Kisah Berbuat Kebaikan Di Setiap Kesempatan

Berbuat Kebaikan Di Setiap Kesempatan

Berbuat kebaikan tidak harus selalu dikaitkan dengan waktu tertentu. Sebagai contoh misalnya memperbanyak bersedekah di saat bulan Ramadhan. Tidak ada yang salah dengan hal ini. Karena memang ada anjuran untuk memperbanyak berbuat kebaikan di bulan suci itu. Akan tetapi, apakah kita hanya berbuat baik (bersedekah) di saat bulan Ramadhan saja dan tidak tidak memperbanyak bersedekah di bulan selainnya?

Alangkah akan lebih baik jika kita senantiasa berbuat baik kapan pun dan di mana pun. Senantiasa memperbanyak amal kebaikan di setiap saat dan di setiap tempat. Inilah potret kisah seseorang yang senantiasa mengisi hari-harinya dengan keabaikan. Ia tidak melewatkan sedikitpun dari waktunya dengan sia-sia tanpa ada sebuah amal walupun itu dianggap sepele.

Kisah ini berkaitan dengan salah seorang Bani Israil yang senantiasa melakukan kebaikan di waktu senggang saat melakukan perjalanan. Kisah ini kami nukilkan dari buku as-Haabu ar-Rasuul, karya Mahmud Mishri, halaman 138. Kisahnya adalah sebagai berikut :

Pada masa sebelum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam lahir, tepatnya pada masa Bani Israil, ada seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil yang sangat gemar berbuat kebaikan di setiap waktu dan di setiap kesempatan. Suatu waktu, laki-laki Bani Israil ini hendak melakukan perjalanan yang cukup jauh.

Ketia ia sedang berada dalam perjalanan, dan waktunya sedikit senggang di atas kendaraannya, maka dia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, ia segera gunakan waktu luangnya dengan berbuat kebaikan. Maka diambillah olehnya sekantong wadah yang berisi biji-bijian. Ia gunakan tangan kanan dan juga tangan kirinya untuk melemparkan biji-bijian tersebut. Ia sebarkan biji-bijian itu di sepanjang jalan padang pasir yang kering kerontang, ia tebarkan biji-bijian di sepanjang jalan yang dilaluinya hingga tiba di negeri yang dimaksud.

Setelah sampai di negeri tersebut, Ia pun menetap dan tinggal di negeri itu selama kurang lebih sepuluh tahun, sampai muncul kerinduan baginya untuk pulang ke kampung halamannya.

Setelah tekadnya bulan dan keinginan selalu mencuat untuk pulang ke kampung halamannya, akhirnya dia pun tidak kuasa menahan kerindungan dengan kampung halamannya. Lalu diambillah segera kendaraannya dan ia pun bersiap untuk kepulangan ke kampungnya dahulu.

Ternyata lelaki Bani Israil ini pulang ke kampung halamannya melalui jalan yang dahulu pernah dilewati olehnya. Dan dia pun merasa heran dan takjub ketika di pertengahan jalan ia melihat perubahan yang luar biasa pada jalan yang pernah dilalui olehnya. Dia merasa heran dan takjub karena dia mendapati padang pasir tandus dan kering kerontang yang dulu pernah dilewatinya 10 tahun yang lalu kini telah dipenuhi dengan pepohonan, buah-buahan, dan bunga-bungaan.

Laki-laki Bani Israil itu pun kemudian menanyakan hal ini kepada orang yang berada di sekitar area tersebut. Mereka (penduduk daerah itu) memberi tahu: "Kami ingat, sepuluh tahun lalu ada seorang laki-laki yang penuh dengan keberkahan melempari biji-bijian, dan tumbuhlah pepohonan serta tanaman dari biji-bijian itu atas izin Allah."

Tanpa disadarinya, bahwa dia adalah orang yang menaburkan biji-bijian (bibit tanaman) tersebut. MaasyaAllah!

Mutiara Kisah

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah tersebut adalah bahwa berbuat baik itu di mana pun dan kapan pun. Berbuat kebaikan tidak harus menunggu waktu ini dan tempat itu, tapi segera lakukan kebaikan di mana pun dan kapan pun.

Hikmah yang lainnya yang bisa kita petik dari penggalan kisah lelaki Bani Israil di atas adalah "terus berbuat baiklah walaupun itu kita anggap sepele, karena setiap amal seberat biji dzarrah pun Allah akan balas dengan kebaikan". Sebagaimana kisah lelaki tadi, amal kebaikan yang sederhana, akan tetapi akibatnya luar biasa. Bayangkan saja berapa banyak pahala yang ia dapatkan dari kebaikan pepohonan dan bunga-bunga tersebut? Karena di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa setiap buah yang tumbuh akan menjadi pahala bagi orang yang menanamnya.

MaasyaAllah! Tulis kan ibrah, hikmah dan pelajaran lainnya dari kisah tersebut di kolom komentar ya! Jangan lupa share di media sosial sebanyak-banyaknya agar semakin banyak orang yang berbuat baik. Ini juga hal sepele (share) tapi InsyaAllah balasan dan pahalanya akan luar biasa istimewa. Aamiin.

-----------------------------------------
referensi : as-Haabu ar-Rasuul, karya Mahmud Mishri, halaman 138

Ahmad Sibyan

Hai, saya adalah penulis di website ibrahkisah.com. Tempat tinggal saya saat ini berada di Bekasi. Pekerjaan saya sehari-hari adalah menulis dan mengajar sebagai guru di sekolah.

Post a Comment

Previous Post Next Post

نموذج الاتصال