Kisah Tentang Pentingnya Adab

Adab sangat penting kedudukannya bagi seseorang. Apalagi bagi seorang penuntut ilmu. Karena Adab itu sendiri menurut Abdullah bin Mubarak adalah dua pertiga dari ilmu. Dan dengan adab adalah merupakan kunci utama untuk mendapatkan ilmu. Yusuf bin al-Husain berkata, "Dengan adab akan mempermudah memahami ilmu". Imam Malik juga pernah mengatakan kepada santrinya, "Pelajarilah oleh kalian Adab sebelum kalian mempelajari ilmu".

Potret seperti inilah yang telah dipahami oleh para salaf, potret generasi keemasan Islam. Mereka mendahulukan adab sebelum ilmu. Berikut ini adalah sebuah kisah dimana adab menjadi perioritas bagi para penuntut ilmu.

Kisah ini tertulis di dalam kitab Tarikh Baghdad karyanya Khatib al-Baghdadi. Pada kitab tersebut diceritakan bahwa Khalifah al-Makmun menitipkan kedua puteranya kepada al-Farra' untuk diajarkan tentang ilmu nahwu.

Pada suatu ketika, ketika sedang prosesi belajar mengajar, tiba-tiba sang guru (al-Farra) berdiri dari tempat duduknya untuk menunaikan sebuah hajat. Melihat hal itu kedua putera khalifah al-Makmun berebut sandalnya sang guru untuk diberikan kepada gurunya. Hampir saja mereka berdua bertengkar karena ingin menyiapkan sandal yang hendak dipakai oleh gurunya (al-Farra). Namun pada akhirnya mereka berdamai dan menyuruh salah satunya untuk memberikan sandal tersebut kepada al-Farra.

Kebetulan, khalifah al-Makmun mempunyai pengawas yang senantiasa mengawasi anak-anaknya. Melihat kejadian tersebut pengawas putera khalifah itu kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada khalifah al-Makmun. Setelah mendengarkan ceritanya kemudian khalifah al-Makmun mengutus seseorang untuk memanggil al-Farra'

Setelah al-Farra menghadap kepada khalifah, khalifah al-Makmun kemudian bertanya kepada al-Farra, "Siapakah orang yang paling mulia?". al-Farra menjawab, "Tidak ada seseorang yang paling mulia yang aku ketahui kecuali amirul mukminin". al-Makmun menjawab, "iya betul. Akan tetapi siapakah orang yang ketika hendak berdiri dari tempat duduknya sehingga membuat dua putera khalifah berebut sandalnya karena ingin menyerahkan sandal kepadanya?"

Al-Farra menjawab, "wahai amirul mukminin, sungguh hamba sebetulnya ingin mencegah keduanya dari melakukan hal demikian. Akan tetapi hamba takut dikatakan sebagai orang yang menghalang-halangi dari perbuatan baik. Di sisi lain, saya juga khawatir membuat kecewa kedua putera anda karena perbuatan baiknya tidak terpenuhi. Saya pernah mendengar sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa ibnu Abbas pernah memegang tali kekang kuda Hasan dan Husein ketika hendak pamit pulang. Lalu ada sebagian orang yang melihat kejadian itu dan orang itu berkata kepada Ibnu Abbas, 'Wahai Ibnu Abbas mengapa engkau memegang tali kekang kuda pemuda itu, bukankah usia Anda lebih tua dari pada mereka?'. Ibnu Abbas menjawab, 'Diamlah kamu wahai orang yang bodoh. Tidaklah seseorang diperlakukan dengan mulia kecuali karena orang itu memiliki kemuliaan'".

Mendengar penuturan al-Farra, khalifah al-Makmun kemudian berkata kepadanya. "Jika engkau mencegah perbuatan kedua puteraku justru aku akan mencercamu dan menganggap engkau telah melakukan suatu kesalahan. Tidaklah seseorang itu dianggap mulia kecuali karena tiga hal. Pertama, karena tawadhu'nya kepada penguasa. Kedua, karena tawadhu'nya kepada orangtuanya. Ketiga, karena tawadhu'nya kepada Gurunya yang telah mengajarinya ilmu. Baiklah karena karena kedua puteraku telah melakukan perbuatan mulia berbakti kepadamu maka aku akan memberikan hadiah kepada mereka berdua 20.000 dinar. Sedangkan kepada engkau aku juga berikan hadiah 10.000 dinar atas keberhasilanmu mendidik kedua puteraku".

Pelajaran kisah

Pertama, pelajarilah adab sebelum ilmu. Sebagaimana nasihat para ulama yang sudah saya sebutkan dibagian awal. Kedua, berikanlah penghargaan atau hadiah kepada anak-anak kita yang telah melakukan perbuatan baik sebagai bentuk penghargaan dan motivasi kepada mereka dan juga berikanlah hadiah guru yang telah mengajarkan anak-anak kita kebaikan, sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada Ahli ilmu.

referensi: 155 Kisah Langka Para Salaf, karya Ibnu Abdil Bari el-'Afifi. Halaman 134-136