Kisah Seseorang Yang Menyamar Menjadi Pengemis Demi Mendapatkan Ilmu

menyamar menjadi pengemis demi mendapatkan ilmu

Selalu ada saja cara para ulama dalam menuntut ilmu. Mereka mau melakukan apa saja demi mendapatkan ilmu. Seperti yang telah dilakukan oleh seseorang yang bernama Baqi Abdurrahman bin Ahmad. Dia rela (menyamar) menjadi pengemis demi mendapatkan ilmu. Dia rela datang jauh-jauh dari Negeri Andalusia menuju Baghdad, sesampainya di Baghdad dia harus menyamar menjadi pengemis agar dia bisa mendapatkan 1 hadits dari Imam Ahmad bin Hambal.

Kisah ini terdapat di dalam kitab Siyaru A'lamin Nubala (13/292-294), karya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah.

Baqi Abdurrahman bin Ahmad bercerita bahwa, "Suatu waktu saya pernah melakukan rihlah (perjalanan menuntut ilmu) dari Andalusia menuju ke kota Baghdad. Tujuan utama saya adalah supaya bisa bertemu dengan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah.

Baqi Abdurrahman bin Ahmad melanjutkan kisahnya, "Ketika saya sudah mendekati kota Baghdad, saya baru mendapatkan berita bahwa imam Ahmad bin Hambal sedang ditimpa ujian. Dan aku juga mendapatkan berita bahwa beliau di cekal dari majelis ilmu, dilarang menyampaikan ilmu atau membuka majelis ilmu. Mendengarkan kabar tersebut saya menjadi sangat sedih.

Setelah saya sampai di Baghdad, saya kemudian menyewa sebuah rumah. Setelah itu saya pergi menuju masjid dan duduk-duduk disana bersama dengan para jamaah yang lain. Di masjid tersebut saya melihat sebuah majelis ilmu. Lalu aku mendekati majelis tersebut. Di majelis itu terdapat seorang lelaki yang sedang menyampaikan ilmu. Lalu aku mendapatkan informasi bahwa yang sedang menyampaikan ilmu tersebut adalah seorang ulama yang bernama Yahya bin Ma'in rahimahullah.

Lalu saya mencari temapt yang kosong dan saya ikut kedalama majelisnya, kemudian saya mengambil posisi maju di bagian depan. Setelah posisi saya dekat dengan Yahya bin Ma'in, saya bertanya kepadanya, "Wahai Abu Zakariya, semoga Allah merahmatimu, saya ini orang yang jauh dari tanah kelahiranku (dari Andalusia), yang ingin bertanya kepada tuan, maka janganlah tuan menyia-nyiakan harapanku".

Yahya bin Ma'in pun menjawab, "Baiklah, silahkan bertanya. InsyaAllah saya akan jawab". Lalu saya bertanya meminta pendapatnya tentang beberapa sosok orang yang pernah saya temui. Diantara meraka ada yang dia nilai baik dan ada yang dia nilai cacat/buruk. Lalu aku bertanya tentang Hisyam bin Ammar, maka Yahya bin Ma'in menjawab, "Dia adalah Abul walid, pemilik majelis di Kota Damaskus. Dia adalah seseorang yang tsiqoh, bahkan lebih dari tsiqoh (yakni amanah dan kuat hafalannya). Kalaulah seandainya dia sedikit sombong, maka hal itu tidak akan menjadikannya cacat karena kebaikan dan keutamaan yang dimilikinya".

Sejumlah orang yang hadir di majelis Yahya bin Ma'in berkata dengan suara lantang kepada saya, "Wahai tuan, sudah cukup pertanyaanmu! semoga Allah merahmatimu, kami juga ingin bertanya!".

Kemudian sembari berdiri saya bertanya kembali kepada Yahya bin Ma'in, "Wahai Abu Zakariya, tolong ceritakan kepadaku tentang seorang lelaki yang bernama Ahmad bin Hambal". Mendengar pertanyaanku, Yahya bin Ma'in menatapku dengan pandangan yang heran dan berkata, "Bagaimana kami berani menilai Ahmad bin Hambal?! Beliau adalah Imamnya kaum muslimin, orang yang terbaik dan paling utama!".

Setelah itu, saya pun keluar dan meninggalkan majelisnya Yahya bin Ma'in dan mencari petunjuk tentang rumah Imam Ahmad bin Hambal. Setelah saya mendapatkan informasi yang cukup tentang rumah Imam Ahmad bin Hambal, maka saya pun bergegas menuju ke sana dan mengetuk pintu rumahnya.

Tidak lama, beliau pun keluar dari dalam rumahnya dan menemuiku. Kemudian aku berkata kepadanya, "Wahai Abu Abdillah, aku adalah orang yang jauh dari tanah kelahiranku, aku adalah orang yang asing, ini adalah kali pertamaku datang ke sini, aku adalah seorang penuntut ilmu yang tidak lain dan bukan adalah ingin belajar hadits kepada engkau".

Beliau pun berkata, "Baik, cepat masuklah! Jangan sampai ada orang lain yang mengetahui dan melihatmu!". Aku pun masuk ke rumahnya dan beliau bertanya kepadaku, "Dari mana asalmu wahai pemuda?". Aku menjawab, "Saya berasal dari Maghrib al-Aqsha". Imam Ahmad menimpali, "Dari Afrika?". Aku menjawab, "Lebih jauh lagi dari pada Afrika, untuk pergi dari negeriku hingga ke Afrika, aku harus mengarungi lautan, negeriku adalah Andalusia".

Imam Ahmad bin Hambal berkata, "Sungguh jauh negeri asalmu! Ketahuilah tidak ada yang membuatku lebih berbahagia selain aku membantu orang-orang sepertimu ini. Hanyasaja, aku sedang ditimpa dengan musibah tidak boleh membuka majelis ilmu. Barangkali engkau sudah mengetahui tentang informasi ini".

Lantas, aku pun menjawab, "Benar, wahai Abu Abdillah. Saya telah mengetahui informasi tentang musibah yang sedang menimpa engkau. Akan tetapi wahai Abu Abdillah, saya ini adalah orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki saya di negeri ini, saya adalah orang asing di sini. Jika tuan mengizinkan saya, maka saya setiap hari saya akan datang kesini dan memakai baju pengemis, saya akan menyamar menjadi pengemis. Ketika saya sudah sampai di rumah tuan, maka saya akan mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh para pengemis. Lalu taun keluar ke tempat tersebut. Seandainya taun menyampaikan satu hadits saja, itu sudah cukup bagi saya".

Imam Ahmad bin Hambal menjawab, "baiklah, boleh saja, asalkan engkau benar-benar menjaga identitasmu, jangan sampai ada orang lain yang mengetahui perihalmu yang sedang menuntut ilmu kepadaku, jangan sampai pula para Muhaddits (ahli hadits) mengetahui perihalmu ini". Saya pun menyanggupi persayaratan yang diutarakan oleh Imam Ahmad bin Hambal.

Keesokan harinya, saya pun mulai menyamar menjadi seorang pengemis, setiap harinya saya datang kerumahnya dengan membawa tongkat dan memakai baju serta penutup kepala yang kotor dan sobek-sobek. Saya pun berdiri di depan pintu rumah Imam Ahmad bin Hambal dan berteriak, "wahai tuan, semoga Allah merahmatimu, saya belum makan 3 hari, berilah saya sesuatu tuan".

Setelah itu beliau keluar menemuiku dan mengajakku masuk kerumah dan menutup pintu. Beliau kemudian menyampaikan satu atau dua hadits kepadaku. Setelah itu akupun pergi dan pulang ke rumah. Kegiatan seperti itu aku terus lakukan sampai orang yang menghukum (mencekal beliau dari membuka majelisnya) itu meninggal dunia dan digantikan dengan orang lain yang bermadzhab Ahlussunnah wal jama'ah

Alhamdulillah, akhirnya imam Ahmad bin Hambal pun dibebaskan kembali, beliau diizinkan untuk membuka majelisnya kembali. Setelah majelisnya dibuka, beliau menceritakan tentang kesabarannku dalam menuntut ilmu. Jika aku datang ke majelisnya, beliau pun memberikan tempat khusus untukku, dan mengkisahkan kisahku kepada para penuntut ilmu yang lain.

Pelajaran Kisah

Pertama, menuntut ilmu itu memerlukan pengorbanan. Baik harta maupun tenaga dan bahkan tanda kutip 'harga diri'. Baqi Abdurrahman bin Ahmad jauh-jauh datang dari Andalusia menuju ke Baghdad pasti membutuhkan tenaga dan perbekalan yang tidak sedikit. Sesampainya disana pun dia tidak langsung dapat menuntut ilmu, akan tetapi dia harus 'menurunkan' harga dirinya demi mendapatkan ilmu.

Kedua, adab penuntut ilmu, bahwa ilmu itu harus didatangi bukan mendatangi. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Baqi Abdurrahman bin Ahmad, dia mendatangi ahli ilmunya (imam Ahmad bin Hambal) yang berada di kota Baghdad.

Ketiga, menuntut ilmu itu menuntut kita untuk mencurahkan segala potensi dan kemampuan yang kita miliki agar bisa mendapatkan ilmu. Ingat pesan Yusuf bin al-Husain, beliau berkata, "Tidaklah ilmu itu bisa didapat dengan jiwa yang santai".

referensi: 155 Kisah Langka Para Salaf, karya Ibnu Abdil Bari el-'Afifi. Halaman 145-148