Kisah Batu Terbang Membawa Baju Nabi Musa

Kisah Batu Terbang Membawa Baju Nabi Musa

Umumnya batu adalah benda mati, tidak bisa bergerak, dan tidak bernyawa. Jika benda mati seperti batu yang tabiatnya adalah diam menjadi bisa bergerak apalagi bisa terbang dan lari, maka ini adalah sebuah kejadian yang luar biasa, kejadian diluar akal dan nalar manusia, dan pasti dibalik kejadian yang menakjubkan ini ada sesuatu hal yang menakjubkan pula yang mendasari terjadinya kejadian ini yang penting untuk kita perhatikan.

Kisah ini adalah sebuah kejadian yang nyata, betul-betul pernah terjadi, bukan hanya sekedar cerita atau dongeng. Ini adalh kisah yang nyata dan shohih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Ada banyak versi riwayat tentang kisah ini yang satu sama lain saling menguatkan. Ringkasan kisahnya adalah sebagai berikut.

Kisah ini bermula dari kebiasaan Nabi Musa 'alaihissalam yang senantiasa menyendiri saat mandi. Sedangkan, kebiasaan manusia saat itu jika mandi mereka biasa bareng-bareng dan satu sama lain bisa saling melihat. Hal ini memang belum ada larangan di dalam syariatnya Nabi Musa 'alaihissalam.

Karena kebiasaan Nabi Musa 'alaihissalam inilah yang suka menyendiri ketika mandi yang menyebabkan sebagian orang-orang Bani Israil ada yang berprasangka buruk. Mereka menganggap bahwa Nabi Musa 'alaihissalam senantiasa menyendiri ketika mandi adalah karena adanya penyakit yang bersarang di tubuhnya atau di kulitnya sehingga Nabi Musa malu untuk mandi bersama.

Ini adalah tuduhan yang dialamatkan kepada Nabi Musa. Mereka mengatakan bahwa "Tidak lain, Musa menyendiri itu dikarenakan adanya cacat ditubuhnya, boleh jadi kedua pelirnya yang besar, atau penyakit kulit (sopak) yang menjijikkan, atau penyakit lain yang tidak ingin diketahui oleh orang lain".

Jelas ini adalah tuduhan yang tidak dibenarkan dan tidak berdasar. Karena Nabi Musa 'alaihissalam menyendiri ketika mandi adalah karena saking besarnya rasa malunya. Bahkan di dalam riwayat bukhari disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Nabi Musa adalah seorang lelaki yang sangat pemalu lagi menutup diri. Kulitnya tidak pernah terlihat sedikit pun karena rasa malunya".

Sejatinya Allah subhanahu wa ta'ala ingin membebaskan Musa dari segala macam tuduhan itu. Suatu ketika Nabi Musa hendak menyendiri untuk mandi seperti biasanya. Lalu Musa 'alaihissalam meletakkan bajunya di atas batu. Tidak lama kemudian, selesai mandi Musa pun segera meraih bajunya yang ada di atas batu. Namun, alangkah terkejutnya Musa ketika batu itu malahan terbang dan membawa bajunya.

Batu adalah benda mati, tabiatnya diam, tidak bernyawa dan bergerak, apalagi terbang, tentu Allah yang bisa membuatnya terbang dengan cara yang tidak bisa dinalar oleh manusia. Hal ini tentu ada hikmah yang diinginkan oleh-Nya yaitu membebaskan Musa 'alaihissalam dari tuduhan Bani Israil.

Nabi Musa pun segera mengambil tongkatnya dan berlari mengejar batu itu sembari memanggil-manggil, "bajuku wahai batu... bajuku wahai batu...". Ini adalah kejadian yang unik. Nabi Musa adalah seorang nabi yang mulia, pemalu lagi terhormat, mengejar-ngejar batu yang terbang membawa bajunya dalam keadaan telanjang.

Hingga akhirnya, sampailah batu itu di hadapan kaum Bani Israil. Mereka pun melihat Musa 'alaihissalam dengan rupa yang terbaik, fisik yang sehat lagi sempurna, tanpa cacat. Runtuhlah tuduhan dan kedustaan mereka yang selama ini mereka alamatkan kepada Musa.

Batu itu berhenti, Nabi Musa pun segera mengambil bajunya dan memakainya. Musa kemudian mengambil tongkatnya dan memukul batu itu sebanyak enam atau tujuh pukulan. Musa memukulnya seperti pukulan orang yang mendidik. Musa menyadari bahwa yang dipukulnya adalah benda batu. Akan tetapi karena batu telah melakukan hal yang tidak dilakukan oleh batu, maka Musa pun memperlakukannya dengan hal yang tidak dilakukan kepada batu.

Dan yang menakjubkannya lagi adalah bahwa pukulan tongkat Musa membekas di batu itu. Abu Hurairah mengatakan bahwa, "Demi Allah! pukulan tongkat Musa membekas di batu itu sebanyak enam atau tujuh pukulan". Hal ini adalah tidak lazim. Umumnya tongkat kayu jika dipukulkan terhadap batu maka tongkatnya yang akan kalah, pecah atau patah. Akan tetapi karena tongkat Musa bukan tongkat biasa dan mempunyai keistimewaan.

Kejadian spektakuler ini Allah abadikan dan isyaratkan dalam al-Quran surah al-Ahzab ayat 69. Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu seperti orang-orang yang menyakiti Musa 'alaihissalam, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan. Dan dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah".

Pelajaran Kisah

Kaum laki-laki Bani Israil diperbolehkan mandi dengan telanjang. Akan tetapi hal ini sudah tidak berlaku lagi bagi kita, karena hal itu telah dinasakh dalam syariat islam, alias haram bagi kita. Kita diwajibkan untuk menutup aurat.

Pentingnya bagi kita untuk mempunyai rasa malu. Malu adalah sebagian dari Iman. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, فَإِنَّ الحَيَاءَ مِنَ الإِيْمَانِ (Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman). Di dalam riwayat HR Bukhari dan Muslim Nabi bersabda, “Rasa malu itu tidak pernah mendatangkan (sesuatu) kecuali kebaikan”. Maka sudah selayaknya bagi kita seorang yang muslim untuk memiliki rasa malu.

Jika seseorang itu terhormat pasti dia memiliki rasa malu. Sebagaimana Nabi Musa 'alaihissalam yang sangat merasa malu sampai-sampai kulitnya tidak pernah kelihatan karena rasa malunya, Allah katakan dalam QS. al-Ahzab ayat 69 sebagai orang terhormat, "Dan dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah". Jadi jika ingin jadi orang yang terhormat maka harus punya rasa "MALU". semoga bermanfaat.

Referensi : Shahih Bukhari dalam kitab Ahadisil Anbiya', 6/436 no. 3404. Riwayat kedua oleh Bukhari dalam Kitabul Ghusli, bab orang mandi telanjang 1/385, no. 278

Ahmad Sibyan

Hai, saya adalah penulis di website ibrahkisah.com. Tempat tinggal saya saat ini berada di Bekasi. Pekerjaan saya sehari-hari adalah menulis dan mengajar sebagai guru di sekolah.

Post a Comment

Previous Post Next Post

نموذج الاتصال