ مُشْرِكٌۚ وَحُرِّمَ ذٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ

"Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin." (QS. an-Nur : 3).

Setelah turun ayat tersebut, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hai Martsad, laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik. Jadi, kamu (wahai Martsad) jangan mengawini perempuan itu (si Inaq)".

Setelah Martsad mendengarkan ayat al-Quran dan mendengarkan jawaban dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Martsad pun mengurungkan niatnya untuk menikahi si Inaq. Padahal Martsad sangat mencintainyai dan menyukainya. Akan tetapi bagi dia Allah dan Rasulnya lebih utama dari apa yang menjadi keinginannya (menikahi si inaq).

Ibrah Kisah

Diantara ibrah yang bisa kita ambil adalah bahwa orang yang beriman tidak boleh menikah dengan wanita pezina atau musyrik. Walaupun dia setengah mati mencintainya. Karena dalam hal ini Allah dan Rasul-Nya langsung yang melarangnya. Sebagaimana sikap yang telah dicontohkan oleh sahabat mulia Martsad bin Abi Martsad radhiyallhu 'anhum. Dia rela mengorbankan cintanya demi Allah dan Rasul-Nya. Semoga bermanfaat.

Referensi: Kisah Karamah Para Wali Allah. Karya Abul Fida Abdurraqib bin Ali al-Ibi. Halaman 254-256. Cetakan 1, Darul Falah, Jakarta 2006.